Yang lagi siap2 keluar buat kerja. Sebagai alumni letusan merapi > 2x saya ingin ngasi tau.
Abu vulkanik bukan debu biasa. Dia mengandung kristal2 runcing, masuk paru2 bisa luka.
1️⃣ Bawa masker double. Bagian yang basah di luar yang kering di dalam. Biar abunya nempel di luar. Ini buat yang ga punya KN95. Kalo punya KN95 JANGAN DIBASAHI.
2️⃣ Abu vulkanik di mobil, Jangan di-wipe langsung pake wiper. Karena runcing itu bisa ngegores kaca. Siram dulu pake air yang banyak. Lalu dilap pake microfiber.
3️⃣ Yang punya alergi bawa pelindungan ekstra. Abu vulkanik selain bisa membuat gangguan pernapasan, bisa mengiritasi scalp, mata, dan kulit.
Yang begini-begini sebenarnya sudah diajarkan dalam table manner dan protokol diplomatik para diplomat.
Termasuk diajarkan juga cultural context dari negara yang jadi tujuan diplomasi.
Keliatan banget lah
Yang mainin pulpen di high level meeting itu (termasuk pula ngancungin jempol awokowwko)
Masih perlu latihan soal protokol diplomatik itu.
Itulah kenapa
Jadi pejabat tinggi itu harus memulainya dari bawah dan bertahap.
Biar ga keskip dan dah kelatih sama hal beginian.
Ya oke mungkin orangnya pinter
Tapi tetap aja pengalaman ga bisa bohong.
FOTO: Biro Pers, Media, dan Informasi Presiden (BPMI)
Kegiatan tahunan yak yang ngepost video ini dengan narasi macem-macem. Sembayang rebut udah ada dari zaman dulu di komunitas Tionghoa Hakka (khususnya Bangka & Kalimantan). Emang konsepnya ‘rebutan’ gini.
Dari rezim ini kita belajar:
1. Judol bisa dibasmi: buktinya Mandiri bisa blok rekening pendemo Pati atas perintah aparat
2. Bangunan sekolah bisa distandardisasi, sekolah rusak bisa segera renov: buktinya bangunan Kopdes bisa berdiri sampe pelosok negeri
3. Gaji nakes, guru, dan dosen bisa lebih sejahtera: buktinya ribuan karyawan SPPG bergaji di atas mereka
4. Jumlah kriminal di Indonesia bisa berkurang signifikan, kasus kriminal lebih cepet kelar: buktinya jumlah aparat saat demo sebanyak itu
Kita jadi tau kalo kita bisa, cuma mereka aja yang nggak mau😊
Kesimpulannya: kebobrokan memang sengaja dipelihara buat meraup suara di pemilu😊
【IMPORTANT NOTICE】
On August 21, 2026, SCANDAL celebrated its 20th anniversary with the “SCANDAL 20th Anniversary Live ʻChapter 20ʼ at Osaka-Jo Hall.”
Osaka-Jo Hall is the stage the four of us dreamed of standing on when we had just formed the band. Over the years, we have celebrated many important days on the stage here at Osaka-Jo Hall.
On this important day marking 20 years as a band, we are proud to be standing here once again, still the same four members we were back then.
To everyone who came to the venue, watched the livestream, and celebrated our 20th anniversary with us, we would like to express our deepest gratitude.
After this performance, there is something the four of us would like to tell you.
Our 20-year journey as SCANDAL will reach its final chapter on August 21, 2027.
Over these years, we have traveled throughout Japan and around the world. Through the places we have been able to visit, the people we have met, and the many experiences we could only have had by living our lives as SCANDAL, the four of us feel that we have truly done all that we could together.
Deciding how to bring an end to a band that has been together for this long was truly difficult. But after talking it over many times, the four of us eventually came to this conclusion.
As our final journey together, we will tour all 47 prefectures of Japan starting this October, and on August 21, our 21st anniversary, we will hold a solo concert at Yokohama Arena.
Over this final year together, weʼll cherish every show and every day, and weʼll keep playing as the four of us until the very last moment.
SCANDAL
*jpf All female band SCANDAL resmi akan mengakhiri aktivitas mereka pada 21 Agustus 2027, setelah merayakan 20th anniversary mereka tahun ini.
Terima kasih banyak Haruna, Tomomi, Rina, Mami, untuk semua effort kalian selama ini. Kalian berempat wanita keren dan hebat.
Hari ini suamiku nggak sengaja ngejatuhin galon 19 liter sampai dapur banjir. Anehnya, aku sama sekali nggak marah. Aku cuma bilang, "Nggak apa-apa, aku yang beresin. Papa kalau masih banyak kerjaan, lanjut aja." FYI, suamiku kerja remote.
Kejadian kecil itu malah bikin aku keinget masa kecil. Dulu tiap aku ceroboh, yang datang duluan bukan bantuan, tapi bentakan, omelan, bahkan pukulan. Lama-lama aku tumbuh dengan perasaan kalau bikin salah berarti aku memang pantas dimarahin.
Setelah menikah, aku baru ngerasain hal yang asing buatku. Setiap aku bikin salah, suamiku nggak pernah ngebentak atau bikin aku ngerasa bodoh. Dia selalu bilang, "Nggak apa-apa, bisa diberesin." Kalimat sesederhana itu, tapi buatku rasanya kayak nyembuhin luka yang udah lama ada.
Pelan-pelan aku belajar kalau kesalahan nggak harus selalu dibalas dengan amarah. Bahwa rumah seharusnya jadi tempat yang bikin tenang, bukan tempat buat takut.
Mungkin karena itu juga, pas hari ini dia yang ceroboh, aku nggak kepikiran buat marah. Yang ada malah pengen bantu beresin. Ternyata cara seseorang memperlakukan kita bisa ngajarin kita gimana memperlakukan dia balik. Kesabaran yang selama ini dia kasih ke aku, tanpa sadar tumbuh jadi kesabaran yang bisa aku kasih ke dia.
Kadang cinta itu bukan soal hadiah mahal atau kata-kata romantis. Kadang cinta hadir lewat kalimat sederhana, "Nggak apa-apa, kita beresin bareng."
Dan buatku, kalimat itu rasanya seperti rumah.
Nulis ini sambil mewek, ingusan, saking terharunya. 🥲😭
Bule ini kasih tau kalau kemampuan warga di sebuah negara untuk bisa jalan2 keluar negeri adalah hasil dari keputusan politik.
Dia orang Belanda. Kasih contoh kalau dia mau ke Indonesia, dia tinggal terbang aja. Sementara orang Indo mau ke Belanda mesti buat visa dan bisa sebulan nunggu.
Contoh lain, meski bukan jalan2. Ada seorang supir taxi di Bali, tiap ditanya ttg resto apa yang enak, si supir sarankan ke resto bebek tertentu. Tapi, selama hidupnya, dia gak pernah makan disitu. Pertama kali dia makan, itu diajak sama turis yang naik taksinya.
Jadi kalau ada yang gak peduli sama politik, ya lu liat tuh. Lu bisa pergi keluar negeri dengan mudah/sulit bukan faktor duit doang, tapi faktor pemerintah lu jago atau katrok.
Garis keturunan saya berhenti karena saya memilih childfree, gak mau punya anak.
And it's okay. Gak akan ada yang ingat nama kita dalam 3-4 generasi. Kita aja gak tau nama kakeknya kakek buyut kita. In the grand scheme of things we're not that important.
To think that our DNA is so important that we need to preserve it, is human arrogance. Itu perspective saya pribadi, silakan berbeda pendapat.