Pilih nasibmu:
Dipaksa menandatangani kontrak pemerasan dengan seorang domme kejam yang tidak peduli dengan perasaanmu
Dipaksa menyembah seorang domme sadis yang akan membuatmu melakukan tugas² yang mendorongmu hingga batasmu
Retweet dan DM aku jawabanmu jika kamu cukup berani
LANJUTAN PART 1 BDSM
Mereka keluar dari club. Rauf mengantar Alya ke mobilnya. Sepanjang perjalanan, Alya lebih banyak diam. Sesekali dia melirik Rauf yang sedang menyetir. Sesampainya di rumah, Rauf langsung membawa Alya turun ke basement. Pintu kamar itu tebal dan tertutup rapat. Begitu terbuka, Alya melihat isi di dalamnya: dinding penuh cermin, rak-rak berisi berbagai ukuran dildo, plug, vibrator, tali, dan rantai. Ada tempat tidur besar dengan tiang besi dan sebuah meja khusus di tengah ruangan.
Rauf menutup pintu di belakang mereka. Suara kunci berbunyi.
“Buka baju,” katanya. “Semua.”
Alya melepas pakaiannya pelan-pelan. Tangannya sedikit gemetar. Begitu sudah telanjang, dia berdiri di tengah ruangan dengan kedua tangan menutupi sebagian tubuhnya. Rauf berjalan mendekat, lalu menyuruhnya menurunkan tangan.
“Berlutut.”
Alya menurut. Lututnya menyentuh lantai yang dingin. Rauf berdiri di depannya, mengelus rambut Alya sebentar sebelum berkata, “Mulai sekarang panggil aku Master. Di dalam kamar ini kamu bukan Alya. Kamu milikku.”
“Iya, Master,” jawab Alya pelan.
Rauf menyuruhnya naik ke meja khusus. Alya berbaring, lalu Rauf mengikat kedua pergelangan kakinya ke tiang sehingga kakinya terbuka lebar. Udara di ruangan terasa dingin di kulitnya. Rauf mengambil dildo berukuran sedang dari rak, mengoleskan pelumas, lalu menyentuhkannya ke bibir memek Alya.
“Ini yang pertama,” katanya. “Masuk pelan.”
Dia mendorong dildo itu masuk sedikit demi sedikit. Alya mengerang kecil, tangannya mencengkeram tepi meja. Begitu hampir seluruhnya masuk, Rauf menyalakan getaran rendah. Perut Alya mengencang. Beberapa menit kemudian Rauf juga memasukkan plug anal kecil ke lubang belakangnya. Alya terengah. Untuk pertama kalinya kedua lubangnya terisi bersamaan.
Rauf duduk di kursi dekat meja. Sesekali dia menaikkan getaran atau menepuk paha dalam Alya sambil memperhatikan reaksinya. Alya sudah mulai basah. Setelah hampir satu jam, Rauf mencabut dildo itu. Memek Alya terbuka dan berkedut. Rauf membuka celananya. Alya melihat penisnya—besar, panjang, uratnya jelas. Rauf mengoleskan sedikit pelumas, lalu masuk ke dalam Alya dalam satu dorongan pelan tapi dalam.
Alya mengerang. Rasanya berbeda dari dildo tadi—lebih panas dan hidup. Rauf bergerak lambat dan dalam, tangannya memegang pinggang Alya.
“Enak?” tanyanya.
“Iya… Master…”
Dia terus bergerak sampai Alya hampir tidak kuat menahan. Setelah Rauf keluar di dalam, dia tidak langsung melepaskan ikatan. Dia mengambil dildo yang lebih besar, memasukkannya kembali ke memek Alya, lalu mengganti plug anal dengan yang sedikit lebih besar. Baru setelah itu ikatan dilepas.
“Tidur dengan ini,” kata Rauf sambil menunjuk kasur. “Besok pagi aku yang cabut dan ganti.”
Alya turun dari meja dengan kedua mainan masih di dalam tubuhnya. Setiap langkah terasa penuh. Dia berbaring di kasur, menarik napas dalam, dan menutup mata. Di luar kamar, Rauf mematikan sebagian lampu. Alya tahu besok pagi pintu akan terbuka lagi, dan semuanya akan berulang—dengan mainan yang lebih besar.
🚨The Reformatory🚨 - New Video!!
The Cane is to be applied to the bare soles repeatedly, consistently, and at the discretion of and to the satisfaction of the disciplinary officer on duty. Inmate Pierce and Inmate Summers are about to receive their caning punishment.
Watch it here!: https://t.co/oOccEMc7Kx
Du dachtest, Vibration reicht? 😈
Im Hals drehen sich zusätzlich kleine Perlen – während die Spitze gleichzeitig vibriert.
🔥 7 Rotationsmodi
🔥 6 Vibrationsmodi
🔥 2 getrennte Motoren
🔥 Fernbedienung bis 10 m
Rimming XL |
👉 https://t.co/xSJkg8kep8
Rotation + Vibration gleichzeitig – 10/10 oder zu viel?