Pun aroma kayu lembap yang langsung menariknya bertahun-tahun ke belakang.
Pratungga mengulum senyum tipis, nyaris tak terlihat.
“Kayanya harus sedikit beberes kita.” @TelagaTuak
Matanya kembali berkeliling.
Terdapat bekas goresan kecil di kaki meja yang dulu sempat mereka perdebatkan karena Kikan bersikeras itu ulahnya, sementara Pratungga tahu betul penyebabnya adalah koper tua yang ia seret sembarangan.
Juga jam dinding yang kini berhenti berdetak.
ㅤ
SERINGKALI MENJADI KAMBING HITAM. Karena kambing putih erat kugenggam. Kata si bijak, benam segala pitam sebelum kebaikanmu karam. Itu sebabnya aku diam. Bungkam. Pendam. Meski laku mereka menikam tajam. Meski gumam haram mereka menghujam siang malam.
ㅤ
⠀
Setiap kali gamangku tak tahu diri merajai kepala, aku selalu berlari menuju ruang sembunyi. Tidak lain, suamiku, Isaiah Gitarja. Masalah lama, masalah yang sama, tapi bukan tentang kita. Soal aku, dan semoga ia tak bosan menampung keluhku di rungu.
“Sayang...” panggilku.
⠀
⠀
𝘐𝘐𝘐. 𝘗𝘌𝘔𝘉𝘈𝘕𝘛𝘈𝘐𝘈𝘕
Ada kebencian yang tumbuh dan meranggas di dalam dada. Ada kebun bunga yang tumbuh dari rasa putus asa. Ada pula siswa yang menjerit sambil menusukkan pulpen berkali-kali ke lengan sahabatnya.
⠀
⠀
Kamu udah cantik, Kikan. Jangan terlalu sibuk jadi segalanya untuk orang lain sampai lupa bagaimana caranya menjadi seseorang untuk dirimu sendiri, okay?
⠀