Ada orang yg disebut pundit ketika ditanya soal siapa John Herdman dia menjawab dgn nada nyeleneh meremehkan sambil tertawa kalo kita harus buka wikipedia dulu buat tahu pengalaman kepelatihannya
Btw pundit itu jga yg bangga2in pas Kluivert ditunjuk, bilang 3 org jdi 1, taik🤣
@Zeefire02 Jawab sesuai bunyi yg kedengeran di akhir aja.
Orang yang mengajar di sekolah disebut, guru atau tut-tut-brem-brem?
Yakin jawabnya, tut-tut-brem-brem.
jawaban singkat: boleh
jawaban panjang: ya boleh lah ngentot lu pikir aja transum yg murah dan mudah apa lagi? kgk ada kan? lu jg naik kereta krn gaada opsi kan? ya itu dia goblok harusnya lu protes ke pemerintah knp gak ada usaha memperbaiki transum biar semua sama-sama nyaman
1. Rezeki seseorang bisa putus hanya dengan sekali jepret foto.
2. Pedagang yang menggunakan transportasi umum selalu dianggap sebelah mata & mengganggu oleh sebagian orang salah diantaranya kelas pekerja, sekalipun sudah ada aturan atau jam² tertentu di mana pedagang boleh menggunakan transportasi umum (KRL).
@KAI121@ohrrue Dear KAI, ini udah masuk ke fitnah dan pencemaran nama baik. Boleh dibawa ke jalur hukum buat lindungi pegawai kalian. Sekalian cek cctv di sesuaikan sama data penumpang buat tau pelakunya.
Biar gak ada lagi kejadian seperti ini.
April tahun 2018.
BPPT bikin diskusi tentang potensi tsunami di Pandeglang.
Lalu, penelitinya dipanggil Polda Banten.
"Kita Polda tidak diam. Senin kita layangkan panggilan untuk dihadirkan Rabu atau Kamis," kata Dirkrimsus Polda Banten Kombes Abdul Karim saat dihubungi wartawan di Serang, Banten, Jumat (6/4/2018).
"Dengan dia melakukan pernyataan itu, sebagian besar warga Pandeglang khawatir. Kedua, investasi pengaruhnya ke sana, takut karena potensi tsunami," ujarnya.
"Kita lihat dulu motifnya, apa dasar bicara seperti itu."
"Bikin gaduh itu"
***
Desember 2018.
Tsunami terjadi.
Di Pandeglang.
Kalau ingat, Tsunami tersebut membawa korban.
Tiga personel band Seventeen tewas dalam peristiwa itu.
Jangan Normalisasi Ciuman atas Nama Barokah
Belakangan ini viral video seorang Gus yang tampak terlalu akrab menciumi anak-anak kecil, bahkan yang masih berusia di bawah tiga tahun. Dalam salah satu rekaman, ia membujuk seorang anak yang menolak dicium agar mau dicium. Di video lain, ia menciumi pipi seorang balita dengan cara yang tampak seperti “sucking”.
Banyak yang menertawakannya, menyebutnya sebagai bentuk “gemas” atau “barokah”. Namun perilaku seperti ini tidak boleh dinormalisasi — ini justru menjadi contoh penting dalam pendidikan tentang perlindungan anak dari pelecehan dan pedofilia terselubung.
Untuk para orang tua dan pendidik, mari menjadikan peristiwa ini sebagai pengingat: batas tubuh anak adalah suci dan harus dihormati. Tidak ada alasan religius, sosial, atau budaya yang membenarkan orang dewasa mencium, memeluk, atau menyentuh anak tanpa kepantasan, apalagi dengan intensitas yang mengganggu. Tugas kita bukan hanya melindungi, tapi juga mendidik anak agar berani berkata “tidak” ketika merasa tidak nyaman—bahkan kepada figur yang dihormati.
Menjaga kehormatan anak adalah tanggung jawab setiap orang tua, yang kelak pasti akan diperhitungkan di akhirat
Kepada tokoh publik seperti Gus yang viral, inilah saatnya berhenti dan bercermin. Tindakan menciumi anak kecil berulang kali bukan bentuk kasih sayang, tapi pelanggaran etika, adab, dan potensi pelecehan.
Dalam kajian psikologi, perilaku semacam itu bisa dikategorikan sebagai grooming behaviour—yakni upaya membangun kedekatan dengan anak untuk menormalisasi kontak fisik yang tidak pantas. Ini berbahaya, baik bagi anak maupun bagi masyarakat yang menonton dan menirunya.
Rasulullah dikenal penuh kasih terhadap anak-anak, namun beliau tidak pernah melampaui batas kesopanan. Kasih sayang beliau diwujudkan lewat doa, perhatian, dan sentuhan hati.
Anak-anak bukan objek kegemasan; mereka amanah yang harus dilindungi. Pendidikan perlindungan anak dimulai dari kesadaran kita sendiri—bahwa setiap bentuk pelecehan, sekecil apa pun, tidak boleh diberi ruang di rumah, sekolah, ataupun panggung keagamaan.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Dari kasus @pandji Pragiwaksono, gue menarik tiga kesimpulan:
1. Dalam komedi harus ada korban, tapi ga semua orang mau, bisa, atau siap jadi korban.
2. Rasa tersinggung bisa delay 12 tahun
3. @Dzawinur akan selalu aman karena dia cuma senggol hantu yg ga bisa lapor polisi