@saludosparatii@yogie1998168091 Yah, gimana lagi. Setiap mau bertanding Iran udah kena disadvantage harus melalui perjalanan jauh dulu dari Meksiko plus imigrasi.
Dari pengalaman, "jago byk bahasa" sering disalahpahami. Senior engineer yg gw respect biasany bukan polyglot dalam arti hafal syntax 5 bahasa.
https://t.co/06qVf9zyzs
Yg mereka kuasai itu konsep yg transferable: data structures, memory model, concurrency, system design, mental model. Begitu konsepnya udah solid, pindah dari Java ke Rust itu lebih ke soal adaptasi syntax dan ecosystem, bukan belajar ulang dari nol.
Makanya pola yang lo describe itu normal banget. Dua tahun lalu mostly Java, sekarang Rust, itu bukan berarti skill Java-nya hilang. Yang kepake terus itu underlying judgment-nya: kapan harus pakai struktur data tertentu, gimana reasoning soal trade off performance vs maintainability, gimana baca error dan trace root cause. Itu semua portable across language.
Gw pribadi skrg kebanyakan pake Go, Python, sama JS.
Tapi ada nuance penting. Depth itu beda dengan breadth. Orang yang spent 1,5 tahun serius di satu bahasa biasanya punya pemahaman yang jauh lebih dalam soal idiom, footgun, dan best practice bahasa itu dibanding orang yang cuma numpang lewat enam bulan terus pindah lagi. Jadi kalau pertanyaannya "apakah mereka expert di semua bahasa yang pernah dipake," jawabannya kemungkinan nggak. Tapi kalau pertanyaannya "apakah mereka bisa productive dengan cepat di bahasa baru," itu hampir selalu iya, karena fundamentalnya udah kebentuk.
Satu hal lagi yang sering kelewat, exposure ke banyak bahasa itu sendiri ngebentuk semacam meta skill. Begitu lo udah pernah ngalamin gimana garbage collection bikin behavior tertentu di Java, lalu ngalamin ownership model di Rust yang maksa lo mikir lifetime dari awal, lo jadi punya frame of reference buat compare trade off antar paradigm. Itu yang bikin senior engineer lebih cepat menilai "bahasa ini cocok buat use case apa," bukan karena hafal semua bahasa, tapi karena udah pernah lihat cukup banyak pattern.
Jadi singkatnya, real expertise itu di fundamental dan judgment, bukan di jumlah bahasa yang dikuasai. Bahasa cuma alat yang berubah seiring kebutuhan stack, tapi kemampuan mikir soal masalahnya yang stay constant.
Stop gunakan stunting sbg alasan agar MBG tidak dihentikan.. 😓
Hanya di Indonesia, bantuan sosial dimakan setengahnya o/ penyelenggara, bahkan o/ entitas swasta pemilik dapur. Bahkan jika program dilanjutkan dgn sasaran wilayah 3T, keluarga miskin, balita, & ibu hamil, anggarannya hanya sekitar 67 triliun u/ 26 juta penerima. Bukan 268 triliun, seperti yang dianggarkan sekarang. Selisihnya 201 triliun. 201T ini untuk siapa klo bukan untuk kepentingan??
Bayangkan 201T itu banyak, bisa digunakan u/ anggaran pendidikan, kesehatan, infrastruktur.
Bukan jd pakan ternak saja 😔
Waktu itu juga udah ramai dugaan duopoli dan diusut KPPU. AirAsia sempet nggak bisa dicari di situs OTA karena kalau nggak salah ketika itu harga tiketnya masih belum ikut2an naik. 😅
Timelinenya persis seperti yang saya ingat betul. Gara2 tiket pesawat tiba2 melonjak tinggi di awal 2019 saya batal pergi ke Medan dan Pekanbaru utk suatu acara. Tahun 2018, Jakarta-Padang PP masih dapat harga 938rb. Tiba2 awal 2019 harga utk sekali jalan sekitaran 900rb-1,1jt.
Sekarang gw minta lo bayangkan sesuatu. Di kota lo cuma ada dua warung nasi. Dan dua-duanya ternyata dimiliki oleh satu keluarga besar. Kira-kira, mereka bakal banting harga saingan satu sama lain, atau mereka bakal kompak netapkan harga tinggi dan saling senyum manis?
Jawabannya jelas. Dan itu persis yang terjadi di langit Indonesia.
Setelah KSO November 2018 itu, tiba-tiba saja Januari 2019, Lion Group, Garuda Group, dan Sriwijaya secara serentak menghapus bagasi gratis dan menahan harga peak season di musim sepi. Serentak. Bareng-bareng. Di waktu yang persis sama. Kayak udah diatur.
Riset LPEM FEB UI (2019) mencatat betapa brutalnya dampaknya dalam hitungan bulan saja: 1,8 juta penumpang hilang dari Oktober 2018 ke Januari 2019. Hampir 8 juta potensi penumpang lenyap di kuartal pertama 2019 dibanding tren jangka panjang sebelumnya.
Perlu di camkan bahwa Itu bukan orang yang pindah ke maskapai lain, mereka adalah orang yang batal terbang sama sekali. Yang milih naik kereta, naik kapal, atau diam di rumah. Karena tiket pesawat tiba-tiba tidak terjangkau...
Nah ini. Posisi saya mendukung Ibam. Tapi bukan berarti Kementrian jaman Nadiem (plus Jurist Tan & shadow teamnya) tidak bermasalah.
Waktu itu kami masih di bawah Kemendiknas. Banyak banget rekan-rekan saya yang bercerita kerusakan sistem yang dibangun Nadiem.
Di sini pun ada persimpangan rel yang sudah dipasang palang kereta dan pos penjagaan resmi tapi tidak beroperasi juga setelah beberapa bulan lamanya. Cuma dijaga pak ogah. Entah apa kendalanya.
Abis nyari tau tabrakan kereta Argo Bromo dan KRL di Bekasi.
- Jalur yg dilewatin taksi ijo itu bukan lintasan resmi. Cuma dijaga bambu dan pak ogah/ormas.
- Pemerintah dan KAI sempet mau tutup jalur gak resmi ini tapi ditolak keras sama ormas tsb.
- 2026 kejadian tabrakan.
Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi.
Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas".
Saya tolak, ngga mau bohong & zalim.
Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka.
Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua.
Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan.
Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan:
Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri.
Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong.
Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran.
Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak.
Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.”
Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran.
Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar.
Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia.
Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe.
Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif.
Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah.
Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan.
Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir.
Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan.
Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan...
Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan.
Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini.
Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini.
Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara.
Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.
Baru banget pagi ini dapet tawaran kerjaan bantu digital transformation di sebuah perusahaan. Nilainya lumayan, di atas rata-rata rate pribadi saya.
Tanpa pikir panjang, langsung saya tolak. Soalnya itu BUMN.
Doi sepertinya tau, dan bilang "Gara-gara kasus Mas Ibam ya Mas?"
Sebagai engineer Indo yang belajar banyak dari Ibam, baca ini sakit hati rasanya.
Satu-satunya saran buat teman-teman tech di titik ini: usahakan cari jalan untuk berkarier di luar negeri. Kalaupun stay, jauh-jauh dari public sector atau pemerintahan, tetap di private sector.
Teknologi di Indonesia sudah selesai. Investasi terbaik saat ini yang bisa kita berikan buat generasi berikutnya: berkarya sebaik-baiknya di luar negeri dan membangun network seluas-luasnya.
Selamat tinggal keadilan, selamat jalan teknologi Indonesia. Unicorn era was a nice ride.
goblok bgt kalo lu sadar satu satunya alesan ini jadi masalah cuma karena nggak ada yg punya kulkas.
kenapa ga punya kulkas? kemahalan
kenapa kemahalan? duitnya abis buat bayarin preman
Gw mau cerita soal salah satu project paling wild yang pernah gue kerjain: Feast, open-source feature store yang lahir dari kebutuhan nyata di Gojek. 🧵
I’m hearing extremely concerning news that Andrie Yunus, the Deputy Coordinator of the Commission for the Disappeared & Victims of Violence (@KontraS) suffered an acid attack carried out by unidentified individuals, resulting in serious injuries across his body. I call on the Indonesian authorities to carry out thorough investigations into this horrific attack. Impunity for violence against HRDs is unacceptable. @IndonesiaGeneva@Kemlu_RI
Apakah yakin kita masih bebas aktif ? Selama bertahun2, Iran adalah negara sahabat 🇮🇩. Kita sama2 anggota NonBlok, OKI, D8, G77, BRICS. Kita sering beda pandangan dan beda posisi dgn Iran, dan sistim politik + ideologi masing2 juga beda, namun 🇮🇩 dan Iran tidak pernah cekcok. Iran punya sejumlah musuh tapi tidak pernah meminta 🇮🇩 memusuhi musuh2nya. Fokus hubungan bilateral kita adalah kerjasama, persahabatan dan saling menghormati.
Sayangnya, ketika Ayatollah Khamenei dll tewas terbunuh, Pemerintah 🇮🇩 tidak menyatakan ucapan belasungkawa, sbgmana lazimnya kl pemimpin negara sahabat 🇮🇩 meninggal. Kelupaan atau sengaja ? Kalau sengaja, yg kita takutkan apa ? Apakah yakin kita masih bebas aktif ? Krn merasakan sikap dingin kita thdp kematian pemimpinnya, tidak heran Menlu Iran menolak dgn halus tawaran mediasi 🇮🇩. Mungkin mereka menyangsikan motivasi 🇮🇩 .. something to think about #wisdomwithoutfear
Trump said we had to attack Iran because we can‘t allow it “to have a nuclear weapon.” Really?
This is the same president who, in June, said: “Iran’s nuclear facilities have been obliterated.”
Vietnam. Iraq. Iran. Another lie. Another war.