Cerita ini bikin aku teringat sama teori psikoanalis Erich Fromm dalam bukunya Escape from Freedom (1941). Jadi, ada dua jenis "kebebasan" menurut Fromm:
1. Freedom FROM (bebas dari/negative freedom) : bebas dari penindasan, kelaparan, kontrol otoriter. Ini yang didapat si defector waktu kabur dari Korut.
2. Freedom TO (bebas untuk/positive freedom): kebebasan untuk (mampu) aktif mengarahkan hidup sendiri: kerja bermakna, hubungan yang tulus, menentukan jalan hidup sendiri. Ini butuh skill dan sumber daya psikologis, bukan cuma soal "gak ada yang melarang"
Masalahnya: orang ini dapat negative freedom (bebas dari Korut), tapi nggak siap dengan positive freedom (harus belajar buat keputusan buat diri sendiri dan milih banyak hal sendiri di Amerika)
Dia gak pernah dilatih untuk membuat keputusan sendiri seumur hidupnya jadi begitu semua pilihan dilempar ke dia sekaligus, yang muncul bukan kelegaan, tapi juga kecemasan dan kewalahan “Koq jadi apa-apa gue yang milih dan lakuin sendiri?”
Bisa jadi dia pengen balik ke Korut bukan karena kangen miskin atau lapar, tapi karena dah terbiasa dengan tidak perlu mikir dan memutuskan apa-apa. Ini tentu memunculkan pertanyaan lebih lanjut soal kapasitas agensinya sebagai individu.
Fromm bilang ini pola umum: kalau manusia dikasih kebebasan tapi nggak dikasih kapasitas atau dukungan untuk memakainya, dia akan “kabur dari kebebasan” lagi ke bentuk "tunduk/submisif" entah itu dengan tunduk kepada atau menegakkan otoriterianisme, menghancurkan dunia atau orang lain yang dianggap mengancam diri, atau konformitas buta agar merasa bagian dari “normal” dan terhubung dgn orang lain/kelompok lebih besar sambil mengorbankan ciri individual diri sendiri. Dalam hal ini, si mantan Korut merasa tunduk pada otoritarianisme menjadi cara paling aman dan wajar setelah kewalahan akan kebebasan.
Fromm juga melihat ini bukan cuma soal satu individu, tapi gejala masyarakat modern secara umum termasuk kita di negara "yang lebih bebas". Kita dikasih segudang pilihan (karier, gaya hidup, konsumsi), tapi kalau nggak dibarengi rasa keterhubungan, makna, dan kerja yang otentik, pilihan itu jadi beban, bukan kebebasan. Makanya banyak orang modern diam-diam rindu "ada yang mikirin buat gue" entah lewat pemimpin fasis di sistem demokrasi, agama yang kaku, konformitas ke tren konsumsi barang/gaya hidup yg mgkn ga sesuai value pribadi atau rutinitas yang serba diatur.
Intinya orang ini bukan menolak kebebasan itu sendiri, dia menolak versi kebebasan positive yang bikin cemas karena kebanyakan pilihan tanpa ada support system dan sumber daya dalam dirinya sendiri. Kebebasan sejati, kata Fromm, bukan cuma karena "nggak ada yang ngelarang", tapi juga tentang "punya kapasitas dan koneksi untuk menjalani hidup dengan penuh makna."
Mungkin dikira kayak bunga, kan bunga yang hemafrodit istilahnya bunga biseksual
Tp kan ini manusia, masa mau disamain sama kingdom plantae. Jelas makna katanya berbeda
Yang jadi masalah kan orang Indo suka cherry picking dan sembarangan interpretasi. Bawa2 penelitian bisa dpalsukan tapi sendirinya kalo bikin penelitian suka bias terhadap kelompok atau pemikiran tertentu.
I mean penelitian yang sengaja "diframing" juga ujung2nya ketahuan kok kalo metodenya ngawur atau ada data yang dipalsukan. Ada penelitian yang fotonya ketauan diedit pas dinaikin kontrasnya/diflip gambarnya.
Ini agak ngaco yah perbandingannya. Ilmuan Nazi itu ada di bawah sistem yg fasis, sementara itu, di berbagai negara dgn indeks demokrasi & lanskap saintifik yg tinggi, sains gk bisa semudah itu "di-framing" sesuai kebutuhan, dan dari sana juga, kita tau klo LGBT itu bkn penyakit.
Ada juga penelitian antara obat tablet lepas lambat dan tablet lepas cepat tapi dosisnya ga setara buat framing kalo yg lepas lambat efek sampingnya lebih ringan (padahal sama aja).
Tapi yang kayak gini akhirnya ketauan juga kalo orangnya teliti dan banyak baca literatur.
Karena perutku gaenak aku mual. Karena mual aku minum domperidone. Karena domperidone perutku krucuk krucuk. Karena krucuk2 perutku gaenak. Karena perutku gaenak aku bete tp sudah tidak mual karena aku telah minum domperidone.
Why are y'all assuming mbaknya jutek 24/7 when it could be a rare occurence
Giliran perkara ginian rame banget bawa2 "customer service harus bagus", giliran ada dokter diskriminatif atau etika medsosnya minus dinormalisasi atas nama "edukasi" padahal udh ngelanggar kode etik
Why are people so mad about someone looking all cranky. If they're mocking me or mess up my order that's unprofessional but cemberut doang? Y'all be more than happy to bully random people over nothingburger but draw the line over a service worker not smiling
Lucu banget lagi ada komen "If you hate the job why don't you leave, there are other people who need it" terus yang sekarang lagi kerja emang ga butuh? Sesuka apapun orang terhadap pekerjaannya juga pasti ada momen jeleknya. Emang situ mau lgsg kena pecat karena masalah sepele?