pergilah dengan cara yang senyap, kecewalah dengan cara yang elegant, tutup semua akses agar dia gak bisa masuk lagi.
naikin value-mu, perbaiki dirimu, ubahlah yang bisa diubah dari dirimu, biarkan dia mendengar kabar tentangmu dari orang lain.
bukankah itu cara balas dendam terbaik?
habiskan cintanya, sakitnya, sabarnya, tetaplah baik tetaplah mengalah, tetaplah diam, sampai kamu capek secapek-capeknya, jika kamu rasa sudah saatnya untuk pergi, maka pergilah sejauh mungkin dan selamanya, dia tidak akan pernah melihat lagi versimu di dalam diri siapapun.
dalam lubuk hatiku, aku cuman ingin mencintai seseorang tanpa harus khawatir apakah dia akan menyudahi hubungan ini jika di hari yang tidak terduga kita berselisih paham.
back hugs, hand-holding, kisses, planned dates, spontaneous dates, sending me your favorite songs, telling me about your day, you wanting to know about my day, having inside jokes, and having deep conversations? yes, please.
Percayalah, hubungan yang pernah membuatmu meneteskan air mata itu bukan karena kamu lemah, melainkan karena kamu terlalu tulus mencintai seseorang yang memang bukan takdirmu.
normalize leaving people to avoid empathy burnout. yes, i love you, but i am tired of having to ask you to consider me, and i am tired of you not seeing where you went wrong.
enggak ada yang beneran baik-baik saja setelah patah hati, apalagi patah hati karena mengakhiri hubungan dengan orang yang paling kita sayang.
bahkan setelah ngambil keputusan itu banyak hari buruk yang dilewati, harus melawan ego, kangen, bahkan rasa sayang yang harus dipendam sampai hilang.