Some men would fake their entire personality, ideology, and views jut to get pussy. Wbk.
Kalo ketemu yg cantik sesuai selera, mereka bakal malsuin kepribadian, pura² setuju. Atau ada yg bisa kontra dengan cara nanya² kenapa jadi feminis terus bilang ingin "membimbing"
"Kalo tau bakal begini ga bakal gw dukung"
Ngga, lo bukan gatau, tapi bodoh aja. Dari program kerja, riwayat hidup, sampe debat pun lo harusnya udah bisa nilai.
Hehehehehehehe
Merokok ✅
Main game ✅
Bekerja ❌
Menyimak rapat ❌
Warga Jember, inilah kualitas anggota parlemenmu. Sudi ya diwakili orang seperti ini?
Hehehehehehehe
kata gw berisik banget dah orang-orang yang nanya, umur 25 punya segini, umur 25 udah punya ini. you guys.. starter line kita aja beda-beda, income kita beda-beda, dan masih banyak faktor lain yang perlu diconsider. stop having such shit discourse already.
Kalau seseorang pernah ngalamin stres berat, trauma, atau tumbuh di lingkungan yang nggak stabil, otaknya bisa masuk ke “mode hypervigilance”.
Jadi selalu siaga, terus-menerus nge scan sekitar, perhatiin ekspresi wajah dan bahasa tubuh orang, dan sering banget udah keburu...
Anak-anak yang hidup di keluarga yang tidak stabil, seperti sering bertengkar, kasar, abusive, atau diabaikan, ternyata memiliki pola aktivitas otak yang mirip dengan prajurit tempur setelah bertugas di medan perang.
Jadi ada penelitian yang memeriksa otak anak-anak yang mengalami kekerasan atau konflik keluarga menggunakan fMRI (functional Magnetic Resonance Imaging).
Nah hasilnya menunjukkan adanya aktivitas yang jauh lebih tinggi di dua area otak yang penting untuk deteksi ancaman dan respon stress. Nama area otaknya adalah anterior insula dan amigdala.
Perubahan aktivitas ini bersifat adaptif di lingkungan penuh ancaman, seperti jadi “siap siaga” terus-menerus), mirip dengan yang terjadi pada tentara setelah pengalaman tempur.
Nah risikonya adalah dalam jangka panjang, hal ini dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan, regulasi emosi, dan masalah kesehatan mental lainnya, meskipun anak tersebut belum menunjukkan gejala psikiatri saat itu.
Yang perlu diperhatikan adalah temuan pada otak anak ini bukan berarti semua anak dari keluarga bermasalah pasti mengalami kerusakan otak permanen.
Otak anak sangat plastis dan bisa pulih dengan lingkungan yang aman, stabil, serta dukungan yang tepat.
Penelitian ini justru menekankan pentingnya lingkungan keluarga yang aman untuk perkembangan otak anak.
Semoga bermanfaat!