Temen aku, waktu itu jadi Kaprodi S1. pernah cerita
"Kita ga bisa nyalahin Gen Z ini-Gen Z itu.. Tantangan mereka beda dengan kita
Dulu zaman gw (tahun 90an), pegang ijazah tuh tiket masuk kerja, sebodo-bodonya lu, asal pegang ijazah, itu bisa lah masuk kerja asal ga pilih-pilih kerjaan.
Sekarang, Ijazahnya cuman ngebantu doang. Bahkan anak-anak (Mahasiswa) dari Semester 2-3 juga udah magang, udah intern dimana-mana. Karena kalau ga ya pas mereka lulus udah ketinggalan dibanding their peers.
Gw ga pernah nanya kalau ada mahasiswa izin. Gw tau stressnya mereka gimana, mau ke coffeeshop atau healing juga silahkan aja, generasi sekarang pressurenya emang berat banget"
Telihat taktikal? Tidak? Terlihat bodoh? Ya jelas terlihat bodoh dan konyol... Ini banyak yang mengabaikan sisi disiplin dan safety alias ngawur! Muzzle discipline tidak ada, kena sapu semua oleh laras senapan kawan di belakangnya, dan ada yang telunjuk masih menempel di pelatuk.
Ceire Ní Ghribín, the nurse who went viral after saying, "I was a nurse in Gaza. I volunteered in Gaza. I’ve seen what happens. There is a genocide. Free Palestine" has posted proof as people had been calling her a liar.
The heroine is a registered nurse and a midwife.
A Scottish fan chanted, "Free Palestine."
"I was a nurse in Gaza. I volunteered in Gaza. I’ve seen what happens. There is a genocide. Free Palestine."
She's a hero.
Guys, kita main bingo aja yuk buat besok.
Ini papan saya.
Yang kesebut kita tandain.
Yang berhasil Bingo besok saya kasih giveaway GoPay 50 ribu rupiah. Ke tiga orang.
Kalau ada lebih dari tiga, terpaksa diundi.
Tapi syaratnya udah harus bikin papannya dan posting di sini sebelum pidato.
Terima kasih utk semua yg sudah memberikan nasihat, cerita, masukan, dan doanya. Berikut rangkumannya:
1️⃣ Komunikasi itu kunci
Jangan tunggu masalah besar baru ngobrol. Cerita hal receh setiap hari, bilang “terima kasih” buat hal kecil (misalnya istri masak atau kamu bantu cuci piring). Kalau ada yang mengganjal, pakai kalimat “Aku merasa…” bukan “Kamu salah…”.
2️⃣ Turunkan ego
Pernikahan itu dua kepala beda, dua budaya beda. Kalau lagi ribut, yang satu mundur dulu, peluk, dan minta maaf. Jangan biasain menang debat, tapi biasain selesaiin masalah. Kalau sama-sama ego, bisa jadi masalah kecil akan jadi besar.
3️⃣ Uang jangan tabu dibahas
Transparan dari awal: gaji, utang, pengeluaran. Jangan ada rahsia-rahasiaan soal duit. Ini bom waktu nomor satu yang sering meledak di rumah tangga baru.
4️⃣ Rendahkan ekspektasi, tinggikan syukur
Pacaran beda banget sama nikah. Karakter asli baru keluar pas tinggal bareng. Jangan bandingin rumah tangga kalian sama couple goals di medsos. Fokus ke “kami berdua” aja. Misalnya, date night minimal seminggu sekali, tanpa bahas cicilan atau kerjaan.
5️⃣ We're a team, bukan bos-bawahan
Saling mengisi. Kalau dia pendiam, kamu yang ajak ngobrol. Kalau lagi males masak, bantu. Kalau ada rencana anak, cek kesehatan dulu, samakan visi parenting. Pokoknya: kalian satu tim lawan masalah, bukan lawan satu sama lain.
6️⃣ Fondasi agama = pondasi terkuat
Banyak yang kasih nasihat: jadikan syariat dan Tuhan sebagai “pengikat” utama. Ibadah bareng, doa bareng, ingat bahwa pernikahan ini juga ibadah. Itu yang bikin kuat saat badai datang.
Intinya, persiapan pernikahan paling penting bukan cuma di akad & resepsi, tapi kehidupan rumah tangga setelah menikah.
“Wajar kamu maunya sama yang lebih mapan”
Lelaki miskin gak di hargain, semua effort dan kebaikan si pasangan hilang begitu saja dengan datangnya si “mapan”
Semangat terus untuk para lelaki hebat pekerja keras diluar sana, usaha tidak akan mengkhianati hasil.
@tanyarlfes Nder jangan dengerin pendapat orang lain itu mah iri. Menurut gua realistis aja, kalian putus grgr apa? Kalo bisa dimaafin balikan dan bareng dia aja. Kalo kamu maunya sama dia ya gimana? Baik baik batalin pernikahannya. Dia juga mapan kan? Wajar kamu maunya sama yang lebih mapan