Dalam sebuah podcast, Deny Sumargo pernah bertanya kepada Chika, ibu dari Kenneth, bayi yang viral karena kemampuan belajarnya sejak usia sangat dini.
"Kalian pernah cek ke dokter nggak sih, kok Ken bisa secerdas itu?"
Jawaban Chika justru membuat banyak orang berpikir.
"Kalau kata dokter, sebenarnya semua bayi punya potensi. Yang membedakan adalah apa yang diberikan orang tuanya selama 1.000 hari pertama kehidupan."
Menurutnya, stimulasi tidak dimulai saat anak lahir, tetapi bahkan sejak masih di dalam kandungan.
Saat usia kehamilan sekitar 28 minggu, ketika pendengaran janin mulai berkembang, mereka rutin mengajak bayi berbicara. Bahkan sang ayah sering membacakan buku, bukan agar bayi langsung memahami isinya, tetapi supaya terbiasa mendengar suara orang tuanya.
Setelah lahir, Kenneth dikenalkan dengan buku hitam putih (contrast book) saat tummy time untuk membantu stimulasi penglihatan sekaligus melatih otot leher dan motoriknya.
Saat memasuki usia sekitar tiga bulan, ia mulai dikenalkan pada buku dengan berbagai tekstur untuk merangsang indra peraba dan membiasakannya mengeksplorasi berbagai sensasi.
Ketika mulai bisa menunjuk benda, orang tuanya juga tidak langsung mengambilkan apa yang diinginkan.
Mereka mengajak Kenneth berkomunikasi.
Misalnya, "Adik mau yang ini? Ini namanya tisu."
Cara sederhana seperti itu membantu memperkaya kosakata sekaligus melatih kemampuan berpikirnya.
Yang paling menarik, orang tuanya mengatakan bahwa mereka tidak mengejar anak yang sekadar pintar secara akademis.
Mereka lebih mengutamakan adab, kemandirian, kemampuan bernalar, dan nilai-nilai kehidupan.
Bagi mereka, kepintaran hanyalah bonus.
Terlepas dari kisah Kenneth, penting diingat bahwa setiap anak berkembang dengan kecepatan dan cara yang berbeda. Tidak semua anak akan mencapai kemampuan yang sama pada usia yang sama, dan itu bukan berarti ada yang gagal. Faktor seperti kesehatan, lingkungan, stimulasi, serta perbedaan individu juga berperan besar dalam tumbuh kembang anak.
Menurut kalian, seberapa besar pengaruh pola asuh dan stimulasi di rumah terhadap perkembangan anak dibandingkan dengan faktor bawaan atau genetik?
In 9 years in crypto, Iโve never seen sentiment this lost
But in reality, itโs the most obvious bull setup Iโve ever seen
Saylor is just manipulating the price, every time he sells, itโs a buy signal - not a sell signal.
Hereโs what happens next ๐งต๐
Bitcoin could be following the same bottom pattern as the last cycle.
In 2022, Bitcoin fell about 20% below the 2017 bull market peak before finding its bottom.
We're seeing a similar setup now, with Bitcoin trading about 15% below the 2021 bull market peak.
It's too early to say, but it's hard to ignore.
GM
Kalau kalian mencari indikator paling rasional untuk mendeteksi bottom Bitcoin, perhatikan juga metrik Bitcoin Mining Production Cost.
Logikanya sederhana, penambang (miner) adalah produsen utama yang rutin mendistribusikan suplai BTC baru ke pasar. Ketika harga Bitcoin anjlok hingga menyentuh ambang batas modal produksi mereka, siklus seleksi alam otomatis terjadi.
Metrik ini sangat krusial karena penambang (miner) adalah sumber selling pressure alami di ekosistem. Mereka wajib menjual BTC untuk membiayai operasional listrik dan mesin.
Bitcoin Production Cost saat ini berada pada $59.800 an
Jika anda sudah mulai membeli $BTC dibawah harga Bitcoin Production Cost maka anda membeli dengan harga undervalue dan bukan overvalue.
Fase yang disebut miner capitulation inilah yang secara historis menjadi penanda awal bahwa market sudah mendekati fase bottomnya.
Saya selalu memakai data dan bukan main asal tebak-tebakan, karena kalo pake data aja bisa ada potensi salah apalagi gapake data, ya kan?