Suku Korowai di Papua baru “ditemukan” dunia sekitar tahun 1970-an.
Sebelum itu? Mereka hidup tanpa tahu ada peradaban lain di luar hutan mereka.
Rumah mereka dibangun di atas pohon, ketinggian sampai 50 meter, setara gedung 15 lantai.
Populasinya sekitar 4.000 orang. Bahasa mereka unik, nggak mirip suku Papua mana pun.
Di antara jutaan manusia yang scroll medsos sekarang, ada ribuan orang yang hidupnya masih seperti ini.
Dan mereka baik-baik saja.
Mirip punya saya. Saya katakan lagi, ini mirip Ponzi.
Di awal dikasih payout cuma sebagai apresiasi karena sudah menggunakan X selama bertahun-tahun (lihat yang dibayar adalah aktivitas dari 2023-2026) dan sebagai intensif supaya berlangganan cenblu.
Akun di bawah 30k follower cuma jadi member kelas bawah untuk mendanai gaji member atas (follower di atas 30k).
Kita baru akan digaji setelah biaya langganan kita terkumpul lebih dari 50% dari nominal gaji. Artinya X memberikan uang dari uang langganan kita sendiri selama beberapa bulan sebelumnya atau dari member lain. Tipikal Ponzi.
Uang pemasukan dari iklan di X masih kecil, kita dibayar dari uang langganan member lain meski Grok mengklaim 70% dari iklan.
Kenapa kita disuruh bikin video? Karena iklan dalam bentuk video lebih banyak dan menghasilkan dibanding iklan web/twit yang disisipkan di kolom komentar.
Ingat, saat peralihan dari twitter ke X, app ini sempat kesulitan keuangan (tidak profit bahkan operasional minus) dan memecat hampir semua IT-nya.
Sekarang kita tahu X sudah bukan lagi tempat untuk bercuit atau sambat, melainkan jadi mesin penghasil uang bagi beberapa user.
Bagi perusahaan, mempertahankan app dengan pengguna yang cukup besar melalui cara instan adalah dengan memberi revenue sharing. Itu paling simpel. X ingin mengikuti jejak fb pro dan app lain, tapi tidak dengan transparasinya.
X memilih menyembunyikan perhitungan payout karena sistemnya sudah bermasalah.
Sembari Elon mewujudkan ambisi idealisnya menjadikan X sebagai Everything App, pengguna diberi harapan cuan supaya tetap bertahan hingga keinginannya itu terwujud.
Jalan cepat dan praktisnya ya menjadikannya The Big Ponzi App.
Bayangkan jika Thread memberi payout dengan transparasi mirip fb pro, saya yakin banyak user yang migrasi ke sana.
Inception came out in 2006 for $4 million. Christopher Nolan's $160 million version arrived four years later. The original director died five weeks after Nolan's opened.
His name was Satoshi Kon. The film was called Paprika.
Same dream-sharing technology premise. Same Japanese businessman hiring the team. Same physics-defying hallways. Same elevator descending through layers of subconscious. Same dream architect character.
Kon's entire production budget was less than what Warner Bros spent on Inception trailers. The marketing campaign alone was $100 million, 25x Paprika's full production cost.
Paprika opened in two US theaters. Total overseas gross outside Japan: $944,915. Inception grossed $839 million worldwide and won four Oscars. International box office gap: roughly 890 to 1.
Kon's crew of 50 at Madhouse worked from his hand-drawn storyboards. The dream parade, the warping corridor, the character who becomes the media they consumed too much of. 30 months from planning to completion with fewer people than a modern Pixar lighting department.
The part nobody talks about: Kon was diagnosed with pancreatic cancer in May 2010. Inception opened July 16. He died August 24. He was 46. He made four completed features in his entire career. Perfect Blue. Millennium Actress. Tokyo Godfathers. Paprika. His follow-up Dreaming Machine was shut down permanently because his team said no one else could finish it.
Darren Aronofsky bought rights to Perfect Blue to recreate the bathtub scream shot in Requiem for a Dream. The bone structure of every serious dream-logic film made since 2000 traces back to four movies Kon finished in Tokyo on budgets Hollywood rounds off.
The industry found the storyboards. They just never paid the storyboard artist.
Coba bayangin lo adalah Bruno Fernandes di summer 2025. Umur masih 31, udah perform konsisten bagus, nge-carry klub, tapi prestasi seret banget.
Abis itu dateng klub Saudi ngasih tawaran uang yg ga masuk akal, bahkan rumornya segila £1juta per pekan, alias nyaris Rp100 miliar sebulan.
Bruno bisa banget nerima tawaran itu, dan wajar banget kalo mau pindah. Ibarat karyawan yg bagus tapi gak didukung environment kantor yg oke.
Tapi, Bruno malah stay di United. Istrinya, Ana Pinho, juga ngedukung keputusan dia. To try his best at United and see where this all lead him.
When we talk about loyalty there is level to this game. Bruno loves his wife & United from his heart.
Bener-bener couple yg dari day one bareng, dan Ana lah yg nemenin karier Bruno dari nol, sampe-sampe pemikiran & shared goals mereka pun sama. What a love story.
Ini sih, bukan cuma Bruno yg layak dapet status legend United. Istrinya juga gak kalah magnifico support suaminya 🪄
Dulu tahun 2018 saya suka banget sama Marion Jola.
Dan akhirnya fanboying saya berhasil karena saya ada di tahap telponan dan sempet rutin chattingan sama doi😅
Jadi saya kan pengikut Indonesian Idol. Di akhir 2017 saya liat video audisinya Marion Jola. Busettt pesonanya luar biasa.
Nonton babak2 berikutnya tambah ngefans.
Sampe akhirnya di pertengahan Januari saya mau ke Jakarta, nonton Indonesia lawan Islandia. Trus kepikiran, sekalian kasih gift buat Lala aja kali yaa.
Setelah mikir-mikir akhirnya saya beliin dia dress plus kasih dia buku cerita yang setiap halamanya ditempelin peta dari atlas. Di bawahnya saya tulis tangan kisahnya.
Halaman pertama: Peta Kupang. Saya tulislah cerita kelahirannya dia.
Trus sampe peta Jakarta, peta Indonesia, peta asia tenggara, peta Asia, peta dunia. Intinya saya tulis bagaimana akhirnya suaranya dia bisa didengar satu dunia.
Biar seru ceritanya, saya selipkan konflik, di mana saat kariernya Lala lagi naik, ada satu masalah yang bikin dia dihujat habis-habisan. Endingnya Lala bisa keluar dari masalah itu dan bisa mewujudkan mimpinya.
Tanggal 12 Januari malam saya sampe Jakarta. Begitu sampe hotel, buka grup udah rame. Ada kasus video mirip Lala. Anjiiir sebagai fans saya sedih. Bukan karena videonya—saya yakin itu bukan Lala���tapi mikirin gimana Lala pasti tertekan banget.
Dan saya mikir, “Anjir kok kayak cerita yang aku buat sih? Ada masalah yang bikin dia dihujat habis-habisan?”
Tanggal 13 Januarinya saya seharian keliling-keliling, cari tahu gimana bisa kasih hadiah ini. Ke RCTI. Nggak boleh masuk. Bingung, akhirnya dm indonesian idol di ig. Setelah berjam-jam, akhirnya dibales. Suruh kasih kadonya ke kantor Fremantle Media. Singkat cerita hadiah berhasil diterima security Fremantle Media.
Tanggal 14 Januari nonton Indonesia lawan Islandia. Pas selesai nonton kehujanan. Basah semua.
Sampe hotel saya keringin baju, celana, sepatu. Sekitar sejam.
Eh selesai ngeringin baju, ada dm masuk. Dari sahabatnya Lala. Dia nanya bener nggak saya yang ngirim kado buat Lala.
Saya amazed, kok bisa nemu akun Instagram. Padahal di hadiahnya saya cuman nulis nama belakang. Tanpa kasih tahu akun instagram.
Panjang banget ya, hp saya sampe ngelag wkwkw lanjutannya di reply, ganti ke laptop dulu😂
Akibat oke gas kaum 58% yg saat itu milih sambil ketawa ketawa haha hihi karena gemoy, yg nangisin Prabs, yg belain Gibran dll
Sekarang :
- Rupiah ambruk
- Gabung BoP
- TNI ada yg meninggal akibat zionist
- Ruang udara diobral
- MBG
- dll
Semoga kalian mendpt adzab dunia akhirat
Gue udah baca ini artikelnya. FYI bukan cuma soal bau. Warga Cibetus sampai harus nutup rumah hampir 24 jam, nggak bisa jemur baju karena lalat, dan banyak yang kena ISPA/batuk berkepanjangan. Udah berkali-kali ngadu ke pemda tapi minim respons. Pas protes malah ada intimidasi & penangkapan.
Ini jelas gak cuma sekadar isu produk 😭, tapi soal lingkungan & hak hidup warga.
😭😭😭
Pdhl yg dibahas soal kolaborasi.
Reading comprehensionnya gmn sih..
Pak Jarwo kwat aja rispek sama standup indo krn solid bgt beda dgn para pelawak senior di PASKI yg diajak kumpul buat bahas event aja susah.
Diajak meeting aja nanya “ada duitnya gak?”
Sumber: podcast GJLS
Penulis jg mesti bikin podcast atau banyak2 muncul di tv, jadi cameo di film2, atau ikut klub moge, gitu ya Far?
Petani dan nelayan jg mestinya demikian, biar maju dan mampu bersaing.
Kaya mba Dewi Lestari gitu lho, dia bikin grup penulis yg di dalamnya ada Raditya Dika juga, meski cuma grup WA tp pas kumpul2 diskusinya jalan sampe ada notulen segala.
Kolaborasiiiii.
Itu kameo film dan moge jg bagian dari itu lho sebenernya.