aku pas hujan turun kemarin aja rasanya mau nangis banget, apalagi para tim di lapangan yg berjuang selama karhutla, terima kasih khususnya untuk semua relawan yang selama karhutla ga kenal lelah berjuang sampe akhirnya hujan yg lama dinanti akhirnya datang juga 🥹 semoga hujan ini benar2 memadamkan api dan membawa kembali udara yg bersih dan segar 💚🥹
dan semoga wilayah yg sampe skrg belum hujan bisa segera hujan ya amiiiiiiin 🫶🏻
Owalahhhhhhh.........
Jadi ini tohhhh dosa"nya Pak Purbaya Sampek dipecat dgn tidak hormat grakkkk
************************************
Maudy Ayunda Cilok Nuvex Sri Mulyani
Prabowo terlihat gusar saat jurnalis mengungkap fakta bahwa banyak rakyat yang mengkritik kinerjanya, dia juga terlihat gusar saat ada pihak² yang menilai kinerja pemerintah dia dinilai buruk..
*Udah gak ketolong lagi gaes, wowo masih percaya kalo program² dia itu pro rakyat 😭🤣
Salah satu contoh orang yang menurut gue pintar secara akademik dan hidup berkecukupan, tapi masih susah benar-benar “napak tanah”: Maudy Ayunda.
Bukan karena dia jahat atau sengaja tone deaf. Justru menurut gue, dia mungkin nggak sadar kalau selama ini hidup dalam privilege bubble-nya sendiri.
Gue punya banyak teman yang kurang lebih kayak gini di Jerman. S3, keluarga berada, well-traveled, progressive. Bahkan suami gue sendiri tumbuh dengan privilege seperti itu.
Masalahnya, orang-orang kayak gini sering merasa mereka udah sederhana, down to earth, dan open-minded.
Padahal belum tentu.
Gue pernah nonton program ARD, ada dua jurnalis Jerman keliling Sumatera. Mereka nanya ke local guide:
“Kenapa kalian kerja terus? Kenapa nggak pernah liburan?”
Dan gue cuma bisa mikir, HOW??? 😭
Kalian educated, udah keliling dunia, tapi nggak kepikiran kalau ada orang yang memang nggak punya pilihan buat berhenti kerja?
Ada kemiskinan struktural. Ada orang yang kalau nggak kerja, ya nggak makan.
Makanya buat gue, traveling dan pendidikan tinggi nggak otomatis bikin seseorang jadi open-minded. Open-minded juga butuh empati terhadap kehidupan yang nggak pernah kita alami.
Dan ini yang gue lihat juga dari Maudy.
Dulu gue bahkan udah mempertanyakan keputusannya mengambil LPDP. Yes, dia eligible dan LPDP memang bukan khusus buat orang yang nggak mampu.
Tapi kalau keluarganya punya kemampuan buat membiayai pendidikan ke luar negeri sendiri, menurut gue tetap valid kalau orang bertanya: kenapa mengambil resource publik yang mungkin jadi satu-satunya jalan buat orang lain?
Sekarang muncul lagi soal mindfulness di tengah banyak orang yang lagi menghadapi masalah nyata.
Buat gue, di situ privilege bubble-nya kelihatan.
Kamu capek NONTON berita buruk. Mereka capek karena HIDUP mereka adalah berita buruk itu.
Jadi menurut gue, Maudy bukan sengaja tone deaf.
Dia cuma contoh bahwa seseorang bisa sangat pintar, kaya, well-traveled, punya good intentions, tapi tetap nggak sadar seberapa jauhnya bubble hidupnya dari realitas kebanyakan orang.
So, be mindful, yes.
BUT maybe START with being mindful of YOUR OWN PRIVILEGE.
Sampurna the orangutan has died.
He collapsed on a palm-oil plantation in West Kalimantan province, Indonesia—his lungs destroyed by the smoke of his burning forest.