Pas nonton podcast ini malam tadi, little boys and girls both deserve to learn about personal space and boundaries from day one
Syahrini bilang "Tiap kali aku mau bersihin anakku, aku permisi dulu sama dia. 'Permisi ya sayang, mami mau bersihin dulu' Jangan sampe nanti orang nggak permisi sama dia. Nggak izin sama dia kalo mau ngedeketin dia. Dia kan anak perempuan" 🥺🥺
Every boundary starts at home teaching our daughters early on that their bodies are entirely their own.Such a green flag parenting style. Consent is taught, not just expected.
gaji 2 digit, resign tanpa back up plan. nganggur setahun. turns out, masuk kerja lagi gajinya🤟🏻 neraka orang beda2. kemampuan bertahannya jg beda2. interview 16x, gaji admin aja gue ttp apply yg gajinya 7juta tp ternyata tetep dikasihnya berkali kali lipat. gausah fear mongering
di kantor yang isinya milenial, gue malah bangga dibilang gen z 🙂
kemarin pas hapitnas, temen gue ambil cuti. terus ada ibu-ibu julid.
👩🏻: “bisa-bisanya ya dia malah cuti, padahal semua temennya sama-sama capek. kalau aku sih tetap masuk ya... untung aja cutinya di-acc bu bos.”
👱🏻♀️ gue dengan lantang: “ya gak apa-apa kan, mbak? toh itu haknya dia. kalau cutinya gak di-acc, saya ajarin buat lapor langsung ke disnaker 😀 untung aku gen z ya, mbak. hidup gak melulu soal kerja dan julidin orang yang cuti 😎”
langsung hening. 😭
dulu gue benci banget kalau dibilang gen z karena kesannya konotasinya negatif.
tapi sekarang udah di titik kalau dibilang gen z gara-gara ngejawabin orang julid, gue cuma bisa jawab:
“iya, emang gue paling gen z.” 😏
Punten cewek2 kelahiran 2001, cuma ngingetin ya tahun ini kamu udah masuk usia 25,
Tolong mulai prioritaskan D3, magnesium, omega-3, zinc, dan probiotik.
Kalau mau, boleh tambahin collagen juga.
Tapi lima itu menurutku nggak bisa ditawar.
tadi di kelas, tiba-tiba ada muridku nyeletuk soal seseorang yang dia tahu bertubuh obesitas.
kata-katanya lumayan nyelekit: “kok bisa ya gak ngontrol diri sampai segemuk itu? gak mikir banget, mikir kids.”
aku tatap matanya.
“kamu kalau ngomong langsung di depan orangnya, bakal ngomong kayak gitu juga?”
dengan pede dia jawab, “iyalah ms, kan itu kenyataan. gak salah, dong?” 😌😌😌
aku senyum, terus bilang:
“nak, kalau cuma buat bedain mana yang benar dan salah, itu tugasnya anak tk.
tapi makin dewasa, ukurannya bukan cuma ‘ini benar atau salah’. mulai pikir juga: pantas gak ini diucapkan? perlu gak disampaikan? bakal bikin dia sakit hati gak? dan kalau memang harus disampaikan, gimana caranya supaya gak melukai orang lain?
itu namanya peka dalam menempatkan diri dan menjaga perasaan orang lain.”
dia sempat diem, mencerna kata-kataku. karena anaknya memang cerdas, dia langsung paham maksudnya. sambil senyum kecil dia bilang, “okay, ms.”
anak ini memang aktif dan kritis. aku selalu menghargai kejujurannya dalam berpendapat, tapi kejujuran tanpa empati cuma bakal jadi senjata yang melukai.
bayangin kalau tadi aku cuma bentak refleks, “heh, gak boleh ngomong gitu!” tanpa kasih ruang buat diskusi dan alasan. hasilnya mungkin cuma bikin dia defensif, bukan benar-benar paham.
aku makin percaya, kelembutan yang dibarengi ketegasan jauh lebih gampang menyentuh hati anak daripada sekadar larangan.
with love, your teacher 🌹
Waktu aku kecil, aku iri melihat temanku yang bapak ibunya kerja.
Karena mereka kelihatan kaya 😁✌️
Sebagai konteks, ibuku full IRT. Yang kerja cuma bapak. Ibu beberapa kali minta izin ke bapak buat kerja, tapi bapak melarang.
Teman-temanku yang bapak ibunya kerja, mereka terlihat kaya. Sementara kehidupan keluargaku terasa sederhana, dan aku mengira itu terjadi karena ibuku nggak kerja.
Jadi dulu aku bertekad, aku harus menjadi wanita karir!!!!! Yang tetap bekerja meskipun sudah menikah dan punya anak!!!! Pokoknya karir jalan, urusan rumah pun jalan!!!! Aku wanita kuat dan perkasa HAHAHA 👍👍👍👍👍
Sekarang aku menjalani hidup yang dulu aku mau: karir jalan, urusan rumah pun jalan. AKUNYA YANG CAPEK. 😩👎
Ternyata dulu aku naif, aku nggak paham apa-apa, aku menganggap rendah ibuku yang IRT, dan aku nggak sadar betapa kerennya bapakku yang sanggup memprovide seluruh kebutuhan keluarga sekaligus berusaha memuliakan istrinya.
Btw aku ngetik ini sambil nangis. 😭
Andai anak-anak bisa memahami ini ya, biar mereka jadi lebih menghargai ibu-ibu mereka yg memutuskan jadi IRT.
Anak gue gak ikut study tour ke Bali, biayanya Rp5,8 juta per anak buat lima hari. Dari 32 anak di kelasnya, cuma tiga yang gak ikut, dan anak gue salah satunya. Di grup wali murid gue sempet disindir halus, katanya kasihan anaknya nanti gak punya kenangan. Anak gue bahkan sempet nangis dua hari, dan itu yang paling berat buat gue. Tapi ada satu percakapan sama wali kelasnya yang bikin gue tetap yakin sama keputusan ini.
Gue tulis pertimbangan gue di sini buat orang tua lain yang mungkin lagi ada di posisi yang sama. Ini bukan sekadar soal mampu atau gak mampu, karena sebenarnya gue masih bisa usahain kalau dipaksain. Ada lima hal yang gue pertimbangin, dan yang kelima justru paling gak kepikiran sama gue sebelumnya. Malah datangnya dari wali kelas sendiri.
Pertama, gue hitung dulu Rp5,8 juta itu setara apa buat kondisi keuangan keluarga gue. Penghasilan gue sama suami kalau digabung Rp9,4 juta sebulan, sementara pengeluaran wajib Rp7,1 juta. Jadi sisa Rp2,3 juta per bulan. Artinya, Rp5,8 juta itu setara sekitar dua setengah bulan sisa tabungan kami. Bukan gak mampu, tapi setelah itu tabungan kami bakal kosong selama tiga bulan ke depan.
Kedua, gue cek isi acaranya, bukan cuma lihat nama tempatnya. Lima hari itu ternyata dua hari habis buat perjalanan bus pulang-pergi, jadi efektif cuma tiga hari. Dari tiga hari itu, dua harinya kunjungan ke tempat wisata umum dan satu hari ke museum. Bagian edukasinya cuma sehari, sisanya jalan-jalan yang sebenarnya masih bisa dilakukan kapan aja.
Ketiga, gue tanya wali kelas apakah kegiatan ini wajib atau opsional. Katanya opsional, dan anak yang gak ikut tetap masuk sekolah dengan kegiatan pengganti. Gue tanya lagi kegiatannya apa, jawabannya proyek kelompok di perpustakaan. Gak ada nilai yang hilang dan gak ada materi yang ketinggalan buat anak yang gak ikut.
Keempat, gue tanya tiga orang tua yang anaknya ikut tahun lalu. Dua bilang anaknya senang, satu bilang anaknya malah stres karena banyak yang bawa uang jajan dalam jumlah besar. Anaknya bawa Rp300 ribu, sementara ada temannya yang bawa sampai Rp1,5 juta, akhirnya dia jadi minder. Jadi biaya Rp5,8 juta itu ternyata belum termasuk uang jajan yang bisa jadi perbandingan sosial tersendiri.
Kelima, dan ini yang paling gak kepikiran sama gue, gue tanya wali kelasnya soal anak-anak yang gak ikut. Katanya tiap tahun selalu ada sekitar tiga sampai lima anak yang gak ikut, dan itu normal. Yang biasanya bikin anak sedih bukan karena gak ikut, tapi cara orang tua menyampaikannya. Kalau dibilang gak mampu, anak bisa nangkepnya sebagai “keluarga kita miskin” dan akhirnya malu.
Wali kelasnya nyaranin cara penyampaiannya dibikin beda, dan gue langsung coba malam itu juga. Gue bilang ke anak gue, kita lagi nabung buat sesuatu yang manfaatnya lebih lama. Gue kasih pilihan: uangnya dipakai buat study tour lima hari, atau buat les yang dia mau selama setahun. Anak gue pilih les gambar, karena memang udah lama dia minta dan selalu gue tunda.
Les gambarnya Rp350 ribu sebulan. Setahun jadi Rp4,2 juta, masih di bawah biaya study tour Rp5,8 juta. Sisa Rp1,6 juta gue simpan buat perlengkapan gambarnya selama setahun. Anak gue berhenti nangis begitu dia merasa dia yang memilih, bukan karena dia kekurangan. Itu yang dimaksud wali kelasnya: bedanya ada di apakah anak dikasih pilihan atau cuma dikasih kabar buruk.
Empat bulan berjalan, dia udah ikut dua lomba gambar tingkat kecamatan dari les itu. Teman-temannya yang ikut study tour juga udah gak ngomongin Bali lagi setelah dua minggu.
Gue gak bilang study tour itu buang-buang uang. Buat sebagian keluarga, mungkin memang worth it banget. Yang mau gue sampaikan, coba cek dulu lima hal tadi sebelum memutuskan buat maksa ikut atau langsung nolak mentah-mentah.
Kalau lo lagi ada di posisi yang sama, tanya wali kelas tiga hal ini dulu: ini wajib atau opsional, kegiatan penggantinya apa, dan biasanya berapa anak yang gak ikut tiap tahun. Tiga jawaban itu biasanya udah cukup buat bantu lo mutusin tanpa perlu nanya-nanya di grup wali murid.
Karena yang paling menentukan bukan anak ikut atau enggaknya, tapi gimana cara lo ngomong ke anak setelah keputusan itu dibuat.
Gak pernah sekecewa ini sama diri sendiri. 🥲
Tadi siang anakku bilang dia pengen aku kerja, cari uang, biar bisa punya banyak uang kayak teman-temannya yang mamanya kerja.
Aku yang masih mencerna omongannya cuma jawab, “Kalau Ami kerja, siapa yang temenin kalian di rumah?”
Dia langsung jawab sambil nangis, “Aa bisa kok jagain adek. Aa kan udah besar.”
Di situ aku mulai sadar, ternyata obrolan ini serius.
Aku tanya, “Gimana kalau Ami cari uangnya dari rumah? Jualan atau ngajar les?”
Dia jawab, “Terserah Ami, yang penting bisa menghasilkan uang.”
Seketika kaki aku lemas. Aku gak bisa jawab apa-apa lagi. Aku yang waktu itu lagi masak sampai gak fokus. Denger dia ngomong sambil nangis, aku gak kuat.
Dia bahkan bilang, “Banyak kok mamanya teman Aa yang kerja. Aa suka sama mama-mama yang kerja. Mereka bisa banggain mamanya. Bisa banyak uang, bisa beli macam-macam.”
Anak umur 7 tahun ini sebenarnya pengen punya banyak uang, atau dia malu punya ibu yang gak bekerja seperti aku?
Aku bikin utas ini masih sambil sesenggukan. 🥲
Aku pingin share ini. Semoga dibaca oleh perempuan-perempuan berpendidikan lainnya yang mulai minder karena memilih menjadi ibu rumah tangga.
Menjadi istri dan ibu itu mulia, tidak perlu malu.
Sebetulnya yg terjadi selalu rencana Allah. Jadi kalau berdoa, baiknya begini,
"Ya Allah, mohon izinkan rencanaku berjalan selaras dgn ketetapan yg telah Kau gariskan untukku. Dan mohon ikhlaskan hatiku utk menerima bahwa apapun yg Kau tulis adalah yg terbaik bagiku. Aamiin."
ini perspektif bagus soal betapa banyaknya nikmat Allah yg kita dapatkan. dan bener, kita terlalu sering melalaikan nikmat Allah yg ini (termasuk gue)🥲
makin makes sense kenapa waktu luang dan kesehatan disebut sebut Rasulullah sebagai 2 nikmat yang paling sering dilalaikan manusia.
soalnya 2 hal itu termasuk nikmat terbesar yg bisa kita miliki secara gratis. dengan sehat dan waktu luang, kita bisa belajar hal baru, bisa ngelakuin banyak aktifitas, bisa merenungi nikmat Allah yg lain, bisa ibadah, bisa banyakkk🥲 tapi kalo ga punya iman dan rasa takut pada Allah, justru 2 nikmat ini bisa menjerumuskan ke maksiat. melakukan dosa di waktu luang, apalagi saat sendiri itu yg paling banyak dilakukan manusia.
yaAllah makasih yaAllah. udah ngasih oksigen gratis lifetime…udah ngasih nikmat iman, nikmat sehat, nikmat islam, nikmat tempat berteduh, nikmat makanan, nikmat rasa aman, nikmat rasa tenang, nikmat bisa berpikir, nikmat tubuh yg berfungsi, ah ga keitung lagi.
i love Allah so muccc🩷😭
The saddest thing from Surah Maryam is:
"Kadang-kadang kamu akan diuji dengan ujian yang begitu berat, hingga kamu berharap seandainya kamu tidak pernah dilahirkan."
Namun, di balik ayat itu ada pelajaran yang begitu menenangkan: bahkan orang-orang yang paling dicintai Allah pun pernah berada di titik paling rapuh. Merasa lelah, merasa sendiri, bahkan berharap semua ini tidak pernah terjadi.
Itu bukan akhir dari cerita. Setelah kesulitan, Allah selalu menyiapkan jalan keluar dengan cara yang tidak pernah kita duga. Maka, jika hari ini hidup terasa begitu berat, bertahanlah. Sebab pertolongan Allah sering kali datang tepat ketika kita merasa tidak lagi memiliki kekuatan.
Semua berawal dari didikan orang tua sejak kecil🙌,
Fatimah Azzahra, BEM UI, cerita kalau sejak kecil dia sering nonton dan diskusi Indonesia Lawyers Club bareng orang tuanya.
Maudy Ayunda juga pernah cerita kalau sejak kecil diajak ngobrol untuk melatih problem solving, bahkan dari hal-hal kecil.
Begitu juga Najwa Shihab. Sejak kecil, dia sudah dilatih mengambil keputusan sendiri, sesederhana memilih mau sekolah di mana.
I found the same pattern among these three great public speakers: Mereka dibesarkan dengan kebiasaan berdiskusi bersama orang tua, sesederhana sering mengobrol di rumah. Fondasi percaya diri untuk mengungkapkan isi pikiran sudah dilatih sejak kecil.
#ulaspodcast
btw dapet insight baru soal berdoa dari raim laode. di salah satu podcast dia bilang gini:
hadiah dari doa itu bukan terkabulnya, tapi doa itu sendiri. perasaan untuk meminta itu siapa yang kasih sih?
jadi yang kita syukuri dari doa bukan terkabul, itu mah tugas Allah (mengabulkan doa). tugas kita hanya meminta dan memantaskannya.
kalau sudah minta belum terkabul, sudah pantas belum? atau mungkin....itu buruk untuk kita?
kita juga harus bersyukur atas doa yang tidak terkabul karena pasti tidak bagus untuk kita toh? Masa Allah bohong?
masya Allah😭😭😭
Saya nikah di usia 26th (termasuk telat di mata orang2 desa), pasangan usianya sama kyk aku, kita sepantaran. Awal nikah kami berdua sama2 kerja, gaji kalo digabung sekitar 5-6 juta. Apakah kami ada tabungan? Jawaban tidak, sejak awal nikah kami jg punya tanggungan ke bank. hampir 50% gaji masuk ke cicilan bank. sehari2 kami hidup seadanya, krn masih serumah bareng mertua sedikit banyak masih dibantu untuk sehari-hari. kalo kebutuhan pokok yg besar tetap kami tanggung sendiri. a
Akhirnya hamil, pas usia kehamilan 2 bulan kondisi ga oke bgt, bolak balik ranap krn gejala keguguran. Akhirnya diskusi dan memutuskan kalo aku resign saja demi kebaikan semua.
Otomatis pemasukan hanya tinggal sebelah saja. Kami makin irit2 bgt, tp alhamdulillah semua cukup.
yang bener "menikahlah saat kalian berdua siap berjuang bersama, masa sulit dilewati bersama. jangan saling merasa ""PALING"", krn pada dasarnya menikah itu "SALING".
bener! just like my supervisor said: “kalau ada yg kamu mau, sebesar atau sekecil apapun, tulis ya. bukan halu, tapi itu sebagai catatan doa yang bakal dikabulin suatu hari nanti sama Allah.” dan alhamdulillah satu persatu udah terwujud, walau butuh waktu.