Dialog Petani & Gibran soal Jalan Sawah:
petani :Alhamdulillah untuk alat-alat panen alsintan mulai dari jonder, komben itu melalui brigade banyak sudah cukup, sudah lengkap ya."
Gibran:"Oke, bagus."
petani : Yang kurang jalannya Pak. Jadi dari jalan menuju ke sawah itu komben atau jonder itu masih kesulitan."
Gibran:"Kenapa, Pak?"
petani : "Belum ada box jalan Pak. Jalan sawah belum ada jembatan kecil untuk masuk. Sementara ini kami pakai tangga."
Gibran:"Tangga?"
Rukamto:"Iya Pak. Satu tangga enam orang yang mikul. Combine harvesternya didorong turun tangga dari jalan ke sawah. Tangganya dipindah-pindah dari petak satu ke petak lain."
gibran : kenapa gk di gendong itu combinenya?
petani : diam sejenak, (lu tau kagak sih combine harvester)
gibran nyuruh petani traktor di gendong aja klo susah di pindah dari 1 sawah ke sawah yang lain
funny how he suddenly lost all that confidence nyinyirism ndasmu nyenyenye once he had to speak in front of people who actually know what they're talking about 😹
LSE bukan kampus yang megah dengan halaman luas. Ia menyatu dengan kota London. Gedung-gedungnya berdiri di antara jalan-jalan yang sibuk, seolah mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan tidak pernah jauh dari kehidupan sehari-hari.
Di sudut kampus berdiri patung globe, simbol yang terasa tepat bagi sebuah universitas yang sejak awal melihat persoalan dunia sebagai ruang belajar bersama. Beberapa langkah kemudian ada Sir Arthur Lewis Building, sebuah penghormatan kepada ekonom peraih Nobel yang mengubah cara kita memahami pembangunan dan transformasi ekonomi di negara berkembang.
Di lorong Department Of Economics , terpajang wajah-wajah yang telah membentuk sejarah pemikiran ekonomi: Friedrich Hayek, John Hicks, Arthur Lewis, James Meade. Kampus ini juga pernah menjadi tempat dari Ronald Coase, Amartya Sen, Christopher Pissarides, George Akerlof, dan banyak lainnya. Mereka mengingatkan bahwa gagasan besar lahir dari keberanian untuk mempertanyakan, bukan sekadar menerima. Senang dan terhormat menjadi bagian dari LSE