❌Tanpa fisioterapis
❌Tanpa masseur
❌Tanpa latihan dan aklimatisasi krn kedatangan mepet
❌Hanya didampingi satu pelatih
❌Keberangkatan sampai akhir Juni tdk jelas.
❌TIDAK DISUPPORT PEMERINTAH
Lalu dgn banyak keterbatasan bisa mendapatkan emas di World Climbing Series itu menunjukkan kualitas seorang Desak Made Rita.
Seorang yg terkenal di lingkungan Pelatnas sangat berkomitmen, fokus, pekerja keras, punya mental tahan banting.
Rita adl pahlawan bangsa.
Tp ironisnya ia bertarung dgn birokrasi yang ruwet, bertarung dgn ketidakjelasan prioritas anggaran, bertarung dgn politikus2 yg memanfaatkan namanya hanya ketika dia menang.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) adalah keniscayaan bagi umat Islam di tengah arus globalisasi.
Haedar Nashir menjelaskan bahwa KHGT merupakan respons terhadap keniscayaan globalisasi, yang ia gambarkan sebagai “kereta raksasa” yang dapat menggilas siapa saja yang tidak siap, namun menjadi kendaraan penting bagi mereka yang mampu menghadapinya.
Dalam perspektif universum, Islam disebut sebagai agama kosmopolit yang mengandung nilai-nilai universal, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an, “Wama arsalnaka illa rahmatan lil alamin” (QS. Al-Anbiya: 107), yang menegaskan bahwa risalah Islam ditujukan untuk seluruh alam dengan nilai-nilai rahmat.
Haedar menyoroti sejarah Islam yang telah menunjukkan sifat globalnya sejak dulu. Islam menyebar dari Jazirah Arab hingga ke Magribi, Eropa (Andalusia, Balkan), Rusia, Asia Timur, dan Asia Tenggara, meskipun dengan keterbatasan transportasi pada masa itu. “Ini bukti nyata bahwa Islam telah mengglobal sejak awal, sebagai wujud rahmatan lil alamin,” ujarnya.
Oleh karena itu, di era globalisasi yang menghapus sekat administratif, kehadiran kalender hijriah global menjadi mutlak untuk menyatukan umat Islam dengan satu tanggal dan satu hari di seluruh dunia.
Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah tetap berpijak pada identitas kebangsaan Indonesia, sebagaimana diwujudkan dalam dokumen resmi Pancasila dan Darul Ahdi Wasyahadah. Namun, untuk kepentingan universal, kalender global ini dianggap sebagai langkah strategis yang tidak dapat dihindari.
“Kita tidak lagi bisa hanya berbasis kalender lokal, kecuali untuk keperluan tertentu. Kalender global adalah jihad akbar dan ijtihad umat Islam menghadapi perkembangan global,” tegas Haedar.
Dari perspektif kesatuan, Haedar menekankan pentingnya ukhuwah (persaudaraan) sebagai keniscayaan untuk menjaga keutuhan umat Islam, baik di Indonesia maupun dunia. Ia merujuk pada Al-Qur’an, “Innamal mukminuna ikhwah” (QS. Al-Hujarat: 10), yang memerintahkan umat Islam untuk bersaudara, serta perintah untuk berpegang teguh pada tali Allah dan tidak berpecah belah (QS. Ali Imran: 103).
Namun, ia mengakui bahwa ukhuwah sering sulit dipraktikkan dalam dua isu besar: konflik Palestina dan penentuan kalender hijriah.
Haedar menyebut penentuan kalender hijriah sebagai “jalan terjal” bagi Muhammadiyah, terutama karena perbedaan pandangan di tingkat lokal dan global. Ia mencontohkan kebingungan umat awam ketika tanggal penting seperti 1 Ramadan, 1 Syawal, atau 10 Zulhijah berbeda-beda, bahkan hingga dua atau tiga hari, padahal peredaran bulan, matahari, dan bumi bersifat eksak.
Meski demikian, Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah terbuka untuk dialog dan musyawarah demi mencapai mufakat. “Prosesnya mungkin lama, bisa 10, 50, atau 100 tahun, tapi Muhammadiyah akan sabar menanti,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi inisiatif individu dan organisasi lain yang telah merintis gagasan serupa, serta mengajak semua pihak untuk menyisihkan kepentingan pribadi demi persatuan umat. Kalender global tunggal mungkin punya kekurangan, tapi sistem lain juga tidak sempurna. “Mari duduk bersama untuk satu tujuan: satu hari, satu tanggal,” ajaknya.
Dari sisi saintifik, Haedar menjelaskan bahwa Muhammadiyah menggunakan metode hisab sebagai salah satu parameter kalender global, di samping prinsip satu hari satu tanggal untuk seluruh dunia. Ia menegaskan bahwa hisab dan rukyat sama-sama memiliki dasar dalam Al-Qur’an dan hadis, seperti hadis dari Ibnu Umar, “Fain gumma faqdurullahu,” serta ayat yang menyebutkan kepastian peredaran matahari dan bulan (QS. Yunus: 5).
Haedar menekankan bahwa perubahan metode tidak perlu ditakuti, karena metode hanyalah wasilah (sarana) untuk mencapai tujuan. Muhammadiyah sendiri pernah beralih dari rukyat ke hisab hakiki, menunjukkan keterbukaan terhadap pembaruan.
Ia juga merujuk pada konsep falsifikasi dalam ilmu pengetahuan Barat, yang membuka peluang untuk menguji dan memperbarui teori. “Jika kalender global ini dikritik, kami terbuka. Bahkan ijtihad yang salah pun mendapat pahala,” ujarnya, mengutip prinsip bahwa ijtihad adalah kunci peradaban Islam.
Haedar berharap kalender ini tidak hanya menjadi milik Muhammadiyah, tetapi milik umat Islam secara keseluruhan. “Hilangkan nama Muhammadiyah jika perlu, yang penting kita bersatu untuk satu kalender global,” katanya.
Ia juga menyoroti kebutuhan generasi milenial dan Gen Z akan kepastian kalender, serupa dengan kalender Masehi yang telah mapan, seperti perayaan Natal yang selalu jatuh pada 25 Desember di seluruh dunia.
Meski tantangan masih besar, Haedar optimistis bahwa dengan dialog, musyawarah, dan keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan, kalender hijriah global tunggal dapat terwujud. “Jika tidak sekarang, mungkin 25, 50, atau 100 tahun ke depan. Tapi jangan terlalu lama, karena generasi muda menanti,” pungkasnya.
Sumber: https://t.co/Ki6OYgVFy8
#SaatnyaKalenderHijriahGlobalTunggal #SiapLebihAwal #Muhammadiyah
Suasana sebelum rapat kabinet. Staf lagi nyiapin bahan laporan.
Staf A: 'Bos data aslinya agak ngeri nih. Defisit APBN udah mau di tembusnih di bawah 3%? Ojol pada ngeluh. MBG banyak masalah di lapangan. Koperasi desa belum jalan beneran. Gimana nih?'
Staf B: 'Defisit 3% itu masih di batas legal bos. Tulis masih terkendali.
Staf A: 'Tapi Menkeu sendiri bilang lagi dipikirin solusinya bos.'
Staf C: 'Nah itu artinya pemerintah responsif dan proaktif. Framing positif.
Staf A: 'MBG banyak laporannya yang bermasalah. Ada yang dapatnya lele mentah. Ada dapur yang malah jadi distributor nugget beku.'
Staf B: 'Tapi jutaan anak sudah merasakan manfaatnya kan? Fokus ke angka penerima manfaatnya.
Staf A: 'Koperasi desa belum ada yang beneran jalan bos.'
Staf C: 'Sedang dalam tahap persiapan yang matang. Tulis begitu.
Staf A: 'Ojol pada demo. Bilang sistemnya tidak manusiawi.'
Staf B: 'Ekosistem mitra digital terus berkembang. Jumlah driver aktif meningkat.
Staf A: 'Mereka aktif karena kepepet bos bukan karena senang.'
Staf B: 'Detail teknis. Tidak perlu masuk slide.
Staf A: 'Jadi semua kita giniin?'
Staf C: 'Bapak mau dengar progres bukan masalah. Kita bantu Bapak fokus pada hal positif.'
Staf A: 'Berarti kita bohong dong.'
Staf B: 'Kita kurasi informasi secara strategis. Beda tipis.
Staf A: 'Terus rakyatnya gimana?'
Staf B + C: '... 😶'
Staf C: 'Eh slide-nya jangan lupa pakai font yang besar ya. Bapak suka yang mudah dibaca.
Yg paling menyedihkan sampe hari ini adalah ga ada satupun ucapan dari Presiden mengenai serangan yg dialami Andrie Yunus.
Gw bingung yg dibilang antek asing siapa. Rakyatnya sendiri?
Sementara beliau ikut BOP tanpa ada penjelasan sama sekali ke rakyat.
Gw bingung yg dibilang gak mau liat Pemerintah berhasil siapa. Rakyatnya sendiri?
Sementara beliau gak mau jenguk anak2 muda yg sampe sekarang masih ditahan sama kepolisian tanpa kepastian masa depan yg jelas.
Gak bisa dikerasin terus, Pak.
Turun ke bawah. Ngobrol sama pegiat HAM. Ngobrol sama pengamat yg berseberangan sama Bapak. Ngobrol sama anak2 muda yg banyak harus nyambi karena blm dapat kerjaan. Ngobrol sama ojol, pekerja buruh, pegawai kantoran, OB, kasir, pedagang. Kelas menengah yg statusnya kadang bs di atas dan sangat mudah jatuh ke bawah.
Jangan cuma ngobrol sama org2 kaya yg punya modal. Jangan cuma ngobrol sama menteri-menteri yg cuma mau kasi informasi baik. Jangan cuma ngobrol sama anak2 muda lulusan luar negeri yg kerja sama Bapak atau mereka yg ikut Bapak dari lama atau mereka yg kagum sama Bapak krn Bapak bantu hidupnya.
Jangan cuma ngobrol sama mereka. Ngobrol sama orang-orang yg bersebrangan sama Bapak.
Kekuasaan itu gak akan bertahan lama, Pak dan kekuasaan itu bukan punya Bapak.
Suatu saat bakal Tuhan tunjukin kekuasaan itu bukan punya siapa2 kecuali mereka yg hidupnya bekerja keras & berintegritas.
Time will tell, Pak.