di era kayak gini sulit bgt punya ruang aman dan nyaman hanya untuk berkeluh kesah... padahal itu perlu bgt, jadi gw mau mencoba untuk dengerin cerita kalian selagi gw bisa
teruntuk siapapun yg butuh teman curhat/cerita, boleh dm gw
walau gw gak bantu banyak... mungkin aja gw bisa kasih tau hal yg gak bisa kalian liat/sadari bahwa ada yg keliru dan bisa jadi bahan eval/refleksi
pun klo mau di dengerin dan di validasi aja boleh juga 🫶🏻
@LambeSahamjja itu orang yang katanya anti DFK kan? padahal gausah lempar pertanyaan ke publik dong klo kepo? kan tinggal tanya aja ke tyo nya... "mas kok bisa beli mobil fortuner?" katanya jangan bikin gaduh... lah dia melempar pertanyaan for public kek gitu org gaduh lah?
gw sekarang tiap ngomel²... huek²
keknya sama allah disuruh ngurangin ngomel² dah wkwkwkwkwk
sampe gw ngasih tau org rmh "gw gada energi ngomel, mo pada ngapain juga terserah deh... terima aja konsekuensinya"
Kata Andre Rosiade :
"yang naik cuma BBM non-subsidi. Itu kan dinikmati orang kaya."
Realita 10 Juni 2026:
a. Andi, ojol Lampung: "Kemarin Rp12.600, sekarang Rp16.650. Selisihnya lumayan buat beli beras."
b. Bahrudin, 65 tahun, ojol Manggarai: "Tiap hari ngisi. Ini pukulan berat."
c. Herdi, karyawan Banjarbaru: "Spesifikasi motor minta RON 92. Mau ke mana lagi?"
d. Maulida, ibu rumah tangga: "Pabrikan mobil wajib RON 92. Nggak bisa sembarangan ganti."
Akibat framing "cuma buat orang kaya" ini:
jutaan orang pindah ke Pertalite → antrean mengular → kuota subsidi diserbu → pemerintah pasang QR code → mulai ngomong "potensi penyesuaian tahap II."
Terjemahan:
subsidi yang katanya "aman" itu sekarang terancam jebol, justru karena kebijakan yang diklaim pro-rakyat.
Pertanyaannya sederhana: kalau Pertamax memang cuma buat orang kaya , kenapa yang paling keras ngeluh justru ojol, sopir, dan ibu rumah tangga yang motornya butuh RON 92?
Atau jangan-jangan, ada kelas yang terlalu "kaya" untuk dapat subsidi, tapi terlalu miskin untuk bayar Rp16.650/liter , dan mereka ini yang tidak dihitung dalam kalkulasi "berpihak ke rakyat" itu?
Atau jangan-jangan definisi "orang kaya" versi Gerindra itu siapapun yang motornya perlu RON 92?
Soalnya tadi gue denger sendiri, ada mas2 di trotoar depan UOB, kemeja kantoran rapih, nonton aksi, tapi ga berani ke jalan, ybs bilang
"Oh sbnrnya demo mahasiswa tuh ga rusuh ya, pada tertib tuh disuruh mundur dikit pada mundur. Jadi sbnrnya yg rusuh tuh siapa yak?"
Nahh
posisi gw lagi nyapu langsung linglung... cuma bisa bales "eh iya, makasih juga ya... hati-hati, semoga sukses" gw selalu berdoa itu cowo bertiga tiap langkahnya di permudah aamiin
njir gw pernah ada di posisi yang dipamitin ama langganan... cowok anak magang bertiga, tiap hari selalu minta dadar telor... trus pas pamit bilang gini "mba makasih udah buatin dadar telor, enak banget... mohon maaf ya klo ada hal yg kurang menyenangkan" 🥹
Tiba tiba bgt dipamitin bapak penjual cilok langganan yg biasa buat sarapan.
🧔🏻 : aku hari ini terakhir jualan di sini mba
🧕🏻 : loh kenapa pak? *syokk dikit* 🥹
🧔🏻 : pindah ke bali, besok berangkat. Maaf yaa mba kalo selama ini ada salah
🧕🏻 : loh ga adaa pak
😭 bapak hati hati yaa, biasanya bapak yg bilang hati hatii kalo saya mau jalan lagi
🧔🏻 : iyaa makasih ya mba
🧕🏻 : sehat sehat yaa pak, marii
🧔🏻 : hati hatii ya mbaa
cc:threadmelisaamq_
Maret 2026.
Mitra MBG bernama Hendrik Irawan viral joget-joget sambil pamer dapat Rp6 juta per hari.
Publik marah. BGN menegur. Dapurnya disuspend.
Tapi berhenti dulu. Mari ikuti angkanya.
BGN dalam siaran pers resminya mengkonfirmasi:
insentif Rp6 juta per hari memang hak setiap mitra SPPG.
Diatur dalam Keputusan Kepala BGN Nomor 401.1 Tahun 2025.
Berlaku untuk semua 27.735 dapur yang aktif.
Tetap cair meski sekolah libur, cuti bersama, atau dapur di-suspend sekalipun.
Hitung sendiri:
Rp6 juta × 27.735 dapur = Rp166 miliar per hari× 313 hari operasional = ~Rp52 triliun per tahun , hanya untuk insentif fasilitas, belum bahan makanan, belum operasional
Total anggaran MBG 2026: Rp268 triliun dari APBN , sekitar 7% dari total belanja negara. Tidak ada program makan sekolah di negara mana pun di dunia yang menyedot porsi APBN sebesar ini (rata-rata global: 0,1–0,5%).
Hasil programnya:
a. 37.270 anak keracunan sejak Januari 2025 (JPPI, Mei 2026), tersebar di 31 provinsi
b. Mayoritas SPPG belum bersertifikat laik higiene sanitasi
c. Program berjalan tanpa Perpres, tanpa audit independen yang bisa diakses publik
Masalahnya bukan Hendrik yang joget.
Hendrik satu dari 27.735 mitra yang menerima insentif yang sama dari sistem yang sama.
Yang patut dipertanyakan bukan orang yang joget di depan kamera.
Yang patut dipertanyakan adalah: siapa yang merancang sistem di mana Rp268 triliun uang pajak rakyat mengalir lewat puluhan ribu dapur swasta tanpa transparansi, tanpa Perpres, tanpa audit publik , sementara 37.270 anak sudah jadi korban keracunan dan program ini tetap jalan?
Madilog: ikuti logika angkanya. Bukan jogetnya.
Lu harus lihat. Ini sebenarnya masalah prioritas.
Bapak Aing ga terlalu relate sama BoDeBek.
Karena votersnya Bapak Aing kebanyakan dari Priangan dan pedesaan Jawa Barat.
Dia juga baru 1 periode, sebagai politisi dia tentu berpikir gimana bisa terpilih lagi..
Tentu dia akan fokus ke voter Jabar non Jabodebek yang penduduknya lebih banyak.
Ditambah lagi
Bapak Aing masih melihat prioritas pembangunan ada di Jawa Barat luar BoDeBek, yang memang luas wilayahnya besar sekali dengan penduduk yang luar biasa banyak (30-40 juta) dan tertinggal dibanding Bodebek.
Belum lagi banyak anggaran daerah kena efisiensi. Ya mikir mikir Pemprov Jabar. Tentu mereka cenderung akan memprioritaskan sektor lain seperti kesehatan, sosial dll di Jawa Barat.
Jadi, ego sektoral dari Pemprov Jabar buat masalah transportasi di Bodebek sulit untuk dihindari...
Masalahnya, urusan transportasi di Jabodebatek ga bisa diatasi Pemprov DKI saja...
Solusinya..
- Harus ada intervensi pusat buat menengahi persoalan transportasi aglomerasi Jakarta Raya. Jangan hanya urusan Pemprov DKI vs Jawa Barat.
- Dan ya menurut gw, karena anggaran daerah terbatas, pusat emang harus kasih bantuan lah.