Far too much in Indonesia depends on a thin-skinned former general with a sketchy human-rights record. Prabowo Subianto needs to hear some unpalatable truths https://t.co/8cvnt563TJ
Photo: Getty Images
Ini adalah komen yang sangat cerdas soal MBG.
Kalo cerdas pasti paham
Mbg buka lapangan kerja?
Nope
Hanya menciptakan kontrak kerja,
Yg saat mbg dihentikan, di detik itu jg ngk ada pekerjaan
Mikiirrr
Karyawan yang bangga bilang "gue murni cuma mau kerja, males ikut politik kantor" itu biasanya naif dan karirnya bakal mentok di situ-situ aja.
Di dunia nyata, nolak main politik kantor dengan dalih integritas itu bukan bikin lo jadi pahlawan tapi cuma ngebuktiin lo kurang kecerdasan sosial.
Politik kantor itu YA bagian dari kerjaan lo. Bukan penghambat.
Dunia kerja itu bukan sistem meritokrasi yang adil. Kalau lo ga tau cara "menjual" diri lo, merebut kredit atas pekerjaan lo (dan kadang pekerjaan tim lo), serta bermanuver di sekitar ego atasan, maka lo hanya akan menjadi batu loncatan bagi orang2 yang ngerti cara mainnya.
🚨MIT researchers have mathematically proven that ChatGPT’s built-in sycophancy creates a phenomenon they call “delusional spiraling.”
You ask it something, it agrees. You ask again, and it agrees even harder until you end up believing things that are flat-out false and you can’t tell it’s happening.
The model is literally trained on human feedback that rewards agreement.
Real-world fallout includes one man who spent 300 hours convinced he invented a world-changing math formula, and a UCSF psychiatrist who hospitalized 12 patients for chatbot-linked psychosis in a single year.
Source: @heynavtoor
Baru dapat insight baru dari orang dikerjaan :
Salah satu kunci tenang kerja di kantor adalah gratitude. Mau liat orang promosi, dapet bonus berlipat-lipat, akrab sama bos, akrab sama client, dll pokoknya jangan pernah iri sama rezeki orang.
Go to work - get the job done - evaluate - improve - go home
Rezeki sudah ada yang atur dan ga mungkin tertukar.
Waktu ngurus visa di Hopkins, aku ditanya pake visa J kan? Soalnya dibayarin negara. Aku tanya ke LPDP, pake visa apa, soalnya ada visa F jg. LPDP bilang terserah. LPDP yg lain pd pake visa F, aku sendiri yg J.
Ini satu bukti LPDP ada andil jg kenapa yg di US banyak yg g pulang.
Mau ngaku dosa, saya dulu punya pola pikir kaya gitu jg, kak Sarah. Tapi gak sampe menjelek2an di publik ya.
Sebagai anak daerah yg ga pernah punya kesempatan ke luar negeri, pas pertama kali saya fellowship ke Amerika selama setahun, isinya adalah emosi sama negara sendiri. Karena di kampung saya, NTT, banyak sekali hal2 mendasar yg ga bs terpenuhi.
Tapi setelah saya plg dan benar2 mencoba cari beasiswa S2, dapat Chevening, dan ketemu sama professor dan teman-teman dari banyak negara yg open minded, saya justru makin pingin pulang ke Indonesia.
Karena saya tau, tujuan saya dikirim keluar buat belajar adalah untuk saya bisa jadi orang bermanfaat dan at least bisa bantu sodara2 sendiri di kampung & membangun Indonesia lewat pekerjaan2 saya.
Segimana saya sedih sama keputusan2 pemerintah, saya lebih sedih kalo sesama warga saya ga bs ikut merasakan manfaat baik pendidikan seperti saya.
Ada banyak Pengajar di Indonesia yg kuliah sendiri, ga dibiayain negara, tp mengabdinya seumur hidup bersama anak cucu dengan Paspor RI ❤️
Ada banyak temen² yg dapat beasiswa full dari pemerintah yg kemudian ikut bersumbangsih & mengabdi kepada masyarakat di Indonesia.
Ada juga temen² diantara keduanya yg kemudian memutuskan ganti paspor, tp tetap aktif bersumbangsih buat masyarakat RI entah lewat konten edukasi, sumbangan² ke NGO, mengelola start-up di RI, dll.
Mungkin, ada juga diantara keduanya tp kemudian memutuskan untuk berusaha sepenuhnya memutuskan hubungannya dengan hal² yg berkaitan dengan RI.
Apapun keputusannya, sepertinya Empati adalah sesuatu yg harus tetap dijunjung, apalagi kalau disampaikan diruang terbuka - dunia maya 🙏
My man said something to me that really stuck.
He told me, “I’m not here to control you. I’m not your dad, I’m your partner. You’re free to make your own choices. Just understand that every choice has consequences. If you choose something that damages what we’ve built, that’s on you.”
He said, “I’ll always tell you when something hurts me or crosses a boundary, because that’s what healthy communication looks like. But if you keep stepping over the line after I’ve shown you where it is, then you were never really protecting us to begin with.”
And honestly, that’s what accountability in a relationship sounds like.
For the first time, @TIME and Statista have identified the World’s Top 500 Universities using a robust set of quantitative indicators. It highlights not only academic excellence, but also how universities turn knowledge into real-world impact.
remember when rosé said “getting married and getting a house, why is that the status quo of being happy? some people have miserable experiences there and sometimes i feel like i’m so happy being a single girl” girlie was spilling facts