gini ya rasanya hidup setengah-setengah, ga cantik ga jelek, kaya juga ga, dibilang miskin juga ga, ga pinter tapi ga bodoh juga, punya 3-4 temen tapi bisa bergaul sama siapa aja, kuat tapi lemah, ramah tapi pemalu, percaya diri tapi kadang insecure, ngerasa seneng tapi kadang nangis tanpa alesan, butuh seseorang tapi pengen sendiri.
my therapist told me, "stop assuming people are mad at you. Stop attempting to read people's minds. stop trying to manage the thoughts and emotions of others. let people be in charge of themselves. if they have something to say to you they will and if they don't it is their responsibility not yours. overthinking kills happiness" and that hit me like a brick.
Mitos Korban yang Sempurna - Pembacokan Mahasiswi Riau
The Perfect Victim Theory: konsep kriminologi & feminisme yang menjelaskan bagaimana masyarakat (termasuk sistem hukum, media, & opini publik) cenderung percaya atau memberikan simpati penuh kepada korban kekerasan/kriminalitas yang memenuhi kriteria sempurna atau ideal. Konsep ini diperkenalkan oleh sosiolog Norwegia, Nils Christie pada 1986 dalam esainya "The Ideal Victim".
Teori ini menjadi mitos karena konsep ini bukan aturan ilmiah mutlak, melainkan konstruksi sosial yang kaku, subjektif, & berbahaya yang sering digunakan untuk membenarkan penyalahan korban serta membatasi simpati & dukungan hanya pada korban yang ideal.
Mitos bahwa korban harus memenuhi standar ideal tertentu, seperti lemah, rentan, miskin, pakaian sopan, tidak punya relasi dengan pelaku, perempuan, melawan secara fisik, melapor segera, ingatan jelas, tidak mabuk, dll agar dianggap sah sebagai korban dan mendapat dukungan masyarakat/hukum. Jika yang terjadi sebaliknya, maka tidak dianggap sebagai korban atau ikut berkontribusi atas kekerasan yang terjadi. Ini mitos berbahaya karena kaku, subjektif, & tidak berpihak pada korban.
Kasus pembacokan mahasiswi di Riau kemarin menjadi salah satu contoh bagaimana teori/mitos ini bekerja dalam masyarakat Indonesia ketika muncul rumor/fakta tentang hubungan spesial antara pelaku & korban.
Korban sempurna harus tidak bersalah sama sekali. Rumor/fakta hubungan spesial, selingkuhan, dll langsung memicu victim blaming. Membuat korban tidak dianggap ideal sehingga simpati berkurang, cerita korban diragukan, & fokus bergeser ke kesalahan korban daripada perbuatan pelaku.
Mitos ini melanggengkan budaya patriarki, di mana korban non-ideal mengalami viktimisasi sekunder, trauma tambahan dari gosip, julid, viral medsos, atau aparat yang ragu saat proses hukum nanti. Kasus dengan narasi cinta buta atau plot twist selingkuhan bisa mengaburkan fakta kekerasan berbasis gender, bahkan percobaan femisida sadis & brutal kemarin.
Sumber @konde_co@_perEMPUan_ :
- https://t.co/nRlgiwxmY1
- https://t.co/ZY4UO1vFUO
@moviemnfs TERWAJIB ADALAH how to lose a guy in 10 days, ini kocak dan seru bgt
another my fav romcom lagi notting hill, mamma mia, the holiday, a cinderella story,
Tadi baca di Quora ada cewek yg kebetulan punya dada besar pengen punya dada kecil biar gak lagi jd target pelecehan.
Di sisi lain, ada cewek berdada kecil yg minder karna pasangannya follow selebgram cewek2 montok.
What is the common problem here? Yes. Men with porn addiction.