@tanyarlfes Ini contoh klasik dari yang namanya scapegoat atau 'kambing hitam'. Orang tua temannya lebih mudah nyalahin orang luar (si penulis tweet) daripada ngakuin kegagalan pengasuhan atau ngomong langsung sama anaknya.
Polisi dipuji sukses ngurus dapur embege, soalnya kalo ngurus bandar narkoba, judol, maling, penculikan, penyekapan, pelecehan, penjambretan, kehilangan barang masyarakat sipil mereka gak sukses babar blass.
@yuradelita Udah ngalamin sampe segitunya, yang bs dibilang, nyawa udah diujung senapan.
Tp bikin kebijakan dan tiap kali ngomong kaya ga ada empatinya sama sekali
"Suatu saat, di kelak kemudian hari, kekayaan yang ada di segelintir orang akan pelan-pelan menetes ke bawah"
Yang disebut Prabowo itu, dikenal sebagai trickle-down effect: salah satu ilusi ekonomi terbesar dalam sejarah kapitalisme modern.
Secara sederhana, ini adalah keyakinan bahwa kalau kelompok kaya dibiarkan makin kaya, diberi ruang akumulasi lebih besar, diberi insentif, atau dilindungi kepentingannya, maka pada akhirnya kekayaan itu akan “menetes” ke masyarakat bawah lewat investasi, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi.
Masalahnya, sejarah membuktikan bahwa teori ini sangat jauh dari kenyataan. kekayaan tidak otomatis menetes, yang terjadi justru kekayaan justru mengendap, berputar di lingkaran yang sama, lalu berubah menjadi kekuasaan politik.
Bahkan IMF sendiri pernah menunjukkan bahwa ketika porsi pendapatan kelompok terkaya naik, pertumbuhan malah justru cenderung melemah, sama halnya yang terjadi di Indonesia.
Pendeknya, trickle-down economics adalah dongeng paling sukses yang pernah dijual elite kepada rakyat miskin.
Dan dia adalah bagian dari elite yang menjual dongeng itu.
Bahlil soal Pertamax yang naik 32%:
"Pakai mobil Mercy, nongkrong di mal, minta BBM-nya disubsidi. Malu dikitlah."
Surya, ojol Semarang, juga pakai Pertamax.
Bukan karena gaya-gayaan. Motor injeksinya berkerak kalau diisi Pertalite, dia sudah coba 2 bulan. Sekarang kerja 7 jam sehari buat nutup selisih harga.
Agung, ojol Medan, mau pindah ke Pertalite tapi was-was sama mesin.
Nasi di warung langganannya naik dari Rp10.000 ke Rp12.000. Dia juga nambah jam.
Dua-duanya bukan pemilik Mercy, Pak Menteri.
Kalimat "malu dikitlah" itu terdengar gagah dari podium INDEF. Terasa berbeda dari balik stir motor ojol jam 7 pagi.
Mercedesnya di mana?
“politik ga ngaruh ke hidup gue”
tapi kopi lu naik 2.000
tapi bensin lu naik jadi 16.250
tapi rumah lu kebagian pemadaman bergilir
heran, padahal itu nyata bgt depan mata mereka
Baru habis di survey oleh BPS, shock banget sampe ditanya air minum galon isi ulang atau engga, tabung gas ada brp, kulkas ada brp, ac Ada brp, sampe aset ada apa aja… tanah atau rumah ada brp, gaji berapa, lemburan brp, uang makan nya berapa, liat ada usaha tanya lagi brp harga perpc barangnya, brp pc terjual perharinya, maksudnya kayak : “serius nih negara sekepo ini sama gue tp ga bantuin apa-apa?”