Anak yang menyimpan kecewa pada orang tuanya, bukan berarti ia kehilangan rasa hormat atau berhenti berbakti. Justru seringkali, ia terlalu mencintai hingga takut salah dalam menyampaikan perasaannya sendiri. Ia memendam, bukan karena tidak peduli, tapi karena bingung bagaimana mengungkapkan luka tanpa terdengar seperti perlawanan.
Di dalam diamnya, ada hati yang ingin dimengerti tanpa harus menjelaskan panjang lebar. Ada air mata yang ditahan, karena takut dianggap durhaka hanya karena jujur tentang rasa sakitnya. Mereka bukan anak yang membangkang, mereka hanya manusia yang terluka yang masih belajar menyeimbangkan antara bakti dan perasaan yang belum sempat sembuh.