Ada seorang bocah di SMP gue yang baru aja MOS/ ospek udah langsung dapet title "Legenda".
Di hari ketiga ospek, kita diwajibkan membawa kerajinan tangan. Bocah-bocah lain membuat prakarya lucu, unik dsb.
Ada satu bocah disuruh ke depan menjelaskan karyanya, ia maju dengan percaya diri.
Ia tunjukkan karyanya, sepintas kelihatan dari kejauhan dia cuma bawa botol kaca bekas. Saat ia jelaskan, semua terdiam.
Dia jelaskan ini barang bisa didapat di rumah. Cuma butuh botol bekas kratindaeng, koran bekas/ kain, minyak tanah, dan gerusan korek api kayu.
Ya, legenda itu membuat prakarya berupa bom molotov di acara ospek SMP.
Para penggemar Rayo Vallecano menanggapi nyanyian-nyanyian Islamofobia yang baru-baru ini terdengar di stadion-stadion Spanyol dengan nyanyian-nyanyian mereka sendiri:
“Siapa pun yang tidak melompat adalah Netanyahu..”
When you use the phrase “mengabdi untuk negara,” you are romanticising scholarship. Mengabdi is a morally charged word. It makes a scholarship sound like an act of "kindness" from the country: something that, in return, demands moral obligation i.e., submission (mengabdi).
But what does that actually mean?
If by “country” you mean the government, whose money is it spending? If you mean “the people,” did they directly choose to offer this generosity?
In either case, calling it kindness is problematic. You are not “kind” when you spend other people’s money. And it is not “kindness” if those whose money is used have no direct say in how it is used.
A scholarship is not charity. It is public investment, funded by taxpayers, justified by expected returns, and managed through policy, not emotion.
If it is an investment, then the real question is simple: which approach delivers the best return? My argument is straightforward: forcing scholars to return immediately does not maximise value for money.
The best slogan for LPDP is "Menjadi yang terbaik"
Masyaallah.
Udah kelewatan nih...
Miris!!! Suasana salat tarawih disalah satu masjid yang berada di wilayah Pati Jawa Tengah. Ibadah yang seharusnya penuh hikmad, khusuk dan tenang seketika menjadi riuh ramai seperti suasana pasar tradisional. Terlihat mulai dari anak kecil yang malah bermain, saling kejar dan saling senggol terjadi saat salat tarawih berlangsung, bahkan ada orang dewasa yang dengan sengaja membawa tongkat panjang sambil menyenggolkan tongkat tersebut kepada sebagian jamaah dan yang lebih gil*k lagi sang imam pun menjadi sasarannya.
IG @medsos_meledak789
🗣️ Pep Guardiola ikut angkat bicara mengenai kasus dugaan rasisme yang dialami Vinicius :
"Saya sudah mengatakannya minggu lalu, bukan tempat kamu lahir atau warna kulitmu yang membuatmu lebih baik atau lebih buruk. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Ini ada di masyarakat, bukan hanya di sepak bola. Rasisme ada di mana-mana."
"Jika kamu berpura-pura bahwa rasisme hanya soal warna kulit, maka kamu tidak memahaminya, ini tentang bagaimana kamu berperilaku, itulah rasisme. Ini tentang merasa diri lebih baik dari orang lain, karena berbagai alasan."
"Solusinya? Sekolah. Bayar para guru jauh lebih mahal. Di sekolah. Bukan di sepak bola. Guru dan dokter sosok paling penting di masyarakat, bukan para pelatih sepak bola. Bayar mereka lebih mahal, masalah ini harus diselesaikan di sana."
📝 Konferensi pers
Salah satu cara terbaik untuk menunjukkan patriotisme adalah dengan berusaha menjadi yang terbaik dalam bidang yang kita tekuni.
But it’s too damn hard.
Keunggulan/excellence/mastery, adalah kontribusi.
Ketika kita mendorong batas ilmu pengetahuan, bisnis, seni, atau pelayanan publik, kita sedang memperluas kapasitas negara. Kita sedang merajut masa depannya.
But it’s too damn hard.
Lebih mudah mengatur lokasi geografis seseorang daripada menaklukkan batas diri sendiri. Lebih mudah menunjuk arah pulang daripada membangun kualitas yang tak bisa dibantah.
Negara tidak maju karena slogan “mengabdi untuk negara” di bibir tiap warganya. Ia tidak maju karena pengibaran paspor hijau atau deklarasi harga mati di sosmed.
Ia maju ketika standar kerja warganya begitu tinggi sehingga dunia tidak punya pilihan selain menghormatinya.
But, then again, it’s too damn hard.