Jerome Polin kembali berikan pendapat dan merasa capek tiap hari liat berita buruk, melalui akun sosmed nya ia bilang:
"Jujur at this point aku bingung, kita sebagai rakyat tuh bisa apa sih? speak up di sosmed udah, ga didenger. Dilawan pake buzzer lagi. Demo udah, ga ada perubahan. Dilawan pake demo bayaran. Ada cara apalagi?? Segakbisa ngapa-ngapain itu kah?
Asli bingung dan bertanya2, apa masih ada harapan?
Yang berkontribusi malah dikriminalisasi. Terus harus apa? Bisa apa?
Rakyat susah cari kerja, kualifikasi harus S1 minimal. Eh ada yang ga lulus S1 jadi komisaris, segampang itu?"
pengen marah sekaligus sedih bgt anjirlah
kita tau ibunya (bu Ijah) berusaha untuk tersenyum depan kamera sambil ngitung duitnya tapi hatinya pasti tersayat-sayat 🥺
bayangin aja perjuangannya NGAJAR 40 TAHUN pas pensiun cuman dihargai 414 RIBU 🥲
Scrolling is pure evil. An hour of brainrot doesn’t just leave a hole where something meaningful could have been but also actively degrades the machinery you’d need to fill that hole.
It corrupts your capacity for sustained attention. Books become harder, conversations feel slower, your own thoughts start to bore you. Over time, the range of things that can hold your interest narrows until you’re left with a shrinking circle of stimulation that only the algorithm can satisfy.
It erodes your relationship to yourself. Curiosity fades. Compassion requires a kind of patient attention that atrophies. You stop wondering what you care about because the question itself feels effortful. What’s left is a stable, “comfortable” numbness. Not only five years subtracted from your life, but a slow hollowing out of the person who would have lived them.
Learn new languages. Learn how to draw. Discover forgotten histories. Dive into research, psychology, or analytical books.
Go swim deeper. Go trek farther. Understand the railways, the skies, the universe itself.
The world isn’t small, it's boundless!
Gue suka banget sama statement ini nih:
Sebenarnya pekerjaan yang lagi lo tekunin sekarang itu adalah hadiah terbaik yang Allah kasih khusus buat lo. Makanya lo ditakdirin berada di posisi ini, meskipun dari sananya bukan bidang atau pilihan lo sama sekali.
Lanjut...
personal boundaries:
- ga diajak, jangan ikut
- ga dikasih tau, jangan kepo
- ga didengerin, berhenti bicara
- ga dilibatkan, jangan ikut campur
- ga diminta, jangan memberi saran
- ga diprioritaskan, jangan memprioritaskan.
✨Cara KELOLA STRES adaptif tuh gini cuy:
1. Harus punya hobi
2. Journaling
3. Latihan mindfulness, pahami dikotomi kendali
4. Banyak gerak & rutin olahraga! Ini penting & bantu banget
5. Latihan relaksasi napas dalam tiap hari
6. Ga begadang, ini jg ngaruh!
7. Punya temen curhat 1 aja minimal
8. Latian afirmasi positif diri sendiri
9. Klo stres berlebihan, konsultasi psikolog
✨Kalo cara ini biasa yang umum dilakuin ada tambahan gk dari lo?? Ciakakkaka
Percaya gak sih, semakin kamu sering menceritakan tujuanmu ke banyak orang, semakin kecil kemungkinan kamu benar-benar melakukannya.
Kenapa?
Karena setiap kali kamu membicarakan rencana besar seperti mau diet, mau bisnis, mau jadi sukses, mau rajin belajar, otakmu menerima respons sosial.
Orang bilang, “Wah keren!”
“Semangat ya!”
“Kamu pasti bisa!”
Dan tanpa sadar, otakmu sudah mendapat rasa pencapaian kecil. Secara psikologis, pengakuan sosial itu memicu rasa puas. Seolah-olah sebagian tujuan itu sudah tercapai.
Padahal kamu belum mulai apa-apa.
Inilah kenapa beberapa orang yang benar-benar berhasil justru cenderung diam.
Mereka bekerja dalam sunyi, bukan sibuk mengumumkan. Karena tindakan memberi kepuasan yang nyata bukan hanya validasi semata.
Coba ingat-ingat lagi deh, berapa banyak rencana yang dulu kamu ceritakan dengan semangat… tapi akhirnya berhenti di tengah jalan? Soalnya aku sering merasa gitu, even hal kecil kaya “besok mau olahraga”