This account contains my POV of Market
Discuss IHSG melalui perspektif makro, mikro, sentimen, and market behavior.
Bukan sebagai tempat mencari kepastian, melainkan tempat sharing perspektif.
Semua opini adalah pribadi.
Agree, disagree, discuss. That’s the point. 📈
Smart money dan sisa foreign investor yang lihat chaos ini langsung panic selling dan cabut permanen. Rupiah makin hancur. The negative feedback loop starts again dengan damage yang jauh lebih parah. Economic recovery butuh real structural reform bukan sekadar lip service.
Phase 5: The Social Unrest.
Bayangin kamu baru kena layoff harga groceries naik dua kali lipat income tax dicekik lalu tahu APBN dikorupsi. This moral outrage is completely logical. Massive protest pecah dan bikin country risk makin tidak terkendali.
What’s wrong w ekonomi Indonesia 2026?
Bukan cuma soal currency Dolar yang meroket atau Rupiah yang free fall. It is all about the domino effect. Bagaimana satu policy error memicu rentetan systemic risk sampai akhirnya public anger meledak di jalanan.
Let us break it down.
Di tengah rakyat yang struggling to survive tiba tiba terbongkar mega skandal korupsi Badan Gizi Nasional di pertengahan 2026. Dana triliunan yang di defend habis habisan malah dipakai buat beli luxury items pejabatnya. Public trust langsung drop to zero.
Phase 4: Stagflation dan The Ultimate Betrayal.
Daya beli hancur bikin market freeze. Tapi saat Rupiah dibiarkan tembus 18 ribu per Dolar harga raw material dan imported inflation meledak. No jobs but high prices. Stagflasi ini benar benar deadly combo.
Bukannya strict austerity pemerintah malah rilis Obligasi Merah Putih dengan super high yield. Terjadilah crowding out effect di mana sisa likuiditas market malah disedot negara. Worst part nya tax enforcement buat UMKM malah makin brutal. Purchasing power makin mati.
Phase 3: Fiscal Rigidity.
Saat rakyat butuh social safety net kas negara malah nyangkut di program populis. Ratusan triliun budget tersedot buat Badan Gizi Nasional. Pemerintah in denial dan menolak relokasi APBN untuk bail out korban krisis.
Interest rate naik bikin cost of fund perbankan makin mahal. Korporasi yang overleverage mulai default bayar utang. Bank panik dan freeze credit expansion. Pengusaha tidak punya pilihan selain potong opex. Gelombang mass layoff terjadi di mana mana.
Phase 2: The Monetary Squeeze dan Layoff Massal.
Bank Indonesia terpaksa agresif naikin suku bunga buat narik hot money masuk lagi. Inverted yield curve pun terjadi dan ini adalah ultimate indicator kalau recession is right around the corner.
Capital outflow ini terjadi bukan murni karena global headwind tapi karena tata kelola domestik kita kena downgrade. Institusi kayak MSCI dan Moodys ngeliat governance kita makin red flag. Algoritma institutional investor langsung execute massive net sell tanpa ampun.
Phase 1: External Shock.
Geopolitical tension bikin foreign investor panik dan flight to safety ke aset Dolar. At the same time The Fed nahan suku bunga higher for longer. Foreign fund cabut dari emerging market dan demand buat komoditas andalan kita totally crash.
Ibaratkan sebuah company. Revenue utama drop karena ekspor hancur. Cost of debt tiba tiba spike karena interest rate mahal. Cash flow kering. Puncaknya ketahuan kalau CFO malah korupsi uang kas. That is exactly what happened to our macro economy di 2026.
Selain B50, ada hal lain yang membuat saya tertarik.
Sekitar 80%+ kebun TAPG berada pada usia produktif.
Artinya perusahaan berpotensi menikmati kenaikan permintaan saat aset utamanya masih berada dalam fase menghasilkan produksi yang optimal.
Kenapa investor sawit lebih sering melihat harga CPO daripada mendengarkan Bahlil?
Padahal salah satu dari keduanya berpotensi menambah permintaan 4-5 juta ton CPO per tahun.
Roadmap B50 berpotensi menambah serapan CPO domestik 4–5 juta ton per tahun.
Saat pasar fokus pada harga CPO global, saya melihat permintaan domestik yang semakin kuat sebagai salah satu katalis utama sektor sawit.
Mungkin saya salah membaca cerita ini.
Tapi jika B50 berjalan, harga CPO tetap sehat, dan produktivitas kebun terus meningkat,
maka pasar mungkin masih belum sepenuhnya menghargai apa yang dimiliki $TAPG hari ini.
NFA Disc On DYOR