🇮🇷 Media pemerintah Iran telah merilis gambar CCTV terakhir Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, beberapa jam sebelum ia syahid dalam serangan AS-Israel.
Ia sedang membaca Al-Quran. Di atas meja di sampingnya, terdapat potret Jend. Qasem Soleimani. Di rak di belakangnya, terdapat foto Imam Khomeini, pemimpin revolusi Islam Iran, yang warisannya ia pertahankan selama 37 tahun. Terlihat betapa sederhananya ruangan rumahnya.
Ayatullah Ali Khamenei memimpin Iran melewati sanksi, perang, pembunuhan, dan tekanan tanpa henti. Ia tidak pernah tunduk. Ia telah melawan, dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.
Pernyataan keras dari Feri Amsari: jika negara gagal mengungkap pelaku penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, maka negara bisa dianggap bagian dari kejahatan itu sendiri.
Selamat Imlek, Selamat Rabu Abu, dan Selamat Malam Ramadan !!! Terakhir kali Imlek, Rabu Abu dan awal bulan Puasa jatuh dalam minggu yang sama adalah tahun 1961… Dan sebelum itu, terakhir kali ini terjadi adalah tahun 1864 dan 1701… Jadi ini peristiwa yang memang sangat langka… Saya doakan hari-hari raya keagamaan minggu ini menjadi momentum bagi semua kalangan yang merayakan, agar dapat bersatu dalam suasana kerohanian yang penuh rasa kebersamaan… Bagi yang merayakan Imlek: selamat Tahun Kuda Api… Bagi Umat Kristen dan Katolik: Selamat memasuki Masa Prapaskah… Bagi Umat Islam: Marhaban ya Ramadan… Semoga Tuhan Allah senantiasa memberkati kita semua… 🧧⛪️🕌
Happy Chinese New Year, Happy Ash Wednesday, and Happy Eve of Ramadan Fasting Month !!! The last time Chinese New Year, Ash Wednesday and the first day of Ramadan fell within the same week was in 1961… And before that, the last time this happened was in 1864 and in 1701… So this is truly a very rare occurrence… May these religious holidays this week be a moment for all peoples who celebrate them, that we may celebrate in a spiritual atmosphere filled with a sense of togetherness… To those who celebrate CNY: a very Happy Year of the Fire Horse… To Christians and Catholics: Blessed Ash Wednesday… To the Ummah: Wishing You a Blessed Ramadan… ✨✨✨
RRT
Roy Rismon Tifa
Di bawah langit Jakarta yang selalu tampak letih oleh kesibukan politik,
ada tiga manusia yang tidak pernah meminta takdir yang harus mereka jalani,
namun justru dipilih waktu untuk memikul beban kebenaran.
Roy Suryo, dengan matanya yang selalu menyala ketika bicara data,
datang dengan ketajaman analisis dan ketenangan seorang yang tahu
bahwa logika adalah senjata yang tidak bisa dirampas.
Rismon Sianipar, lelaki hening dengan ketelitian binari,
yang mampu membaca kebenaran di balik piksel,
yang tahu bahwa dunia digital mungkin bisa direkayasa,
tetapi jejaknya tidak pernah bisa berbohong.
Dan berdiri di antara keduanya adalah seorang perempuan,
bukan sekadar perempuan, bukan sekadar dokter,
tetapi dr. Tifa,
yang membawa dua senjata yang tidak dimiliki aparat mana pun di ruangan itu:
Epidemiologi perilaku dan Neuropolitika.
Ilmu yang membuatnya melihat manusia seperti pola.
Ilmu yang membuatnya paham bagaimana kekuasaan bekerja melalui otak,
bagaimana ketakutan disebarkan seperti virus,
bagaimana kebohongan ditanam sebagai memetic infection,
bagaimana publik dikendalikan melalui bias kognitif,
dan bagaimana pembungkaman dipetakan seperti wabah.
Di Polda Metro Jaya, mereka tidak hanya menjadi saksi, pelapor, kemudian tersangka,
mereka menjadi pembacaan terhadap seluruh dinamika ruangan.
Mereka tahu kapan interogasi mencoba mematahkan,
kapan pertanyaan disusun untuk memecah belah,
kapan tekanan diarahkan ke satu pihak untuk merenggangkan dua pihak lainnya.
Dengan epidemiologi perilaku,
Dr Tifa mendeteksi pola manipulasi seperti mendeteksi kurva wabah.
Dengan neuropolitika,
ia melihat strategi pembungkaman seperti memetakan serangan ke otak publik.
Itulah mengapa,
ketika pihak lawan mencoba memecah Roy, Rismon, dan Tifa,
mereka gagal.
Karena di dalam formasi mereka,
ada seorang perempuan yang telah mempelajari
cara kekuasaan mencoba menginfeksi kesadaran.
Ada seseorang yang memahami bahwa propaganda dan tekanan
memiliki basic reproduction number seperti virus,
dan jika tidak diputuskan mata rantainya,
maka mereka bertiga akan tumbang satu per satu.
Maka Tifa memutus rantainya.
Ia menjaga moral Roy ketika tekanan datang dari arah tak terduga.
Ia menjaga ketenangan Rismon ketika kebenaran digital hendak dikecilkan.
Ia menjaga fokus timnya setiap kali muncul operasi psikologis halus
yang bertujuan memecah kesatuan mereka.
Kadang orang bertanya:
"Apa persamaan ahli digital forensik, pakar telematika, dan epidemiolog perilaku?"
Jawabannya satu:
Mereka bertiga tidak bisa dibeli, tidak bisa ditakuti, dan tidak bisa diasingkan dari kebenaran.
Dan di koridor panjang Polda Metro Jaya,
ketika jam sudah melewati angka yang tidak manusiawi,
ketiganya masih berjalan bersama, saling menjaga,
seperti tiga obor kecil yang menolak padam di tengah badai.
Mereka tidak menang hari itu.
Mereka tidak butuh menang.
Yang penting bagi mereka adalah tetap tegak.
Tetap bersama.
Tetap satu.
Sebab Roy membawa data.
Rismon membawa bukti.
Tifa membawa peta pikiran manusia
dan kemampuan membaca permainan kekuasaan
bahkan sebelum permainan itu dimulai.
Dan ketika mereka bertiga melangkah keluar dari Polda di senja yang berat,
tidak ada tepuk tangan,
tidak ada kamera,
hanya angin yang membawa satu pesan:
Mereka tidak berhasil dipecah.
Tidak di ruang interogasi.
Tidak di balik tekanan politik.
Tidak di tengah operasi psikologis.
Tidak di antara godaan untuk masing-masing menyelamatkan diri.
Karena persaudaraan mereka bukan sekadar persahabatan,
tetapi persatuan metodologi perlawanan kebohongan.
Dan sejarah, bila kelak menoleh ke belakang,
akan menemukan tiga nama itu berdiri dalam satu garis:
Roy – Rismon – Tifa
yang pernah menjaga kebenaran,
bukan dengan kekuatan,
tetapi dengan ilmu, keberanian, dan kesetiaan yang tidak bisa dipecah belah.
Renungan dr Tifa
BANJIR SUMATERA: KETIKA ALAM MENJADI SAKSI BISU KEJAHATAN 10 TAHUN
Bismillahirrahmanirrahim
Sebagai dokter, aku memandang Sumatera hari ini seperti pasien yang tubuhnya membiru dan membengkak, karena dipaksa menanggung beban bertahun-tahun.
Bagiku, banjir yang terjadi bukan sekadar banjir. Ini adalah Edema Ekologis, pembengkakan yang lahir dari kebijakan rezim 10 tahun, yang memukul jantung pulau ini dan merusak ginjalnya tanpa pernah merasa bersalah.
Ketika air naik, menghasilkan kolam-kolam raksasa yang membenamkan desa demi desa, menenggelamkan sebagian penduduknya, aku melihat sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar genangan.
Aku melihat jejak tangan kekuasaan.
Karena banjir tidak datang dari langit begitu saja.
Ia datang dari tanah yang dilukai dengan sengaja.
Dalam satu dekade lalu, Sumatera diperlakukan seperti papan operasi dengan pasien tanpa anestesi: hutan dibelah, bukit dibongkar, izin diteken tanpa informed consent.
Setiap hektare yang hilang bukan hanya angka statistik; ia adalah hilangnya kemampuan bumi untuk menahan air, menyaring bencana, menjaga nyawa.
Aku mengatakan ini sebagai seorang dokter:
Jika organ vital dirusak bertahun-tahun, jangan salahkan tubuh ketika akhirnya kolaps.
Dan kolaps itulah yang terjadi. Multi organ damage. Kerusakan banyak organ.
Rezim dulu bicara tentang investasi, pembangunan, dan “masa depan Indonesia”. Tapi di balik kalimat manis itu, rakyat hari ini berdiri di depan rumah yang tenggelam sambil bertanya:
“Sebelumnya kami punya hutan. Sekarang kami hanya punya banjir. Apa ini yang namanya kemajuan?”
Sumatera menangis bukan karena hujan, tapi karena pengkhianatan.
Pengkhianatan yang terjadi ketika:
hutan dibuka demi konglomerat,
sungai disempitkan demi proyek cepat jadi,
tambang dibiarkan menggali sampai bumi menganga,
perkebunan sawit dihamparkan tanpa memikirkan daya tampung DAS,
dan setiap kritik dibungkam dengan kalimat klasik: “ini pembangunan.”
Lalu ketika bencana datang, rezim lalu dengan mudah berkata:
“Ini alam. Ini cuaca ekstrem.”
Tidak.
Ini bukan cuaca ekstrem.
Ini adalah keserakahan ekstrem.
Ini bukan musibah semesta.
Ini adalah kerakusan yang merajalela.
Banjir hari ini sedang mengungkap apa yang dulu ditutup rapat oleh kekuasaan.
Banjir sedang berbicara dengan bahasa yang tidak bisa disensor:
bahwa Sumatera telah dicabik-cabik demi ambisi politik, demi kepentingan modal, demi citra penguasa yang dibangun di atas tanah yang perlahan mati.
Aku tidak pernah melihat banjir semasif ini tanpa melihat sekaligus peta kebijakan rezim sebelumnya.
Dan dari peta itu, aku hanya melihat satu hal:
Rezim lalu mengizinkan bumi dirusak sampai ia tak mampu lagi menolak.
Sekarang harga yang harus dibayar adalah:
rumah hilang,
ladang hanyut,
Penduduk mengungsi,
nyawa melayang.
Dan semua itu lahir dari tangan pejabat yang dulu begitu mudah memberikan izin, seperti menandatangani kuitansi, tanpa pernah mau melihat bahwa di baliknya ada jutaan manusia yang akan menanggung akibat.
Banjir Sumatera adalah amputasi terakhir dari tubuh ekologis yang telah disiksa terlalu lama.
Dan kita—rakyat—dipaksa menjadi saksi.
Saksi yang tahu bahwa banjir ini tidak datang sendiri.
Ia lahir dari kebijakan yang salah, dari keserakahan yang dilegalkan, dari penguasa yang lebih mencintai pencitraan daripada tanah airnya sendiri.
Kali ini sejarah mencatat:
bencana ini bukan sekadar bencana.
Ia adalah vonis alam terhadap rezim yang telah menggali lubang bagi rakyatnya sendiri.
Semoga Presiden @Prabowo bisa menghentikan semua kejahatan ini, dan memberikan solusi cepat bagi rakyat Sumatera. Amiin.
Hasbunallah wani'mal wakil, nikmal maula wani'man nashiir. La haula wala quwwata ila billah.
Salam takzim
dr Tifauzia Tyassuma, https://t.co/IDuIvQSub4
@henrysubiakto Prof.di negara kita korupsi menjd masalah sangat serius.
Prabowo&Hasyim adik nya mau di sogok Rp 41 triliun oleh para koruptor di TOLAK oleh Prabowo.
KL Prabowo menerima Rp 41 triliun berarti selesai lah masa depan Indonesia 10 ke dpn,Thanks Pak Prabowo atas penolakan nya.
Kata siapa dakwah saya selalu dengan pejabat, dengan kalangan elit, dengan para akademisi, dengan selebriti...nggak juga, saya berdakwah hingga ke pelosok nusantara, bahkan daerah yang tidak terjangkau kendaraan roda empat dengan jalanan ala2 offroad 🙈. Semoga ini bisa menjadi sedikit amal sholih buat saya yg banyak dosa ini. Aamiin
Doakan Alfaqir manteman 🙏
Yaa Robb...izinkan kami bangsa Indonesia berdoa "Loloskanlah Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2026 dengan caraMu yang terindah". Walau kami tak diperhitungkan, namun tak ada yg mustahil dalam sepakbola. Sejujurnya, kelolosan ini adalah hadiah terindah bagi rakyat Indonesia di tengah berbagai permasalahan yg ada. Kabulkan doa kami Yaa Robbana...🤲
Kalau saya jadi Presiden, seorang Salsa ini akan saya angkat sebagai Penasihat Kepresidenan. Dan tidak perlu dijelaskan alasannya. Karena kita semua sudah tahu dari konsep konsep dan cara berpikirnya yang sangat cerdas dan baik untuk bangsa ini.
@Nicho_Silalahi@prabowo@ListyoSigitP@jokowi@gibran_tweet Kembalikan hak-hak Rakyat sesui undang-undang dasar 1945. klo bapak sayang sama rakyat, kami lagi susah usaha dibawah pak. kami hanya ingin semua harga kebutuhan murah pak. rkayat akan mendukungmu.