Nadiem: Saya mundur dari Gojek agar tidak ada konflik kepentingan.
Jaksa: Hallah! Pura-pura!
N: Nah! Terbukti TIDAK ADA aliran uang ke rekening saya, kan?! Saya bersih!
J: Emang jago ya menyembunyikan hasil korupsi.
N: Lihat pajak saya! Saya patuh pajak! Dari situ saja keliatan harta saya bersih dari korupsi. Yang ada, justru anda salah baca SPT pajak saya.
J: Hallah! Jangan sok pintar kamu. Kamu tuh korupsi. Sudah terima saja!
Urusan sama jaksa model bekicot sawah ini emang ruwet, mbak! Sabar ya!
Per Mertesacker, suspected to be (Mr @HandofArsenal) waved his good bye to The Arsenal management and team.
Gunner i hope you’re not dropping tears😭 😭
The entire Arsenal team and Fan wishes him good luck in his future endeavors.
It's been a really tough season for Martin Odegaard. Horrible, unfortunate injuries. In and out of the team, constantly being questioned. He'll admit it himself that at times he hasn't been at his best when he has been fit and available.
But that cameo today off the bench, that assist for Trossard.... The way he took responsibility, went and got the ball, broke the game open and made the decisive moment happen. Outstanding.
A captain's moment when his team needed him the most. You could see what it meant to him.
🚨🗣️ | Jose Mourinho BLAST Arsenal critics and Heaps praises on Arsenal team play:
“I have to be honest. I have to speak the truth. For months, I am listening to these people, these so-called 'experts' on the television, telling me that Arsenal are boring. They say Mikel has become too pragmatic, that they only play defensive football.
So, tonight, I decided to tune in. I wanted to see it for myself. And I must say, I am surprised. But I am not surprised by the defense I am surprised by the artistry
The way they move the ball, the verticality, the conviction in every single pass... it is high-level football. You look at the reading of the game, how they occupy the spaces it is fantastic. People talk about Barcelona, but let me tell you, even Barcelona at their best could not challenge this Atletico team in the Champions League. They would suffocate. But Arsenal? Arsenal did it. They broke them down with personality.
I don’t care what anybody says. I don’t care about the critics. For me, right now, this is the best team in the world. Simple. They deserve to be in this final, and they deserve to lift the trophy. When you play with this much heart and this much tactical discipline, you are at the top. Everything else is just talk."
Sebenernya semua masih bisa terjadi. Arsenal masih mungkin kepleset lagi. Manchester City masih mungkin nyalip lagi.
Tapi jujur lebih milih Arsenal juara musim ini 🫣
Sebagai apresiasi akan perubahan pandangan yg mereka alami musim ini.
Musim ini, Arsenal seakan jadi "public enemy" karena gaya main mereka.
Bahkan sampai dilabeli 'haramball'. Padahal secara rata-rata, mereka masih menguasai lebih dari 55% bola, peringkat tiga dalam urusan sentuhan di kotak lawan, jumlah penciptaan peluang besar, dan xG (setidaknya hingga pekan 35 ini).
Hanya karena permainan yg bagi sebagian orang kurang enak di mata, pertahanan kuat, dan sangat mengandalkan bola mati, mereka dimaki.
Para suporter Arsenal pun berbondong-bondong membela klub kesayangan mereka setiap kali serangan ini muncul.
Entah sadar atau tidak, musim ini telah berhasil mengubah pola pikir mayoritas dari mereka.
Karena ada masanya, Arsenal adalah tim yang sangat bangga akan "permainan cantik" mereka.
Ketika klub Inggris lain seakan menghalalkan segala cara untuk tiga angka, Arsenal asuhan Arsene Wenger berprinsip bahwa menang harus memanjaka mata. Harus dilakukan dengan gaya 🕺
Di Inggris, Arsenal lah yang mulai menanamkan pemikiran bahwa sepakbola itu harus memberikan harapan. Menang jangan asal, tapi juga harus "indah". "Victory through harmony," yang jadi motto Arsenal bahkan ikut dikaitkan dengan hal ini.
Namun, liat mereka sekarang. Mereka lelah main "indah" ala Wenger. Mereka mengorbankan idealisme yg ada, dan berhasil melihat keindahan dari sisi yg berbeda 🪟
Sekarang, Arsenal bangga jadi "Corner Kick FC", dan suporternya mati-matian membela hal itu.
Padahal dulu, Wenger yg menyebut Stoke City klub rugby 🏉
Dulu, melawan tim yg kuat secara pertahanan, dan efektif transisi sering bikin suporternya frustasi.
Setelah bertahun-tahun melihat Philippe Senderos, dan Pascal Cygan. Paling bagus mungkin Kolo Toure, Thomas Vermaelen, dan Laurent Koscielny. Musim ini, pertahanan kuat akhirnya mulai mereka apresiasi 🧱
Walaupun masih ada peluang untuk terpleset lagi. Akan menjadi kepuasaan tersendiri melihat Arsenal juara seperti ini.
Terlepas dari benar atau tidaknya label yg disamatkan pada mereka, karena semua bisa diperdebatkan. Ada yg mengatakan, persepsi adalah relita.
Berhasil juara pastilah prestasi. Prestasi yg sudah lama dinanti. Sekalipun di dalamnya terdapat ironi 🍺😉
Tonton kepanikan pejabat saat upaya mengkambinghitamkan Ibam runtuh di sidang 👇🏼
Masukan netral Ibam, dipelintir pejabat jadi Chromebook, sambil bilang itu arahan Ibam.
Pejabat tersebut akui terima aliran dana, dan membocorkan spek Chromebook ke vendor pemenang.
Tapi dia bebas, tidak jadi tersangka sama sekali, sedangkan Ibam dituntut 15 tahun penjara, denda Rp16,9 miliar, dan tambahan 7,5 tahun penjara jika tidak bisa bayar.
Dan kami sudah pasti tidak bisa bayar, Rp16,9 miliar itu dari salah paham surat saham, dan hanya "patut diduga" tanpa adanya bukti aliran dana sama sekali.
Tapi kebenaran sudah terungkap lewat fakta-fakta di persidangan.
Dari semua kebenaran yang terungkap, perkara Chromebook untuk kasus Ibam ini sebenarnya sederhana.
Ibam sebagai konsultan, sudah netral, profesional, tanpa kewenangan, tanpa kuasa, namun dikambinghitamkan pejabat-pejabat yang terlibat dalam pengadaan.
Kita tentu berharap proses hukum berjalan secara adil, jernih, dan berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan.
Namun tuntutan 22,5 tahun yang tidak masuk akal dan penuh ketidakadilan seperti menampar harapan kami tersebut. Kekuatiran kami terhadap adanya kriminalisasi terstruktur semakin dalam.
Kini harapan kami tertumpu pada teman-teman sekalian yang membaca pesan kami.
Tolong, suarakan ketidakadilan ini.
Kepada Presiden Prabowo, kepada Komisi III DPR, kepada siapapun yang kita tahu punya kepedulian dan kemampuan menyediakan perlindungan hukum dari kriminalisasi.
Sembilan hari menuju putusan. Kita masih bisa jadikan perkara ini preseden baik bagi semua profesional yang ingin berbakti bagi negara dengan keahlian mereka.
Bahwa tetap bisa ada perlindungan hukum dari kriminalisasi bagi seluruh pekerja pengetahuan yang ingin bantu Indonesia.
Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi.
Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas".
Saya tolak, ngga mau bohong & zalim.
Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka.
Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua.
Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan.
Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan:
Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri.
Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong.
Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran.
Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak.
Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.”
Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran.
Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar.
Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia.
Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe.
Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif.
Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah.
Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan.
Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir.
Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan.
Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan...
Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan.
Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini.
Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini.
Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara.
Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.