Bismillahirrahmanirrahim.
Hari ini, izinkan saya Ririe, mewakili Ibam dan anak-anak kami, menyampaikan Surat Terbuka kepada Pemimpin tertinggi negeri, Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto.
Dengan segala kerendahan hati, kami memohon perlindungan hukum dari ketidakadilan yang kami hadapi. Agar kebenaran tidak dikalahkan oleh hal-hal di luar fakta persidangan. Agar keadilan benar-benar ditegakkan sebagaimana mestinya.
Kami percaya, negara tidak boleh membiarkan warganya merasa sendirian dalam menghadapi ketidakadilan.
Semoga surat ini sampai dan diterima dengan baik oleh Bapak Presiden. Demi keadilan berdiri setegak-tegaknya di negeri ini. Demi hilangnya rasa takut dari mereka-mereka yang dengan jujur dan tulus hendak membantu negara dengan keahlian mereka.
Terima kasih, Bapak Presiden @prabowo 🙏🏻
#hariinidalamsejarah | Tepat pada 100 tahun yang lalu, di suatu malam pada tanggal 3 Maret 1924 di perpustakaan Istana Dolmabahçe. Seorang lelaki tua sedang khusyuk membaca ayat suci Al-Qur'an. Ia adalah Khalifah Abdul Majid II, pemimpin ke-37 Daulah Utsmaniyah. Saat itu seorang tentara muda yang diutus oleh Mustafa Kemal membawakan sepucuk surat untuknya.
Apa isi suratnya? Isinya adalah Khilafah Utsmaniyah resmi dihapuskan dan Abdul Majid II diperintahkan pergi. Awalnya, Khalifah menolak namun terpaksa menerima keputusan yang disahkan oleh Majelis Nasional itu, setelah militer yang dikirim Mustafa Kemal mengancam dan mengintimidasi keluarga dan staf istana dengan senjata.
Keesokan harinya sebelum fajar menyingsing di ufuk timur, Abdul Majid II beserta keluarganya bergegas pergi. Anak cucu keturunan Sultan Muhammad Al-Fatih ini diasingkan dan dibuang ke Swiss .
Episode kelam dalam sejarah ini bukan untuk ditangisi dan diratapi. Melainkan harus dipetik berbagai ibrah dan pelajaran agar umat Islam, memahami apa faktor penting yang menjadi penyebab kejayaan dan kemuliaan para nenek moyang mereka dahulu. Dan apa saja sebab musabab yang membuatnya terjerembab ke dalam lubang kehancuran yang menyakitkan.
"Namun berhenti pada masa lalu dengan tangis duka adalah tanda kemalasan, sebagaimana di saat yang sama, tak peduli dengan sejarah adalah sebuah kedengkian dan kebodohan." (Syaikh Dr. Mustafa Ash-Shiba'i)