Sejak pukul 02.00 dini hari, masyarakat sudah mulai mengantre sudah memakai pakaian adat daerah untuk memasuki Istana Merdeka. Tidak hanya dari Jakarta, tetapi juga dari berbagai daerah. Saya bahkan berkesempatan menyapa langsung warga yang datang dari Sulawesi, Sumatra, dan banyak provinsi lainnya.
Lebih dari 150 ribu masyarakat hadir mengikuti rangkaian upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dan Penurunan Bendera Sang Merah Putih di kawasan Istana Merdeka, serta panggung rakyat di Monas.
Malam harinya, semangat yang sama terus menyala dengan kehadiran lebih dari 500 ribu warga di sepanjang Monas hingga Bundaran Hotel Indonesia.
Pemandangan ini kembali mengingatkan bahwa Merah Putih bukan sekadar bendera. Ia adalah pemersatu kita. Dari berbagai daerah, latar belakang, dan generasi, kita hadir dengan satu kebanggaan yang sama: Indonesia.
Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia. Mari terus menjaga persatuan dan mengisi kemerdekaan dengan karya terbaik untuk bangsa. 🇮🇩
-- TIW --
#CatatanSeskab
Penampakan seekor bekantan di atas rumah warga di Nagara, Kalsel.
kasihan banget ya Allah... habitatnya udah habis kebakar, makin bingung mau mengungsi ke mana lagi selain ke atap rumah warga. kita yang cuma kena asapnya aja udah engap, apalagi mereka yang rumahnya beneran hilang 💔
Maaf ganggu scrolling-nya.
Cuma mau info. Seluruh penjuru pulau Kalimantan bagian Indonesia kebakaran. Setiap titik api sangat besar dan luas. Bisa 2x lipat Jakpus dan 1.3x kota Denpasar.
Sungai-sungai kering, harga bahan pokok naik, air bersih susah, jarak pandang tertutup kabut asap, banyak anak sesak nafas. Ah, tapi MBG dan Kopdes aman kok, tenang aja. Silahkan lanjut scrolling lagi.
Saya tidak punya kepentingan membela Anies (saya 03), tapi konteksnya memang berbeda.
Anies adalah aktor politik.
Bertemu, ngobrol, bahkan berfoto dengan lawan politik masih masuk dalam fungsi dan bahasa politik.
Publik sudah membaca dia sebagai orang yang bermain di arena itu.
Sebaliknya, Pancatera membawa posisi editorial dan identitas moral tertentu.
Di saat brand yang dibangun dari kritik sosial, independensi, dan keberpihakan pada isu tertentu, kedekatan simbolik dengan kekuasaan otomatis dibaca dengan standar berbeda.
Yang dipertaruhkan itu tidak hanya “boleh foto dengan siapa” saja, tapi konsistensi antara positioning yang dijual ke audiens dengan signalling yang ditampilkan ke publik.
Kalau kita membandingkan keduanya hanya dari tindakan “sama-sama foto”, maka kita sudah mengabaikan variabel paling penting:
siapa aktornya, dalam kapasitas apa dia hadir, dan ekspektasi apa yang selama ini dia bangun kepada publik.
Demikian.
Berbagi kebahagian ke anak kecil adalah pelajaran berharga hari ini. Ada rasa capek tapi energi terasa tak pernah habis dengan tambahan dukungan para orang tuanya