Portugal punya gelandang top dan kreativ, joao neves, vitinha, bruno, bernardo. Tapi mereka semua ga ada yg bisa perform. Entah karna puncaknya udh abis waktu di club atau pelatih yg ga punya kemampuan meramunya
🔥Atlet Terbaik Indonesia Pekan Ini🔥
Desak Made Rita Kusuma Dewi🇮🇩, 25 tahun, asal Buleleng
3 medali dari World Climbing Series Krakow, 2026
🥇Emas
🥈Perak, mixed relay bersama Antasyafi Robby Al Hilmi
🥉Perunggu, women's relay bersama Rajiah Sallsabillah
Bonus: Berani melakukan protes lantang melalui wawancara internasional.
📸: IFSC
‼️SELESAI‼️
World Climbing Series, Krakow 2026
Kontingen Indonesia
✅7 atlet
✅1 pelatih
✅0 official
✅0 fisioterapis
✅0 masseur
✅0 detik waktu latihan dan adaptasi
🥇Emas (Desak Made Rita)
🥈Perak (Mixed Relay: Desak Made Rita-Antasyafi Robby Al Hilmi)
🥉🥉Perunggu (Raharjati Nursamsa, Women's Relay: Desak Made Rita-Rajiah Sallsabillah)
Seandainya pemerintah lebih mendukung..
❌Tanpa fisioterapis
❌Tanpa masseur
❌Tanpa latihan dan aklimatisasi krn kedatangan mepet
❌Hanya didampingi satu pelatih
❌Keberangkatan sampai akhir Juni tdk jelas.
❌TIDAK DISUPPORT PEMERINTAH
Lalu dgn banyak keterbatasan bisa mendapatkan emas di World Climbing Series itu menunjukkan kualitas seorang Desak Made Rita.
Seorang yg terkenal di lingkungan Pelatnas sangat berkomitmen, fokus, pekerja keras, punya mental tahan banting.
Rita adl pahlawan bangsa.
Tp ironisnya ia bertarung dgn birokrasi yang ruwet, bertarung dgn ketidakjelasan prioritas anggaran, bertarung dgn politikus2 yg memanfaatkan namanya hanya ketika dia menang.
“my (our) government didn’t support us”
dawg while indonesia is one of the powerhouse countries for speed category?? WE SERIOUSLY NEED TO NUKE THE GOVERNMENT
@panditfootball Emg harusnya ga ikutan piala dunia si. Wasit jg tadi emg karna kasian aja itu ngasih penalti.
Neymar pernah jadi pemain hebat di masanya, dan skrg dia udh bener bener selesai
Guys, Ligwina Hananto baru ngomong panjang dan sangat jujur tentang kondisi keuangan kelas menengah Indonesia dan menurut gua ini adalah salah satu obrolan paling membuka mata yang pernah ada.
Dan dia membuka dengan satu kalimat yang langsung menghantam.
Banyak banget yang kita bilang UMKM tulang punggung ekonomi negeri ternyata bukan. Ternyata itu cuma orang lagi dagang doang.
Soal kondisi kelas menengah yang sebenarnya dan ini datanya nyata bukan opini.
10 juta orang turun kelas dari kelas menengah dalam beberapa tahun terakhir.
Tapi di saat yang sama jumlah UMKM terus naik dan jumlah investor retail terus naik.
Kelihatannya paradoks.
Tapi Ligwina menjelaskan kenapa dua hal itu bisa terjadi bersamaan.
Ekonomi kita tumbuh tapi pertumbuhan penghasilan individu tidak signifikan.
Konsumsi terus meningkat tapi dibiayai oleh utang bukan oleh penghasilan yang naik. 70 persen konsumen Indonesia pakai paylater.
Dan inklusi keuangan yang naik cepat karena digital artinya akses utang makin mudah tapi literasi keuangan tidak naik secepat itu.
Hasilnya adalah orang punya lebih banyak akses untuk berhutang tapi tidak punya lebih banyak kemampuan untuk mengelola hutang itu. Dulu hutang ke rentenir atau saudara tidak tercatat.
Sekarang hutangnya ke pinjol dan terdata.
Bukan berarti lebih banyak yang berhutang tapi yang berhutang sekarang lebih kelihatan.
Soal perbedaan dagang dan bisnis dan ini adalah insight paling penting dari seluruh obrolan yang menurut gua wajib didengar semua orang yang punya usaha kecil.
Dagang adalah jual beli jual beli jual beli.
Tidak ada sistem.
Tidak ada laporan keuangan.
Tidak ada tim.
Ownernya adalah Chief Everything Officer mengerjakan semua dari produksi sampai pemasaran sampai keuangan sampai pengiriman.
Bisnis adalah entitas yang terpisah dari ownernya. Punya sistem.
Punya tim.
Punya laporan keuangan yang jelas.
Dan yang paling penting ownernya bisa gajian dari bisnis itu secara rutin dan terpisah dari uang operasional bisnis.
Masalah terbesar UMKM Indonesia adalah mereka mengaku punya bisnis padahal masih di level dagang.
Dan selama masih level dagang maka uang hasil jualan langsung masuk ke kantong pribadi untuk kebutuhan hidup tidak ada yang tersisa untuk modal, tidak ada yang dicatat, tidak ada yang bisa diaudit, dan tidak mungkin bisa dapat pinjaman bank.
Soal prinsip paling dasar yang wajib dimiliki siapapun yang punya usaha Ligwina mengambil dari prinsip Islamic Finance tapi berlaku universal.
Jelas tercatat transparan.
Seolah-olah ada investor lain yang akan melihat catatan itu.
Kalau kamu membangun bisnis dengan mindset ada orang lain yang akan mengecek laporan keuanganmu maka secara otomatis kamu akan lebih disiplin.
Kamu tidak akan sembarangan pakai uang bisnis untuk beli lipstik atau baju karena kamu tahu itu akan kelihatan dan akan ada yang bertanya.
Dan satu cara paling sederhana untuk memulai ini tanpa harus langsung bikin laporan keuangan formal adalah pisahkan rekening bisnis dari rekening pribadi. Semua transaksi bisnis masuk dan keluar dari satu rekening.
Di akhir bulan tidak perlu mencatat apapun karena mutasi rekening sudah mencatat semuanya secara otomatis.
Soal utang dan Ligwina sangat tegas tentang ini.
Di kepala kebanyakan orang Indonesia pinjam itu kalau kepepet.
Padahal yang benar adalah pinjam itu kalau mau ekspansi dan sudah jelas cara bayarnya.
Utang yang sehat adalah utang yang cicilan per bulannya tidak lebih dari 30 persen dari penghasilan.
Kalau sudah ada cicilan rumah dan cicilan motor yang totalnya sudah 25 persen dari gaji maka kapasitas utang tersisa hanya 5 persen.
Artinya tidak boleh ambil utang baru apapun alasannya.
Dan untuk bisnis lebih ketat lagi sebelum boleh pinjam modal saldo rekening bisnis harus bisa menutup cicilan 3 sampai 4 bulan ke depan kalau tiba-tiba tidak ada pemasukan sama sekali.
Karena bisnis tidak sekontrol karyawan yang gajinya pasti masuk setiap bulan.
Soal investasi dan ini bagian yang paling sering disalahpahami.
High risk high return itu mitos.
Yang benar adalah high risk maybe yes maybe no return.
Risiko tinggi tidak menjamin return tinggi.
Risiko tinggi hanya menjamin kemungkinan kehilangan uang juga tinggi.
Dan yang paling fundamental investasi bukan untuk jadi kaya raya tanpa batas.
Investasi yang benar adalah investasi yang punya tujuan spesifik dan tahu kapan exit.
Mau berangkat umrah angkanya berapa?
Mau beli rumah angkanya berapa?
Mau sekolahkan anak angkanya berapa?
Kalau sudah sampai angka itu keluar.
Jangan terus tahan karena serakah.
Ligwina menyebut ini sebagai masuk jalan tol ada exit gate-nya. Masalahnya adalah banyak investor retail yang masuk tol tapi lupa di mana mereka mau keluar.
Soal rumus keuangan pribadi 10-20-30-40 yang Ligwina ajarkan.
Dari total penghasilan 10 persen ditabung minimal tidak bisa kurang dari ini.
20 persen untuk gaya hidup dan bersenang-senang. 30 persen untuk cicilan utang maksimum.
40 persen untuk biaya hidup dasar.
Kalau biaya hidup di kota besar memakan 60 persen maka yang dikorbankan pertama adalah gaya hidup. Bukan tabungan.
Bukan cicilan.
Tapi gaya hidup.
Dan kolesterol keuangan adalah angka cicilan utang. Kalau kolesterol tubuh batasnya 200 maka kolesterol keuangan batasnya 30 persen.
Kalau cicilan sudah di atas 30 persen dari penghasilan ada yang salah dan perlu segera diperiksa.
Soal satu hal yang paling keras Ligwina sampaikan dan ini ditujukan bukan kepada masyarakat tapi kepada pembuat kebijakan.
Mengajarkan financial planning kepada orang yang penghasilannya sangat rendah atau tidak punya uang adalah sebuah kekejaman.
Apalagi yang mau diatur?
Apalagi yang mau dihemat kalau semuanya sudah ngepas?
Orang miskin yang dibutuhkan bukan edukasi finansial.
Yang mereka butuhkan adalah lapangan kerja yang layak, pendidikan yang terjangkau, dan akses kesehatan yang mudah.
Itu namanya kebijakan publik bukan financial planning.
Dan selama kebijakan publik belum beres maka jurang antara si punya dan si tak punya akan terus melebar dan friksi sosial yang bisa berujung kekerasan tinggal menunggu waktu.
uang itu netral. Uang tidak punya perasaan. Yang banyak baper adalah manusianya.
Dan selama kita masih baper dengan tampilan kekayaan orang lain di media sosial selama kita masih mengira dagang adalah bisnis selama kita masih berpikir solusi ketika butuh uang adalah pinjam kondisi keuangan kita akan terus rapuh bahkan di saat kita merasa baik-baik saja.
Masalah sulit nyari duit,
Bikin org rela kerja apa aja gmna caranya biar dpt penghasilan halal.
Atas dasar itu si kapitalis memanfaatkan org org tersebut untuk kerja dan diperes keringetnya yg penting mereka bisa cuan.
Dan yak hasilnya belasan nyawa melayang jadi korban
Guys, fakta baru soal kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Timur baru saja keluar dan ini jauh lebih mengejutkan dari yang gue bayangkan sebelumnya.
Sopir taksi Green SM yang mobilnya mogok di perlintasan rel malam itu baru kerja 3 hari.
Tiga hari.
Dan sebelum tiga hari itu dia hanya dilatih satu hari.
Apa yang terjadi dalam satu hari pelatihan itu:
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengungkap langsung isi pelatihan itu. Bukan pelatihan mengemudi yang komprehensif. Bukan simulasi darurat.
Bukan prosedur menghadapi situasi kritis.
Isinya: cara menyalakan dan mematikan mobil.
Cara pakai lampu sein.
Cara parkir.
Itu saja.
Satu hari.
Cara nyalain mobil.
Cara matiin mobil.
Cara parkir.
Lalu tiga hari kemudian dia mengemudikan taksi berbasis listrik asal Vietnam itu melewati perlintasan kereta aktif di salah satu titik tersibuk di Bekasi. Mobilnya mogok di atas rel. Dan 14 orang mati.
Kenapa ini bukan hanya soal satu sopir ini soal sistem yang gagal:
Green SM adalah perusahaan taksi online asal Vietnam yang beroperasi di Indonesia.
Armadanya menggunakan kendaraan listrik yang sistem kelistrikan dan fitur-fiturnya berbeda secara fundamental dari kendaraan konvensional.
Kendaraan listrik punya karakteristik yang perlu waktu untuk dipelajari termasuk bagaimana bereaksi di kondisi tertentu, bagaimana sistem keamanannya bekerja, dan apa yang harus dilakukan ketika kendaraan bermasalah di situasi darurat.
Satu hari pelatihan cara nyalain, cara matiin, cara parkir untuk mengemudikan kendaraan jenis baru di jalanan kota besar adalah sesuatu yang seharusnya tidak pernah diizinkan terjadi.
Dan ini bukan hanya soal Green SM.
Polisi sekarang sedang menyelidiki sistem perekrutan dan standar operasional perusahaan taksi online terkait secara keseluruhan.
Pertanyaannya: apakah ini kelalaian satu perusahaan atau ini cerminan dari lemahnya regulasi dan pengawasan terhadap industri ride-hailing secara nasional?
Pertanyaan yang harus dijawab dan ini yang paling mendesak:
Satu — apakah regulator transportasi Indonesia punya standar minimum pelatihan yang jelas dan terukur untuk pengemudi taksi online?
Bukan hanya syarat SIM tapi berapa jam pelatihan minimum, materi apa yang wajib dicakup, siapa yang mengaudit?
Dua — apakah ada mekanisme verifikasi bahwa standar itu benar-benar dijalankan oleh perusahaan? Atau ini hanya syarat di atas kertas yang tidak pernah dicek?
Tiga — Green SM adalah perusahaan asal Vietnam yang beroperasi di Indonesia.
Apakah ada proses verifikasi bahwa standar operasional mereka memenuhi regulasi Indonesia atau mereka bisa masuk dan beroperasi dengan membawa standar dari negara asal yang belum tentu sesuai?
Empat — kendaraan listrik dengan sistem dan teknologi yang berbeda dari kendaraan konvensional apakah ada regulasi khusus untuk pelatihan pengemudinya?
Atau regulasi kita masih menggunakan framework lama yang dibuat untuk kendaraan berbahan bakar konvensional?
Soal sopir dan ini yang perlu diperlakukan dengan adil:
Polisi menegaskan status sopir saat ini masih sebagai saksi bukan tersangka.
Penyidik masih mendalami berbagai keterangan dan alat bukti sebelum menentukan ada tidaknya unsur pidana.
Dan menurut gue ini penting untuk dijaga.
Sopir ini adalah korban dari sistem yang gagal sama seperti 14 orang yang meninggal malam itu adalah korban dari sistem yang gagal.
Dia diberi pelatihan satu hari untuk mengemudikan kendaraan yang tidak dia kenal sepenuhnya.
Dia dilempar ke jalanan kota besar tiga hari kemudian.
Ketika mobilnya bermasalah di situasi yang tidak pernah disimulasikan dalam pelatihannya tidak ada yang mengajarinya harus berbuat apa.
Tanggung jawab moral yang paling besar ada pada perusahaan yang merekrut tanpa standar yang memadai dan pada regulator yang membiarkan ini terjadi.
Konteks yang lebih besar dan ini yang tidak boleh dilupakan:
Kita sudah bahas sebelumnya tentang perlintasan sebidang yang tidak dijaga, sinyal yang gagal bekerja, infrastruktur kereta yang puluhan tahun tidak diperbaiki menyeluruh.
Rp4 triliun yang baru diumumkan Prabowo setelah 14 orang mati.
Dan sekarang kita tahu ada lapisan masalah lain: perusahaan transportasi yang beroperasi dengan standar pelatihan yang tidak memadai satu hari untuk menyalakan dan mematikan mobil yang kemudian melepas pengemudinya ke jalanan tanpa bekal yang cukup untuk menghadapi situasi darurat.
Ini bukan satu kegagalan.
Ini adalah rangkaian kegagalan sistemik yang bertemu di satu titik malam 27 April 2026 di Stasiun Bekasi Timur.
Perlintasan yang tidak aman.
Sinyal yang gagal.
Taksi yang mogok.
Pengemudi yang tidak siap.
Empat faktor yang masing-masing bisa dicegah dan keempatnya tidak dicegah.
Apa yang perlu terjadi sekarang:
Pertama — investigasi terhadap Green SM harus tuntas dan hasilnya dipublikasikan. Bukan hanya soal malam itu tapi soal seluruh standar operasional, rekrutmen, dan pelatihan mereka.
Kedua — Kemenhub harus segera audit standar pelatihan minimum seluruh perusahaan ride-hailing yang beroperasi di Indonesia. Kalau tidak ada standar minimum yang tegas dan terverifikasi ini akan terjadi lagi.
Ketiga — kendaraan listrik sebagai armada transportasi publik perlu regulasi pelatihan khusus yang berbeda dari kendaraan konvensional. Teknologinya berbeda. Pelatihannya harus berbeda.
Keempat — izin operasional perusahaan transportasi asing yang beroperasi di Indonesia harus disertai verifikasi ketat bahwa standar mereka sesuai regulasi Indonesia bukan sekadar syarat administrasi di atas kertas.
Satu hari pelatihan.
Tiga hari kerja.
Empat belas orang mati.
Sopir itu tidak lahir dengan niat membahayakan siapapun.
Dia adalah seseorang yang mencari nafkah yang kemudian dilempar ke situasi yang sistem tidak pernah mempersiapkannya untuk menghadapi.
Yang harus bertanggung jawab adalah mereka yang membangun sistem itu yang memutuskan bahwa satu hari pelatihan cukup, bahwa tiga hari sudah siap jalan, bahwa tidak perlu simulasi darurat, bahwa tidak perlu standar yang lebih ketat.
Dan pertanyaan yang harus dijawab regulator adalah: sudah berapa lama ini berlangsung di seluruh industri bukan hanya di Green SM?