@711ECW Udah nyemplung duluan wkwkq. AADI enak tuh buat swing, kadang harga bisa 9300, turun lagi mentok 9000. Selama turun psikologis aman bukan barang gorengan π.
@finalcensus@aditoss Se pengalaman trio broksum itu kalau di TPIA jarang nahan barang diatas harga sekarang, kebanyakan abis pump, terbitlah dump esok hari nya. Tapi wns aja.
UNTR, AK akumulasi 4.3 Triliun dalam 1 tahun. Apakah menarik?
Saya bahas π
1. UNTR saat ini menggunakan dana internal sebesar Rp2 triliun untuk program buyback saham guna menjaga stabilitas harga dan meningkatkan laba per saham (EPS).
2. Segmen usaha non-batubara konvensional seperti mineral (emas) dan diversifikasi baru diharapkan menjadi motor pemulihan di tengah normalisasi harga komoditas.
3. Penjualan alat berat (Komatsu) dan volume produksi batubara mengalami perlambatan hingga pertengahan tahun 2026 seiring siklus penurunan permintaan sektor pertambangan tercermin dari net income 2026.
4. Manajemen merevisi target penjualan alat berat Komatsu menjadi sekitar 4.000 unit akibat penurunan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
5. Support: Rp24.350 (area batas bawah kuat atau harmonic support).
6. Resisten 1: Rp27.500 (batas atas resisten jangka pendek).
7. Resisten 2: Rp27.975 (target uji penguatan lanjutan).
Dengan diversifikasi ke bisnis nikel dan sektor emas, serta efisiensi perusahaan untuk fokus melakukan pengendalian biaya dan efisiensi belanja modal (capex) untuk menjaga arus kas tetap positif apakah UNTR layak untuk di hold? ataukah gambaran LK Q1 Q2 2026 sebagai tanda bahaya?
Disclaimer on.
DYOR.
NFA.
#POVfromBBB
@SahamJamet Paling penting itu tentuin arah dan tujuan agar jelas apakah invest di saham untuk jangka pendek ataupun panjang. kenali fundamental emiten yang mau di beli apakah udah sesuai dengan plan kedepan. Mau Porto minus sampai 50% tapi percaya dengan fundamental emitennya, ga ngaruh π
@711ECW Masalahnya ga sisempel itu king. Agenda proyek didepan mata apakah benar2 di realisasikan? Kalaupun di realisasikan apakah proyek itu benar2 menghasilkan keuntungan untuk corporation?
@kokobuncis Bila statstik bukan lagi paramaternya, hanya trend yg berjalan, udah mirip2 arena judi yaa. Mungkin ga ada kepastian jg dari arah gov, institusi2 besar ga banyak naruh di saham dengan statistik bagus ev harga udah undervalued. Lebih mentingin aksi tp cepat. Bahas TPIA kohh, ngeri
@LambeSahamjja Padahal udah ada AI, macam2 dari tech mana bisa kita profiling sesuai pemahaman n kenyamanan kita. Kok ada orang duit banyak, hp smart, tapi engga di barengi sama cara berpikirnya?
Ga nyangka ternyata bakal serame ini,
kalo twt ini rame gw bakal bikin artikel lanjutan cara baca bid offer secara real time, cara baca tradebook secara real time, cara hitung barang bandar, dan terakhir cara menentukan titik entry.
#edukasi#saham#stockbit#bandarmology
@mulyanamul@saptaipb Betul bang, saat pegang 100 jt/pertama itu banyak hal yg bisa di beli bang. Dari mulai mobil, motor 250 cc, HP flagship, atau yg sifatnya konsumtif untuk penuhi gaya hidup, bahkan hal2 yg haram pun bisa di beli. Yak yg bunuh manusia itu bukan uangnya, melainkan ego nya.
@saptaipb Thank you bang insight nya. Sebenarnya return LM lebih tinggi ya bang, 2023 beli LM masih harga 1.3 jt/gram, dijual sekarang 2.5-2.6 jt/gram, potensi naik 100% dalam jangka waktu 3 tahun. Tapiii dliat kondisi sekarang spread LM diatas 10% udah ga worth it buat di koleksi.
Betul, Bang.
Saat ada IPO, dana bisa ditarik sementara dari RDPU. Setelah proses penjatahan selesai, dananya dimasukkan lagi ke RDPU.
Dengan rutin ikut IPO, terutama penjatahan di atas Rp100 juta, potensi return setahun bisa sekitar Rp10 jutaan.
Di sisi lain, dana yang mengendap di RDPU juga tetap menghasilkan return. Bisa sekitar Rp400 ribu per bulan atau kurang lebih Rp4 jutaan per tahun.
Artinya, sebelum punya saham dividen pun, sudah ada 3 sumber dana untuk terus membeli saham dividen:
1. Return IPO
2. Return RDPU
3. Tabungan rutin
Setelah portofolio saham dividen mulai menghasilkan, bertambah lagi 1 sumber dana, yaitu dividen.
Jadilah 4 mesin yang bekerja bersamaan:
1. Return IPO
2. Return RDPU
3. Return dividen
4. Tabungan rutin
Kalau dijalankan dengan konsisten, Insya Allah perjalanan menuju portofolio Rp 1 miliar bisa terasa lebih cepat.
Semoga baik