🧠 Di akademi Como , pemain U-10 kini tidak lagi boleh melakukan sundulan. Bahkan saat pertandingan.
Bukan karena ingin mengubah sepak bola, tetapi untuk melindungi perkembangan otak pemain muda sejak dini.
Mulai musim ini, Como menerapkan aturan heading baru secara bertahap di seluruh akademinya.
📌 Aturannya:
⚽ U-10
Tidak boleh heading saat latihan maupun pertandingan. Throw-in dan corner diganti dengan umpan menyusur tanah.
⚽ U-11
Masih tanpa heading. Teknik baru dikenalkan di akhir musim menggunakan bola yang lebih ringan.
⚽ U-12
Latihan heading maksimal 1 kali per bulan, hanya 5 sundulan per sesi.
⚽ U-13
Latihan maksimal 1 kali per minggu, tetap hanya 5 sundulan per sesi. Di pertandingan, heading masih belum diperbolehkan.
Varane, anggota Board of Education Como, menegaskan bahwa kesehatan pemain muda harus menjadi prioritas karena otak mereka masih berkembang.
Sementara itu, Osian Roberts menjelaskan bahwa berkurangnya latihan sundulan memberi lebih banyak waktu untuk mengembangkan first touch, scanning, orientasi tubuh, dan pengambilan keputusan.
Como juga akan mengatur jumlah sundulan dalam latihan, menghindari penggunaan bola yang terlalu keras, serta menyediakan panduan bagi pelatih dan orang tua.
Bukan melarang sundulan, tetapi mengajarkannya pada waktu yang tepat. Sebuah pendekatan modern yang menunjukkan bahwa membangun pemain hebat juga berarti menjaga kesehatan mereka sejak dini.
#Como1907 #Academy #PlayerWelfare #YouthFootball
Waktu masih kuliah, saya suka banget dengan salah satu mata kuliah: Pragmatik.
Kita bahas dulu thumbnail salah satu video di Youtube Persib.
"TRAINING SESSION: TIM PELATIH PUN SENANG"
Secara kebahasaan, ini contoh nyata gimana makna gak selalu lahir dari kata-katanya, tapi dari konteks dan ingatan pembacanya.
Persib gak nyebut nama klub, gak nyebut nama pelatih, bahkan gak nyebut nama Peralta. (Pemainnya pun belum dateng).
Mereka cuma "meminjam" satu frasa yang udah punya sejarah di kepala orang-orang yang ngikutin saga itu.
Kalau gak tau konteksnya, ya itu cuma kalimat biasa: tim pelatih senang karena progress positif Persib jelang Piala Presiden. Selesai.
Tapi buat yang masih inget ucapan STY yang diterjemahkan Jeje beberapa waktu lalu, frasa itu otomatis punya makna lain.
Dalam pragmatik, makna dapat muncul karena adanya common ground: pengetahuan yang sama antara penulis dan pembaca.
Sementara dalam kajian wacana, ini juga bisa disebut intertekstualitas, karena satu kalimat memperoleh makna baru dari hubungannya dengan ucapan yang pernah muncul sebelumnya.
Makanya menurut saya, banter ini rapi. Gak ada satu kata pun yang secara eksplisit menyerang siapa-siapa, tapi semua orang yang punya referensi yang sama langsung nangkep sindirannya.
Yang gak punya konteks cuma lihat judul biasa. Yang punya konteks dapat "lapisan makna" tambahan.
Genuinely brilliant and creative!
WHAT IF: Kiri 🇦🇷Mariano Peralta mode MVP, kanan 🇧🇷Ciro Alves mode lolosin degradasi Bogor, tengah depan 🇺🇾Cristian "El Loco" Gonzáles mode top scorer 4 musim beruntun
💥 90-an gol lah samusim
The MVP has found his new home. 💙
Yang paling dibicarakan, yang paling diperebutkan, kini resmi menjadi bagian dari #PERSIB
Mariano Peralta resmi bergabung sebagai #SumangetAnyar untuk menambah daya serang #PERSIB
Let’s make history together, Mr. MVP! 🇦🇷
I don't predict football. I decode patterns, symbols and narratives. Here, the symbolism points to a succession between Messi and Yamal, the established GOAT and the emerging figure. See through the code. Watch my series: https://t.co/HMoNBwH5Ft
Contoh pentingnya untuk pintar memilih referensi sebagus mungkin.
Percaya dengan yang dikatakan Vlado jauh lebih logis ketimbang percaya sama orang yang ngigau “no thank you”.