Anggep aja duit yg mau dicuci 50m
25m akan habis buat sewa, renov dkk.
25m dijadikan income yg mau dicuci.
Buat aja sales fiktif tiap hari, bilang aja salesnya dari B2B, expenses tetap.
Income “fiktif” yg dilaporkan harian dan masuk recap keuangan.
Cuma ini celahnya banyak
Kalau kamu bingung gimana cara membawa diri di tempat kerja,
nih, kenalin CHOKY SITOHANG.
TOP GLOBAL NGOLAH
Dari 1 konten videonya aja, banyak pelajaran yang bisa kita catat.
1. 00:13 "Kita kan menyesuaikan jadwal abang"
Kalau ditanya kapan mampir, atau ketemuan dengan seseorang yang "mungkin" lebih tinggi pangkat, status sosial, atau at least kamu hormati, kamu bisa pake kata-kata ini.
2. 00:21 "Bang, saya izin laporan ke yang bersangkutan"
Ini dipake ketika ingin menyudahi percakapan atau small talk tapi dengan cara yang halus.
3. 00:27 "Assalamualaikum, shallom, namo budaya, salam kebajikan"
Konteksnya karena di dalam ada bebeberapa orang dengan berbeda keyakinan, jadi sekalian sapa dengan salam sesuai kepercayaan mereka.
4. 00:45 "Akhirnya kita kenal juga, bang Asep"
Orang itu bakal lebih senang kalau kita tau nama dia, even baru pertama kali jumpa. Bisa baca name tag seandainya kamu benar-benar have no idea siapa nama dia.
5. 01:04 "Kapolres mohon izin, terima kasih Panglima, terima kasih Kapolda"
Detail kecil tapi berarti, untuk kasi respect ke orang yang kamu hormati. Misal di kantor dibeliin pizza sama bos, nah kamu bisa pake ini. "Bos, makasih ya pizzanya. Izin saya ambil, ya."
Siap buat ngolah? 😅
Mengapa banyak pedagang kaki lima ngaku omset mereka perbulan jauh lebih tinggi dari gaji karyawan, akan tetapi tetap hidup dalam kemiskinan? pernah denger ga?
1/ Sering gak sih denger pedagang kaki lima atau pasar pamer kalau omzet mereka puluhan juta sebulan, jauh di atas gaji kantoran?
Tapi anehnya, gaya hidup mereka tetep segitu-gitu aja, bahkan cenderung pas-pasan. Kenapa bisa begitu? Mari kita bedah kenyataan pahit di balik "ilusi omzet".
2/ Jebakan Batman Omzet ≠ Profit
Banyak orang (bahkan pedagangnya sendiri) sering tertipu melihat uang masuk. Mau omzet lo Rp1 miliar sebulan pun, kalau margin keuntungannya tipis, jatuhnya zonk. Misal jual gorengan Rp500 sebiji, tapi untung bersihnya cuma Rp50. Itu artinya margin profitnya cuma 10% Sisa uangnya? Habis lagi buat muter modal belanja besok pagi.
3/ Terjebak di Lingkaran Setan "Main Kuantitas" Karena margin keuntungan per produk kecil, satu-satunya cara biar dapet penghasilan layak adalah dengan jualan sebanyak-banyaknya. Main kuantitas = menguras tenaga berkali-kali lipat. Alhasil, fisik dan pikiran sudah habis terkuras habis buat kulakan, masak, dan jaga lapak dari subuh sampai malam.
4/ Gak Ada Waktu Buat Berkembang
Gimana seorang pedagang mau mikirin strategi ekspansi bisnis, bikin sistem, atau investasi, kalau kesehariannya aja udah bikin lelah pulang malem/dini hari? Energi otaknya habis cuma buat mikirin cara bertahan hidup hari ini. Akhirnya, bisnis mereka mandek dan jalan di tempat bertahun-tahun.
5/ Ilusi "Perasaan Berkuasa" (Self-Employee)
Satu hal yang bikin pedagang sering merasa di atas angin adalah perasaan bebas gak punya bos. Mereka ngerasa "berkuasa" atas waktu dan usahanya sendiri. Tapi hati-hati, perasaan berkuasa ini sering bikin cepet puas, padahal gak ada yang abadi di dunia usaha. Kalau pola pikirnya gak diasah buat berkembang, status self-employed ini sebenernya cuma kedok dari "kurang kerjaan" alih-alih cerdas nan mandiri.
6/ Gak Usah Nyinyir Sama Pegawai Kantor
Jadi, stop lah kebiasaan ngejek atau nyinyirin mereka yang milih jadi pegawai kantoran. Pegawai punya kepastian pendapatan, asuransi, dan jam kerja yang terukur. Realitanya, penghasilan bersih pedagang yang kerja rodi 15 jam sehari belum tentu lebih layak dari gaji bulanan pegawai yang kerjanya 9-to-5.
Kalian milih omzet gede tapi ga pasti atau gaji kecil tapi rutin?
[DIBUTUHKAN SEGERA] LOWONGAN KERJA PARUH WAKTU
⬛︎ GAJI ⬛︎
Rp 4.200.000 / hari (Total Rp 8.400.000 untuk 2 hari)
⬛︎ LOKASI & TANGGAL ⬛︎
Lokasi: Bekasi, Indonesia
Tanggal: 8 & 9 Juni
⬛︎ KUOTA ⬛︎
1 Orang
⬛︎ KUALIFIKASI ⬛︎
・Pria
・Berusia 20 tahun ke atas
・Memiliki fisik yang kuat
⬛︎ DESKRIPSI PEKERJAAN ⬛︎
Menetap sendirian selama 2 hari di properti yang akan kami tentukan di Bekasi. Selama di lokasi, wajib mematuhi aturan berikut dengan ketat:
❶Kunci rapat seluruh pintu dan jendela properti.
❷Dilarang keras membawa perangkat elektronik (Buku, makanan, dan minuman diperbolehkan).
❸Dilarang menyalakan lampu antara pukul 23:00 - 04:00 (Dilarang tidur pada jam tersebut).
❹Bakar dupa pada waktu yang sudah ditentukan.
❺Jika bel rumah berbunyi atau ada panggilan dari luar, dilarang keras keluar.
⬛︎ BARANG YANG DISEDIAKAN ⬛︎
・Senter
・Tasbih
・ Dupa
・ Kamera Video
Batas pendaftaran: 7 Juni pukul 23:00
Bagi yang berminat, silakan email ke:
[email protected]
[CATATAN]
※ Kami hanya akan membalas pesan pelamar yang terpilih.
※ Pekerjaan ini mungkin melibatkan risiko bahaya. Harap dipertimbangkan.
Guys, ada satu orang di debat Head to Head CNN Indonesia yang menurut gue paling berani dan paling jujur dalam menggambarkan kondisi ekonomi Indonesia sekarang.
Prof. Ferry Latuhihin pakar ekonomi dan analis pasar modal tidak basa-basi.
Tidak diplomatis.
Langsung ke inti.
Dan apa yang dia katakan sangat sulit dibantah.
Pertama tentang prediksi yang bikin banyak orang tidak nyaman:
Ferry memprediksi rupiah bisa menyentuh Rp20.000 di Juni, Rp22.000 di Juli, dan Rp25.000 di akhir tahun.
Banyak yang langsung menolak prediksi ini.
Tapi Ferry punya alasan yang sangat spesifik dan yang paling penting:
track record-nya selama ini benar.
Dia sudah prediksi IHSG ambruk benar.
Dia prediksi rating Indonesia di-downgrade benar. Dia prediksi dolar menembus Rp17.000 malah lewat.
Dan ini argumen intinya yang paling kuat:
"Kalau kamu bilang ini semua gara-gara faktor eksternal global coba lihat angkanya.
Saat mata uang negara-negara Asia lain menguat terhadap dolar rupiah tetap melemah.
Saat bursa Asia menghijau IHSG kita turun hampir 5% dalam sehari."
"Jadi kalau kamu taruh semua blame di faktor global
you must be wrong.
Karena boroknya ada di kita sendiri."
Dan ini tentang apa yang Ferry sebut sebagai borok internal yang paling mengejutkan:
Sebelum perang Iran bahkan dimulai Fitch dan Moody's sudah menurunkan outlook Indonesia.
Di angka pertumbuhan 5,11% yang seharusnya bagus lembaga rating justru memberikan sinyal negatif.
Kenapa?
Karena mereka melihat sesuatu yang tidak bisa disembunyikan oleh angka pertumbuhan:
kebijakan yang tidak bisa diprediksi dan tidak memberi kepercayaan kepada investor.
Contoh yang Ferry sebut:
begitu PT DSI didirikan S&P langsung menggonggong dengan ancaman downgrade.
Begitu Danantara diumumkan Fitch langsung memberikan rating sangat negatif.
"Ini bukan tentang apakah kebijakan itu niatnya baik. Pertanyaannya:
apakah investor percaya kebijakan itu benar atau koplak?"
Dan ini tentang lingkaran setan yang paling sulit dipecahkan:
Kalau pemerintah mengeluarkan obligasi baru dengan kupon lebih tinggi untuk menarik investor yang pertama kena dampaknya adalah asuransi, dana pensiun, dan bank sebagai pemegang SBN yang ada sekarang.
Nilai aset mereka turun.
Loanable fund berkurang.
Kredit ke ekonomi makin seret.
Tapi kalau tidak dinaikkan investor tidak mau masuk karena imbal hasilnya tidak sebanding dengan risiko.
"You cannot close the balloon here without it inflating somewhere else.
What a big nonsense you say every time oh ekonomi kita kuat 5,6% pertumbuhannya."
Dan ini yang paling relevan untuk kehidupan sehari-hari:
Ferry mengingatkan sesuatu yang sering dilupakan:
Indonesia masih impor kedelai untuk tahu tempe, masih impor gandum untuk roti, masih impor gula, masih curiga impor beras, masih impor jagung, masih impor pupuk dan tentu saja masih bergantung impor minyak.
Artinya setiap kali rupiah melemah semua harga bahan pokok itu ikut naik.
Bukan karena kebijakan harga domestik berubah.
Tapi karena bahan bakunya sendiri lebih mahal dalam rupiah.
Dan kondisi ini diperparah oleh sesuatu yang Ferry sebut shrinkflation harga barang tidak naik tapi ukurannya mengecil.
Ini tidak dihitung sebagai inflasi secara resmi tapi dampaknya ke kantong masyarakat sama saja.
Dan ini kalimat Ferry yang paling menohok tentang BI menaikkan suku bunga 50 basis poin:
"Diketawain sama market."
Bukan karena langkahnya salah secara teori.
Tapi karena hitungannya tidak masuk:
kalau US Treasury yield 4% dan Indonesia harusnya membayar risk premium minimal 3% di atasnya karena rating yang lebih rendah berarti SBN seharusnya diperdagangkan di yield sekitar 10%. Tapi sekarang masih di bawah 7%.
Artinya: investor yang rasional tidak akan masuk.
Dan yang sudah ada di dalam punya alasan kuat untuk keluar.
Dan ini yang paling penting dari seluruh analisis Ferry:
"Ini bukan temporary shock.
Ini systematic shock. Bedakan itu."
Temporary shock artinya ada gangguan dari luar yang akan reda sendiri.
Systematic shock artinya ada masalah struktural di dalam sistem yang tidak akan selesai hanya dengan menunggu.
Dan selama tidak ada mitigasi risiko yang nyata — bukan sekadar pernyataan bahwa fundamental ekonomi kuat tekanan terhadap rupiah tidak akan berhenti.
"Purbaya bilang tenang aja ini temporary.
Kalau temporary kenapa dari tahun lalu terus naik? Temporary apanya?
Ferry bukan sedang menakut-nakuti.
Dia sedang menjalankan fungsi yang paling penting dalam ekonomi: memberikan sinyal yang jujur ketika sinyal resmi tidak mencerminkan realitas.
Dan realitasnya sekarang adalah: rupiah di Rp17.900 bukan hanya angka di layar. Itu adalah hasil akumulasi dari masalah kepercayaan yang sudah menggerus selama berbulan-bulan
dari kebijakan yang tidak konsisten, dari program besar yang dipertanyakan tata kelolanya, dan dari narasi optimisme yang tidak didukung oleh tindakan mitigasi yang nyata.
Masalah kepercayaan tidak bisa diselesaikan dengan pidato. Hanya bisa diselesaikan dengan rekam jejak — dengan kebijakan yang konsisten, transparan, dan bisa diprediksi.
Dan sampai itu terjadi Ferry mungkin benar.
mungkin bulan depan kita akan bertemu
rupiaah di 20.000/usd
Bapak bayar BPJS tiap bulan. Rp 100.000.
4 tahun. Total hampir Rp 5 juta.
Bapak mungkin mikir: "Ya kan buat jaga-jaga. Kalau sakit baru dipakai."
Justru itu. Gak perlu nunggu sakit.
Kacamata? Bisa diklaim. Bersihin karang gigi? Ditanggung. Tambal gigi? Gratis. Dan jutaan orang GAK TAU. Termasuk mungkin Bapak
Guys, Ahok baru ngomong sesuatu soal Chromebook dan MBG yang menurut gue paling jujur dan paling berani dari siapapun yang gue dengar dalam beberapa bulan terakhir.
Dan dia ngomongnya
bukan sebagai pembela Nadiem.
Dia ngomong sebagai orang yang paham betul bagaimana sistem pendidikan dan teknologi seharusnya bekerja.
Soal Chromebook dan kenapa Ahok marah:
Ahok bilang dengan sangat tegas:
pengadaan Chromebook itu sebenarnya adalah kebijakan yang sangat masuk akal secara logika.
Chromebook itu bukan laptop biasa.
Operating system-nya berbasis cloud sekali beli langsung include semuanya, tidak perlu diperbarui terus-menerus.
Harganya jauh lebih terjangkau
dari laptop konvensional.
Dan yang paling penting sistemnya dirancang agar anak tidak bisa nonton video porno, tidak bisa judi online, dan seluruh aktivitas belajar bisa dipantau.
Ahok kasih contoh nyata.
Ada guru di Jawa Barat yang punya empat sertifikat internasional bisa mengajar di level dunia. Ujiannya hanya 10 dolar.
Bayangkan kalau semua guru Indonesia bisa akses sertifikasi seperti itu lewat Chromebook yang terhubung Starlink di daerah terpencil anak di kampung tiba-tiba bisa belajar setara dengan anak di Kanada atau Australia.
Itu bukan mimpi.
Itu sudah bisa dilakukan sekarang dengan teknologi yang ada.
"Bayangin kalau semua anak kita di kampung ada Starlink juga kan.
Anak di kampung kita tiba-tiba belajar setara dengan orang di Kanada atau di Amerika atau di Australia."
Lalu kenapa Ahok merasa ini sengaja dihambat:
Ahok bilang dengan sangat hati-hati karena takut diproses hukum lagi tapi dia tetap bilang:
"Saya pikir ini sengaja."
Logikanya sederhana dan sangat keras.
Kalau rakyat pintar, rakyat kritis, rakyat bisa akses informasi dari mana saja mereka lebih sulit dikuasai.
Lebih sulit dibohongi.
Lebih sulit dimanipulasi menjelang pemilu.
Sistem yang membiarkan rakyat bodoh dan miskin adalah sistem yang menguntungkan mereka yang berkuasa.
Karena rakyat yang bodoh dan miskin lebih mudah disuap dengan sembako, lebih mudah digiring dengan hoaks, lebih mudah dikontrol dengan ketergantungan pada program-program yang terkesan murah hati tapi tidak memberdayakan.
MBG- makan bergizi gratis menurut Ahok adalah contoh dari cara berpikir yang sama.
Daripada kasih rakyat laptop yang bisa membuka pintu dunia, lebih mudah kasih makanan yang habis dimakan dan orang tetap tergantung besok makannya dari mana.
"Kalau saya tanya mau bikin sekolah bagus,
kasih makan bergizi atau rakyat punya laptop yang bisa komunikasi ke mana-mana?"
Yang paling menohok soal survei dan legitimasi:
Ahok tidak berhenti di situ.
Dia lanjutkan dengan sesuatu yang sangat pedas.
Pemerintah melakukan survei.
Rakyat bilang mereka suka makanan gratis.
Lalu itu dijadikan legitimasi untuk program MBG.
Seolah-olah karena rakyat minta ya sudah diberikan.
Tapi Ahok membaliknya:
kalau kamu memberikan sesuatu kepada orang yang tidak pernah tahu bahwa ada pilihan yang jauh lebih baik tentu mereka akan pilih yang ada di depan mata.
Itu bukan preferensi yang genuine.
Itu keterbatasan informasi yang dimanfaatkan sebagai justifikasi.
"Mereka juga pintar.
Dia survei, Pak.
Rakyat suka makanan itu jadi legitimasi."
Dan soal Nadiem yang sekarang dituntut 27 tahun:
Ahok tidak membela Nadiem secara personal.
Tapi dia bilang satu hal yang sangat logis dan sangat sulit dibantah:
Menteri itu tidak pernah menyentuh
anggaran secara langsung.
Menteri membuat kebijakan.
Yang mengeksekusi adalah birokrasi di bawahnya.
Kalau ada yang salah dalam eksekusi pertanyaannya adalah:
apakah menteri yang memerintahkan secara eksplisit?
Apakah ada aliran dana yang bisa dibuktikan masuk ke kantong menteri?
PPATK sudah menjawab:
tidak ada.
Nol aliran dana ke Nadiem dari siapapun.
"Saya pikir ya ini soal profesionalisme.
Menteri kan enggak pernah nyentuh anggaran perantaran kan, kecuali dia nyuruh ya atau terima ya."
Ahok tidak sedang bicara soal
Chromebook sebagai produk.
Dia sedang bicara soal pilihan fundamental sebuah bangsa:
apakah kita mau membangun rakyat yang pintar dan mandiri, atau kita mau mempertahankan sistem di mana rakyat tetap bergantung pada belas kasihan penguasa?
MBG memberikan makan hari ini.
Chromebook bisa mengubah nasib seumur hidup.
Dan ketika kebijakan yang lebih transformatif justru dipersoalkan secara hukum sementara program yang lebih konsumtif dirayakan sebagai prestasi itu bukan kebetulan.
Itu adalah pilihan yang sangat disengaja oleh mereka yang paling diuntungkan dari rakyat yang tetap tidak berdaya.
Padel mulai sepi karena udah gak eksklusif lagi.
Tren padel dulu dimulai sama bule expat dan anak Jaksel. Dalam setahun, semua orang FOMO bangun court.
Hasilnya, nilai eksklusif padel menurun. Begitu mainstream, the original crowd yang bikin padel cool langsung cabut.
Mereka pindah to the latest cool sport: HYROX.
Without them, massa yang ikut2an main padel just to hang around these "cool people" juga stop main.
One day, HYROX will decline too, dan trennya akan pindah lagi ke sport baru.
And the cycle repeats.
Anjir jadi rame pindah dari marketplace. Lagian mau-mauan diperbudak. 🤣 Kerja buat marketplace kan lama-lama. Kalau gak nurut tinggal di kill switch, toko tenggelem aja pokoknya.
Lagian apa kalian gak mikir, kenapa marketplace owner ga buka toko sendiri aja? Ngapain naikin produk kalian? Kalian yakin owner2 marketplace itu gak punya toko sendiri? Senaif itukah? 😂
Ngapain naikin toko kalian, mending naikin toko dia sendiri. Cuan tebal. Kalau toko kalian mau naik ya iklan. Siapa emang yg menjamin keadilan algoritmanya? LOL
24 Oktober 2004. Arsenal away ke Old Trafford sambil bawa rekor gila: unbeaten di 49 match Premier League.
Misi mereka jelas mau menang lawan United. Peak shihousery kan kalo bisa genapin rekor jadi 50 match, di kandang rival pula.
Match super intens, secara fisik maupun mental. Keras. United akhirnya menang 2-0 secara kontroversial karena di situ banyak keputusan wasit yg dianggap ngerugiin Arsenal.
Selesai pertandingan, Sir Alex jabat tangan Arsene Wenger. Dua-duanya gak eye contact. Abistu, Wenger masih di lapangan, protes ke wasit, sementara Sir Alex langsung masuk tunnel (lorong) ke arah ruang ganti.
Nah di sini serunya.
Pemain digiring ke tunnel, dan beberapa dr mereka masih ribut-ribut. Rio Ferdinand di podcast-nya cerita, pas masuk tunnel dia ngeliat banyak pemain United & Arsenal udah berkerumun, teriak2 dan pengen tonjok-tonjokan.
Tiba-tiba, muncul seonggok kakek-kakek 63 tahun alias Sir Alex yg kebingungan. Lebih bingung lagi, di pipinya ada satu slice pepperoni pizza nempel. 😭
Di autobiografinya, Sir Alex cerita: “Pokoknya tau-tau ada pizza di muka saya. Kami emang suka naro makanan di ruang ganti lawan tiap match waktu itu. Pizza, ayam. Arsenal juga gitu, dan makanan mereka itu terbaik.
Katanya yg lempar pizza ke muka saya si Fabregas, tapi sampe skrg saya ga tau pelaku aslinya siapa.”
Wayne Rooney sempet cerita juga di sebuah podcast kalo bbrp hari setelah kejadian itu mereka tuh udah tau yg lempar itu Fabregas.
Apakah pelaku aslinya beneran Fabregas? Ternyata iya. Dia cerita kalo waktu itu lagi asik makan di dalem ruang ganti, terus denger ribut2 di luar. Pas buka pintu, temennya pada ribut.
Fabregas yg masih 17 tahun fomo pengen join, tapi sadar badannya kecil. Nyari cara lah dia biar bisa ikut chaos. Dia ngambil satu slice pizza, dilempar asal ke kerumunan, terus nemplok pipi Sir Alex. 😭
Fabregas sendiri akhirnya minta maaf (gak langsung) krn kejadian itu. Ada-ada aja cerita pelatih Como ini.
Hari ini si pelempar pizza itu ulang tahun yg ke-39. Happy birthday, Cesc XD
Guys kalau lu gaji UMR dan lagi mikir kredit motor — baca ini dulu.
Motor harga Rp18 juta. Kredit 5 tahun. Cicilan kelihatan ringan sekitar Rp400 ribuan per bulan.
Tapi total yang lu bayar Rp24 juta sampai Rp28 juta.
Motor yang lu beli seharga Rp18 juta lu bayar hampir Rp28 juta.
Selisihnya Rp10 juta. Untuk motor yang begitu kelar lunas nilainya sudah turun jadi Rp8 juta kalau dijual.
Jadi lu rugi dari dua sisi.
Bayar lebih mahal dari harga asli. Dan barangnya sudah turun nilai saat lunas.
Tapi ini belum selesai.
Tambahkan bensin. Servis. Pajak tahunan. Ban. Oli. Dalam 5 tahun biaya operasional motor bisa Rp15 juta sampai Rp20 juta lagi.
Total pengeluaran real untuk motor Rp18 juta yang dicicil 5 tahun bisa sampai Rp46 juta sampai Rp48 juta.
Hampir tiga kali harga aslinya.
Dan lu bayarnya pakai gaji UMR yang setelah makan, kos, dan kebutuhan dasar sudah hampir tidak tersisa.
Solusinya bukan jangan beli motor. Tapi kalau memang butuh beli cash second. Motor bekas 3 tahun harga Rp8 juta cash jauh lebih masuk akal dari motor baru kredit 5 tahun yang total biayanya Rp46 juta.
Kelihatannya beda tipis per bulan. Tapi dalam 5 tahun bedanya puluhan juta.
Dan puluhan juta itu kalau diinvestasikan bisa jadi sesuatu yang nyata.
Baru isi kuota 10GB, seminggu udah habis?
Bukan lo yang boros.
Ada app yang diem-diem sedot kuota di background tanpa lo buka.
Gue dulu habis 15GB/bulan, sekarang cuma 6GB dengan aktivitas yang sama persis.
Gini caranya:
Ngobrol sama temen gue yang kerja di counter HP kayak Erafone:
Katanya makin deket Lebaran, makin banyak yang pake “trik cepat dapet cash”. Ambil HP baru harga 17–20 jutaan pakai cicilan, tenor 12–18 bulan. Baru juga keluar dari box, langsung dijual lagi di harga 14–16 jutaan.
Rugi di depan? Jelas. Belum kepotong bunga cicilan, udah minus duluan. Tapi tetep dilakuin, yang penting pegang duit cash buat Lebaran entah buat kebutuhan, gaya hidup, atau sekadar “biar keliatan aman”.
Ironisnya, ini bukan kejadian satu dua orang… udah jadi pola tiap tahun. Jadi jangan heran kalau masalah keuangan di sini bukan cuma soal kurang duit, tapi cara mikir yang kadang masih short-term banget.
Ada bangunan kost di daerah kampus Jogja dijual seharga Rp8 Miliar. Kos itu umurnya udah puluhan taun, bangunannya jelek dan sering kosong karena kalah bersaing sama kos2an lain yang lebih modern.
Orang yang ga punya pengetahuan finance dasar tanpa pikir panjang bakal beli buat penghasilan pasif.
Sedangkan kita yang ngerti langsung bikin itungan kasar di kepala.
Harga kostan Rp8 Miliar, biaya renov biar jadi kost eksklusif Rp2,5 Miliar, total capital expenditure Rp10,5 Miliar.
Rencananya, kita mau bikin 20 kamar kos, per kamar disewain Rp2juta sebulan jadi kalo penuh terus dalam setaun kita dapat Rp480 juta.
Untuk bayar penjaga, listrik, sampah, dan cadangan biaya renov, kita perkirakan 30% dari total pendapatan Rp480 juta, sisa keuntungan bersih jadi Rp336 juta setahun.
Untuk menghitung yield investasi, kita bagi antara pendapatan per tahun dengan CAPEX, jadi Rp336 juta / Rp 10,5 miliar, ketemulah yield 3,2% per tahun.
Yield 3,2% ini jauh lebih rendah dari obligasi negara yang ngasih 6% setahun, padahal obligasi negara ini bisa dikatakan risk free asset, kemungkinan gagal bayar sangat kecil, kita juga ga perlu effort apapun buat dapat 6% itu.
Ada yang bilang, kalo bisnis rental properti keuntungannya bukan di yield tapi di kenaikan harga aset, pertanyaannya, dengan yield yang sekarang cuma 3,2%, siapa yang mau beli properti tersebut dengan harga tinggi dan dapat yield di bawah 3,2%?
Terus, berapa harga yang pantas untuk beli properti tersebut?
Bisa kita hitung dengan formula:
Yield yang kita syaratkan = risk free rate + risk premium
Misal risk premium 1%, berarti total yield yang kita syaratkan 7%. Untuk mendapatkan yield tersebut dengan asumsi keuntungan bersih Rp336 juta dan biaya renov Rp2,5 miliar, berarti harga tanah harus turun ke Rp2,3 miliar.
jadi gini klasifikasi pekerja sekarang itu ada 2, PKWT dan PKWTT :
PKWT itu : karyawan kontrak
PKWTT itu : karyawan tetap
PKWT itu : di PHK dapet Kompensasi
PKWTT : di PHK dapet uang pesangon
istilah UMR itu ga kepake lagi, sekarang Pakenya UMK
UMR : upah minimum regional
UMK : Upah minimum kabupaten/kota