Suatu hari di sana
"Bapak, Alhamdulillah ini keterima di dua PTN favorit. Satu lewat mandiri, satu lewat seleksi nasional."
"Alhamdulillah, berapa biayanya nak?"
"UKT-nya segini Pak. Terus ini ada biaya baru namanya IPI, kaya uang pangkal gitu."
"Hah? Katanya dulu UKT biar gak ada uang pangkal?"
"Ada aturan baru katanya, emang aturannya gitu."
***
"Pak TU kampus A, ini saya keterima lewat seleksi mandiri."
"Oke, UKT-nya segini, IPI-nya segini."
"Bisa minta keringanan gak Pak?"
"Gak bisa, kalau mandiri emang maksimum dua-duanya."
"Sama sekali gak bisa?"
"Iya, emang aturannya gitu."
"Haduh, saya daftar ulangnya di kampus B aja kalau gitu Pak."
***
"Pak TU kampus B, ini saya keterima lewat seleksi nasional. Yang ini gak ada IPI kan?"
"Iya, ini UKT-nya 30 juta, kita maksimumin dulu, kasih tagihan listrik, air, foto rumah, sama slip gaji orang tua buat nentuin UKT-nya turun apa nggak."
"Bisa minta keringanan kalau misal gak mampu?"
"Coba program KIPK dari pemerintah, ini syarat-syaratnya"
"Oke Pak."
***
"Pak TU kampus, ini yakin UKT saya jadi maksimum?"
"Coba saya cek. Bentar."
"Oke Pak."
"Bapak kamu PNS? Di Dinas Pertanian Kabupaten?"
"Iya Pak, golongan bawah, tukang jaga malam"
"Kalau PNS memang UKT-nya paling tinggi."
"Hah? Gaji Bapak saya aja gak seberapa Pak."
"Emang aturannya gitu."
***
"Halo contact center KIPK Dikbud?"
"Iya, ada keperluan apa?"
"Ini kok KIPK saya langsung ditolak?"
"Coba saya cek dulu."
"Ini karena ortu PNS Mas."
"Kok gitu? Tukang jaga malam PNS itu gajinya cuma 2 jutaan Bu."
"Pejabat kita udah rilis statement kemarin, anak PNS gak boleh sama sekali."
"Gak bisa diusahakan Bu?"
"Gak bisa, emang aturannya gitu."
***
"Pak TU kampus, gak bisa nih KIPK."
"Ya terpaksa harus bayar kalau gitu."
"Gak kuat bayar Pak saya kalau UKT maksimum. Ada alternatif?"
"Coba ke bank sama ortu, siapa tahu bisa ada pinjaman."
***
"Bu CS Bank, saya mau ajukan pinjaman buat biayain kuliah anak saya."
"Baik Pak, saya cek berkasnya dulu."
"Pak, setelah kita cek penghasilan, kita gak bisa kasih pinjaman."
"Kenapa Bu?"
"Mohon maaf sekali Pak. Resiko gagal bayarnya tinggi, kita gak berani."
"Ada alternatif Bu?"
"Bapak PNS kan? Coba sekolahin SK Pak."
"Wah, udah disekolahin buat nyicil rumah dan biaya hidup Bu."
"Mohon maaf Pak, kami gak bisa bantu lagi. Memang aturannya begitu."
***
"Pak TU kampus, gak bisa Pak"
"Kenapa?"
"Gak bisa Pak, penghasilan Bapak saya gak cukup."
"Coba ini, pinjol yang kerjasama sama kampus"
***
"Mas, kalau saya pinjam 30 juta buat UKT, saya mesti nyicil berapa?"
"Sekitar 3.1 juta per bulan selama setahun"
"Wah jatuhnya 37.2 juta dong? Bunganya 7.2 juta sendiri?"
"Iya mas"
"Waduh, gak mampu bayarnya Mas"
"Emang aturannya gitu."
"..."
***
"Pak TU kampus, gak bisa Pak, saya gak kuat bayarnya"
"Kamu cuti dulu aja. Kerja dulu time gitu."
"Bisa ya Pak? Gimana prosedurnya?"
"Kamu bayar 50% UKT, jadi 15 juta per semester."
"Hah? Kok gitu? Kan saya belum juga ngapa-ngapain Pak?"
"Emang aturannya gitu."
"..."
***
"Pak TU kampus, kalau saya gap year dulu aja gimana?"
"Oh ya bisa. Kamu tahun depan tes lagi."
"Tes lagi? Kan saya udah keterima? Gak bisa ditunda kaya univ di LN?"
"Gak bisa."
"Kan saya udah lulus tes?"
"Emang aturannya gitu."
"..."
***
"Bapak, ini udah setahun saya gap-year nyopir bis, tapi belum cukup uangnya."
"Gak apa nak, kita coba lagi tahun depan. Nabung lagi."
"Ya udah, skip dulu tes tahun kedua ya Bapak."
"Gak apa nak, Bapak selalu doakan yang terbaik."
***
"Minggu depan tes tahun ketiga nak, belajar ya. Ikut seleksi nasional lagi."
"Duh, tapi udah dua tahun nyopir, nggak pegang buku. Saya belajar sebisanya ya Bapak."
"Iya gak apa, nak. Oh ya, sekalian coba seleksi mandiri juga di Kampus A."
"Hah? Gak apa Pak?"
"Iya, kamu coba cari pinjeman gitu, nanti Bapak coba bantu bayar."
"Makasih Bapak."
***
"Gak keterima yang seleksi nasional Pak."
"Gak bisa tes lagi ya?"
"Gak bisa Pak, udah tahun ketiga, maksimum."
"Dulu jaman Bapak bisa. Temen Bapak banyak tes berkali-kali."
"Udah lama diubah itu Bapak, emang gitu aturannya."
"Berarti tinggal yang seleksi mandiri ya."
"Iya Bapak."
***
"Pak TU kampus, ini saya keterima lewat seleksi mandiri."
"Oke, UKT-nya segini, IPI-nya segini."
"Bisa minta keringanan gak Pak?"
"Gak bisa, kalau mandiri emang maksimum dua-duanya."
"Sama sekali gak bisa?"
"Iya, emang aturannya gitu."
"Ada alternatif skema pembayaran?"
"Coba ini, pinjol yang kerjasama sama kampus, katanya ada skema student-loan."
***
"Mas, kalau saya pinjam 30 juta skema student-loan buat UKT, saya mesti nyicil berapa?"
"Sekitar 3.1 juta per bulan selama setahun"
"Wah jatuhnya 37.2 juta dong? Bunganya 7.2 juta sendiri?"
"Iya mas"
"Waduh, gak mampu bayarnya Mas"
"Emang aturannya gitu."
"..."
***
"Pak TU kampus, gak bisa Pak, saya gak kuat bayarnya"
"Kamu cuti dulu aja. Kerja dulu time gitu."
"Bisa ya Pak? Gimana prosedurnya?"
"Kamu bayar 50% UKT, jadi 15 juta per semester."
"Hah? Kok gitu? Kan saya belum juga ngapa-ngapain Pak?"
"Emang aturannya gitu."
"..."
***
"Mas pinjol, kayanya saya terpaksa pinjem deh, gak ada jalan lain"
"Siap, ini saya transfer ya."
"Kalau gagal bayar gitu gimana?"
"Ada dendanya sama nanti kecatat di BI Checking."
***
"Halo ini debt collector, ini utang UKT-nya gak dibayar?"
"Wah Pak Debt Collector, kita lagi gak punya uang."
"Gak bisa bayar sekarang?"
"Iya, gimana?"
"Ya udah, ini dendanya saya catat ya, ini udah numpuk dari semester 1 sampai semester 7"
***
"Pak dosbing, ini Bapak udah gak hadir bimbingan 2 minggu, saya perlu tanda tangan Bapak buat sidang minggu depan."
"Waduh, saya lagi ada proyek dari kementrian, lagi tugas di Papua sampai bulan depan. Lagian saya juga belum puas sama skripsinya."
"Terus gimana Pak?"
"Kamu tunda dulu aja sidangnya, semester depan."
"Wah, biayanya gimana Pak?"
"Saya gak bisa bantu."
"..."
***
"Pak TU kampus, ini kan saya tinggal skripsi doang, 6 SKS. Perlu bayar UKT?"
"Iya, tetep bayar penuh."
"Seriusan Pak? Gak ada kuliah lagi juga bayar penuh?"
"Iya. Emang aturannya gitu."
***
"Pak dosbing, ini Bapak udah gak hadir bimbingan 2 minggu, saya perlu tanda tangan Bapak buat sidang minggu depan."
"Waduh, saya lagi ada proyek dari kementrian, lagi tugas di Papua sampai bulan depan. Tiap akhir semester saya pergi. Lagian saya juga belum puas sama skripsinya."
"Terus gimana Pak?"
"Kamu tunda dulu aja sidangnya, semester depan."
"Wah, biayanya gimana Pak?"
"Saya gak bisa bantu."
"..."
***
"Halo ini debt collector, ini utang UKT-nya gak dibayar?"
"Wah Pak Debt Collector, kita lagi gak punya uang."
"Gak bisa bayar sekarang?"
"Iya, gimana?"
"Ya udah, ini dendanya saya catat ya, ini udah numpuk 10 semester."
***
"Ini CV kamu bagus banget, aktif di organisasi"
"Iya, makasih Bu rekruter."
"IPK kamu juga bagus, skill set kamu juga sesuai sama yang dibutuhin klien."
"Terima kasih."
"Oke, kita finalisasi paperwork dulu ya sebelum kita kirim ke perusahaan klien kita."
***
"Halo, ini HRD perusahaan X, kita mau tanya-tanya dulu sebelum interview."
"Iya, silakan mbak."
"Ini kenapa kok lulusnya pas umur lebih dari 25 tahun?"
"Saya gap year dulu mbak, baru keterima tes tahun ketiga."
"Kan kalau gitu mestinya umur 23-24 udah lulus?"
"Masih nambah molor gara-gara skripsi mbak."
"Oh gitu. Mohon maaf banget, padahal udah cocok banget nih skill-nya. Kita cuma nerima freshgrad yang di bawah 25 tahun. Memang perusahaan kami aturannya gitu."
"..."
***
"Halo, ini HRD perusahaan Y. Kami tertarik sama skillset-nya Mas. Kemarin interview juga udah cocok."
"Iya."
"Tapi setelah kita cek, BI checkingnya jelek, kreditnya parah banget. Kami gak bisa terima. Maaf banget."
"Tapi kan saya butuh kerjaan buat bayar utang UKT?"
"Iya tapi perusahaan kami aturannya begitu. Mungkin bisa diperbaiki dulu kreditnya."
"Gimana saya bisa perbaiki kredit kalau saya gak ada penghasilan?"
"Emang aturannya gitu. Coba ke perusahaan lain."
***
"Halo, ini HRD perusahaan Z. Kami tertarik sama skillset-nya Mas. Kemarin interview juga udah cocok."
"Iya."
"Tapi setelah kita cek, BI checkingnya jelek, kreditnya parah banget. Kami gak bisa terima. Maaf banget."
"Tapi kan saya butuh kerjaan buat bayar utang UKT?"
"Iya tapi perusahaan kami aturannya begitu. Mungkin bisa diperbaiki dulu kreditnya."
"Gimana saya bisa perbaiki kredit kalau saya gak ada penghasilan?"
"Emang aturannya gitu. Coba ke perusahaan lain."
***
"Mas, saya mau daftar jadi mitra ojek online."
"Iya mas, ada kendaraan? Motor atau mobil?"
"Harus ada ya mas?"
"Ya haruslah, kan masnya mau ngojek kan? Gimana sih."
"..."
***
"Bu CS kredit motor, saya mau ambil kredit motor."
"Oke coba saya cek dulu."
"Ya Bu."
"Mas, kita gak berani nih, ini di BI checking parah banget kreditnya."
"Tapi saya butuh motor buat ngojek online Bu."
"Mungkin bisa diperbaiki dulu kreditnya."
"Saya mau ngojek juga buat perbaikin kredit Bu."
"Mohon maaf Mas, kita gak bisa bantu. Emang aturannya gitu."
***
"Mas, ini ada bantuan beras, dari pemerintah."
"Oh, saya masuk daftar? Alhamdulillah."
"Iya mas, sama Pak RT didaftarin, kan udah nganggur lama, banyak utang pula."
"Makasih ya mas."
"Gak apa Mas, bulan depan ada lagi."
***
"Mas, lagi nganggur gak? Ini ada kerjaan."
"Ngapain?"
"Jadi buzzer calon petahana Mas. Bayarannya segini."
"Calon petahana yang ngasih beras kemarin? Wah, mayan, saya udah ke mana-mana gak dapet-dapet."
"Ya udah mas, syaratnya gak susah kok."
"Apa syaratnya?"
"Tahan malu dikit."
***
"Ini laporan twit ngebuzzernya mana Mas?"
"Oh ini, saya kemarin berantem sama tukang kritik."
"Oke, ngapain lagi?"
"Saya bikin ribut juga di base kampus yang bikin keributan UKT."
"Mantab!"
***
"Halo Bapak, Alhamdulillah anak kita lahir sehat."
"Alhamdulillah, Bapak udah punya cucu sekarang."
"Iya, mayan lah duit nge-buzzer kemarin bisa buat biaya lahiran."
***
"Mas, kan baru keluar TPS, boleh kita interview dikit, kita dari lembaga survey, buat exit poll."
"Oh boleh."
"Mas pilih calon yang mana?"
"Petahana mbak."
"Kenapa kok milih petahana?"
"Saya kebantu banget, udah ngasih saya pekerjaan, sama ada bantuan sosial waktu saya nganggur."
"Kok bisa nganggur lama?"
"BI checking jelek mbak, kejerat pinjol buat bayar UKT."
"Kok gak pilih yang ngasih UKT gratis?"
"Saya sekarang lebih butuh yang kasih bantuan langsung ke saya mbak."
***
"Bapak, Alhamdulillah ini keterima di dua PTN favorit. Satu lewat mandiri, satu lewat seleksi nasional."
"Alhamdulillah, berapa biayanya nak?"
"UKT-nya segini Pak. Terus ini ada biaya baru lagi, kaya uang pangkal gitu."
"Hah? Katanya dulu UKT sama IPI biar gak ada uang pangkal?"
"Ada aturan baru lagi katanya, emang aturannya gitu."
sumpah tapi seng pro gimick "angin gk punya ktp" dalam konteks debat capres kemaren bener2 harus banyak belajar baca sains ya, krn polusi udara itu mengenai sains bukan sensi. dan kalo masih baca terus ga percaya sains ya wasalam lah, rakyat cerminan pemimpinnya.