Ada tiga kondisi tentang Asia Tenggara yang selalu menarik perhatian saya:
- Pertama, bentangannya. Jarak dari ujung barat Myanmar hingga Merauke sekitar 5.000 km, kurang lebih setara Los Angeles ke Boston. Dari utara ke selatan, sekitar 4.000 km, sebanding dengan London ke Teheran.
- Kedua, skalanya. Kita adalah 9% populasi dunia, dan ekonomi terbesar kelima di planet ini.
- Ketiga, zamannya. Kita hidup di dunia yang kian multipolar.
Tiga kondisi ini semestinya menempatkan kita di pusat percakapan global. Namun kemampuan kita menarasikan diri sendiri masih menyimpan banyak ruang untuk diperbaiki. Dan ini bukan soal yang bisa ditunda, justru karena kita hidup di dunia yang multipolar.
Sebab di dunia seperti itu, posisi kita istimewa. Asia Tenggara mampu menempatkan sebuah swing region. Ini memberi kita optionality yang langka: merapat ke Tiongkok untuk sebagian kebutuhan, ke Barat untuk sebagian yang lain.
Dan ini penting, karena pembangunan kita bergantung pada dua jenis modal dari dua arah berbeda:
1. Tiongkok kian menjadi penyedia modal teknologi, inovasi yang lebih terjangkau dan bisa diskalakan.
2. Barat, dengan likuiditas global yang mencapai USD 140 triliun, tetap menjadi penyedia modal ekonomi. Menjadi kebutuhan eksistensial, di tempat yang ruang fiskal dan moneter secara struktural terbatas.
Ada satu anomali sejarah yang harus kita pahami. Dalam 2000 tahun, kawasan ini merupakan manifestasi dalam menjaga peace and stability. Dan jiwa perdamaian menjadi sine qua non utk menarik modal dan meningkatkan kapasitas translasi.
Tapi semua ini pada akhirnya berpangkal pada satu titik yang sama: investasi di pendidikan, dan pada guru. Karena kemampuan menarasikan diri, menegakkan hukum, dan menerjemahkan optionality menjadi kemajuan yang nyata, semuanya lahir dari kualitas berpikir sebuah bangsa.
Mungkin saja salah satu cara yang bisa digunakan adalah utk mengkaji ulang kedudukan ASEAN dan sedikit lebih bisa mengamanahkan (bukan hanya mengsosialisasikan) kepentingan penyelarasan kualitas pendidikan sekolah dasar dan tinggi untuk masing2 dari sebelas anggota negara ASEAN.
Dan kualitas berpikir itu bisa dibentuk di ruang kelas dan, alangkah indahnya apabila, kualitas berpikir itu terbentuk dan termanifestasi di seluruh ruang yang ada – termasuk sekolah, rumah tangga, perkantoran, tempat ibadah, dan institusi sosial.