Wanita ditangan pria yang sudah bosan:
dibikin ngemis, dibuang, dibikin nangis terus, dibikin ovt setiap saat, dianggap ribet, diremehin, dianggap dunia bukan tentang cewe doang, dibikin feeling lonely, dry text dan jarang dikasi kabar.
"Yang paling berat dari putus bukan kehilangan orangnya... tapi kehilangan kebiasaan yang udah dibangun bertahun-tahun."
Dan gue tahu rasanya.
Bukan cuma kehilangan pasangan, tapi juga kehilangan rutinitas.
Yang dulu tiap pagi ngucapin selamat pagi, sekarang HP sepi.
Yang dulu apa-apa pengen cerita ke dia, sekarang harus belajar menyimpan cerita buat diri sendiri.
Jujur, nggak ada jalan pintas.
Kalau memang sayangnya dalam, ya sembuhnya juga butuh waktu.
Bener kata orang, time will heal.
Bukan karena waktu menghapus kenangan, tapi karena waktu pelan-pelan mengajarkan kita hidup tanpa orang itu.
Yang gue lakukan dulu mungkin terdengar ekstrem.
Gue cut off semuanya.
Unfollow.
Hapus kontak.
Semua foto gue hapus.
Barang-barang pemberian yang terus mengingatkan? Gue singkirkan.
Bukan karena benci.
Tapi karena gue tahu diri sendiri. Semakin banyak "pengingat", semakin susah hati buat benar-benar sembuh.
Enam bulan pertama?
Berat.
Ada hari-hari yang rasanya pengen chat lagi.
Ada malam-malam yang isinya overthinking.
Tapi setiap kali berhasil melewati satu hari, tanpa sadar kita sedang melatih hati untuk terbiasa.
Lalu pelan-pelan fokus gue berubah.
Bukan lagi mengejar orang yang pergi.
Tapi membangun versi diri yang lebih baik.
Mulai rutin olahraga.
Fokus kerja dan finansial.
Belajar hal baru.
Menghabiskan waktu dengan teman.
Dan yang sering kita lupa...
Sesekali ucapin terima kasih ke diri sendiri.
Karena sudah bertahan.
Karena sudah memilih bangkit.
Karena meski hati pernah hancur, lo tetap memilih melanjutkan hidup.
Hari ini mungkin masih sakit.
Tapi suatu hari nanti, lo bakal sadar...
Orang itu bukan hilang dari hidup lo karena semua yang indah ikut hilang.
Dia pergi, supaya ada ruang buat hal-hal yang lebih baik datang.
Breakups hurt, yeah. But you know what hurts even more? Staying. Staying and trying to “make it work” with someone who has shown you over and over that they don’t value you, don’t prioritize you, and don’t care about your feelings. Begging for bare minimum. Hoping they’ll change. Ignoring the proof right in front of you. That kind of pain drags out way longer than a breakup ever could. Sometimes the real heartbreak isn’t losing them it’s realizing you stayed too long trying to convince someone to love you the right way. THAT’S what really hurts.
jujur suka sedih banget liat perempuan yang kehilangan sparksnya cuma gara-gara useless men. dan tau ngga yang paling bikin sedih lagi? ngeliatin mereka tersiksa tapi masih bertahan dan ngga mau walk away even though deep down in their hearts they knew the should've left.
menormalisasikan hubungan secara dewasa :
1. chat dibales lama? Dia lagi ada kerjaan atau prioritas lain. Chill aja, jangan langsung overthink.
2. dia sibuk kerja, nongkrong, atau main, lo diem aja, ga usah tantrum kayak anak kecil.
3. ga nuntut waktu 24/7, sadar deh, hidup dia bukan cuma tentang lo doang.
4. jangan egois, kasih space buat me time-nya.
5.silent treatment? no way, Masalah langsung diselesaikan, ga ditahan
6. ada masalah? ngobrol baik-baik, ga usa pake drama.
7. meski lagi sibuk kerja, tetep usahain kasih kabar. Biar pasangan gak kesepian sendirian.
8. kabar kecil itu literally bentuk cinta, bikin dia tenang, kurangin overthinking, dan ngerasa dihargain, terlihat sepele tapi sebuah kabar adalah seni dari mencintai
buat cewe, berapa lama kalian tahan no contact sm pacar kalian pas lagi berantem dan biasanya siapa yg paling sering nurunin ego buat chat/call duluan? yap!
dulu sering overthinking dan selalu nyari cara buat nahan seseorang untuk tetap stay, tapi sekarang prinsipnya simpel:
yang mau bertahan pasti nyari jalan, yang mau pergi pasti nyari alasan. if they want to go, just go.
Ketika gw dan dia tiba-tiba ga chattan berhari-hari, tapi gw inget
“Kalo anjing ga ngegong-gong, berarti ada orang lain yg udah ngasih makan”
OH. OKAY.
Kdg ga sngaja liat suami lg balas2 wa temen cewe kantor nya… aku sering liat mereka tu kyk centil banget anjir. Kek sok akrab sok paling mesra friendly jirr
“Mass hockyyyyyyy”
“Mas hockyyuuuuu” “
Meeting yukkkkkk”
“Gue ga masuk today, lg atittt”
“Kamu ke east ga?
Mau nebeng boleh ga mas?”
“Mass….masss hockyyyy.. “
Entah aku yg cemburuan atau emang mereka nya aja yg gatal ga profesional. Cara wa kyk lg pdkt atau ngerayu cowo cok…Ngebet banget pen berteman dekat dgn suami orang.
Najis.
cc:threadwhitecoccaine
Orang datang dan pergi itu siklus.
– Temen SD ilang kontak.
– Temen kuliah beda frekuensi.
– Temen kantor pindah kerja.
– Sahabat lama gak lagi nyambung.
Dan itu normal, bukan salah siapa-siapa. Memang chapter ceritanya udah selesai.
Nggak semua orang ditakdirkan menemani sampai akhir. Ada yang hadir untuk mengajarkan sesuatu, lalu pergi setelah perannya selesai.
This is crazy, what do you mean lo gabisa bedain cong sama laki just because Ruben is not a muscle man typical? But you’re willing to have children with him? Sound uneducated and unethical kalimatnya, artis skrng tuh goblok semua ap gmn dah?