Lupa dpt video dari mana, tapi Narasi, data, ilustrasi n moving nya keren. Indonesia tau dirinya sdg sakit akut, tp elite²nya sprti sengaja merantai kaki, menghamba pada uang dan kuasa. Rakus!
Selamat hari Minggu, jangan mati hati nurani. Salam Damai🤝
Anak Itu Pergi Karena Buku dan Pensil Tak Pernah Datang
Ia masih anak SD.
Tangannya kecil.
Mimpinya sederhana.
Ia hanya ingin bisa belajar seperti teman-temannya.
Beberapa hari sebelum ia pergi, ia pulang dari sekolah dengan kepala tertunduk. Di tasnya tak ada apa-apa selain kertas tugas yang belum bisa ia kerjakan. Ia meminta sesuatu yang nilainya bahkan tak seharga sebungkus rokok: buku dan pensil.
Ibunya terdiam.
Bukan karena tak mau.
Tapi karena tak punya.
Di rumah itu, tak ada lemari buku. Tak ada meja belajar. Yang ada hanya dapur sunyi dan perhitungan uang yang selalu kalah oleh kebutuhan hidup. Anak itu mendengar kata yang sama berulang kali—kata yang tak pernah kejam, tapi selalu melukai: “Nanti, ya.”
“Nanti” yang tak pernah datang.
Malu yang Terlalu Berat untuk Anak Kecil
Di sekolah, ia melihat teman-temannya menulis. Pensil mereka bergerak cepat, seakan tak pernah ragu. Ia menunduk. Ia tahu gurunya menunggu. Ia tahu tugas harus dikumpulkan. Tapi ia juga tahu, ia tak punya apa-apa untuk menulis.
Rasa malu itu tidak berisik.
Ia tidak menangis keras.
Ia hanya menumpuk pelan-pelan di dada anak kecil itu.
Hingga suatu hari, ia tak lagi datang ke sekolah.
Bangkunya kosong.
Namanya dipanggil.
Tak ada jawaban.
Yang tersisa hanyalah kabar yang membuat satu desa terdiam, satu keluarga hancur, dan satu bangsa seharusnya menunduk malu: seorang anak SD meninggal setelah tekanan hidup yang terlalu berat—karena kemiskinan dan ketidakmampuan membeli buku serta alat tulis.
Ia tidak pergi karena tak ingin hidup.
Ia pergi karena hidup terasa terlalu berat untuk anak seusianya.
Triliunan Anggaran, Tapi Buku Tak Sampai
Pada saat yang sama, negara berbicara tentang program-program besar. Anggaran digelontorkan. Spanduk dibentangkan. Kata-kata seperti “masa depan”, “gizi”, dan “generasi emas” diucapkan dengan penuh percaya diri.
Namun di satu rumah kecil, buku dan pensil tak pernah datang.
Apa arti program besar jika anak-anak masih tumbang oleh hal paling dasar?
Apa arti slogan jika seorang anak kalah bukan oleh pelajaran, tapi oleh kemiskinan?
Anak itu tidak butuh pidato.
Ia tidak butuh konferensi pers.
Ia hanya butuh alat untuk belajar.
Yang Hilang Bukan Hanya Satu Nyawa
Kematian ini bukan sekadar berita.
Ini adalah tuduhan sunyi terhadap sistem yang gagal melindungi yang paling lemah.
Yang hilang bukan hanya seorang anak.
Yang hilang adalah:
satu cita-cita yang tak sempat tumbuh,
satu bangku sekolah yang akan selamanya kosong,
dan satu pertanyaan yang akan menghantui kita:
bagaimana mungkin anak mati karena tak mampu membeli buku?
Ibunya kini memeluk penyesalan yang bukan miliknya.
Negara seharusnya memeluk tanggung jawab yang tak boleh dihindari.
Jangan Biarkan Ini Menjadi Angka
Jika tragedi ini hanya lewat sebagai berita harian, maka kita semua gagal.
Jika ini hanya jadi statistik, maka tak ada pelajaran yang benar-benar dipelajari.
Anak-anak tidak seharusnya memilih antara sekolah dan rasa malu.
Mereka tidak seharusnya memikul beban ekonomi yang bahkan orang dewasa pun sering tak sanggup.
Dan tidak boleh lagi ada anak yang merasa hidupnya lebih murah dari sebuah buku dan sebatang pensil.
---
💛 Catatan penting untuk pembaca
Tulisan ini mengangkat tragedi nyata dan sangat menyedihkan. Jika kamu atau orang di sekitarmu—termasuk anak—mengalami tekanan berat, rasa putus asa, atau tanda-tanda ingin menyakiti diri, tolong cari bantuan segera. Meminta bantuan adalah bentuk keberanian.
Anak SD di NTT Bundir Lantaran Tak Mampu Beli Buku dan Pena, Tamparan bagi Negara.
Masih kah kau punya RAS MALU wahai pemangku kebijakan di negeri ini ?
Yang klinis dibantah, yang klenik disembah. Yang pakar diragukan, yang sensasional dipertontonkan. Orang pintar dibilang bodoh, orang bodoh merasa pintar. Ternyata, sebaik-baiknya makan bergizi gratis, negeri ini lebih membutuhkan pendidikan gratis
Gua mulai rutin tidur malam minimal 7 jam bukan karena pengen produktif, tapi supaya gak marah-marah
Setelah baca satu systematic review dan meta-analysis di Sleep Medicine Reviews yang menganalisis 60 penelitian, gua baru paham bahwa kurang tidur punya hubungan kuat dengan kecenderungan marah dan perilaku agresif.
Pada beberapa studi eksperimental, orang yang sengaja dibatasi tidurnya 4–6 jam per malam menunjukkan peningkatan amarah, impulsivitas, dan reaktivitas emosi. Bukan karena mereka “orangnya pemarah”, melainkan karena otaknya lagi capek.
Kondisi kurang tidur bikin hormon stres meningkat, regulasi emosi terganggu, dan bagian otak yang tugasnya ngerem emosi jadi kurang optimal
Jadi kalian masih mau kurang tidur?
Kayanya di stasiun bandung baiknya ada gratis parkir kalau cuma drop off dah (5 - 10 menit). Supaya taksi resmi dan taksi online gak males masuk ke stasiun. @KAI121
@pandji will make a great huge fortune with #mensrea show. Because we need to watch it over and over again. It was a great show. But somehow in my opinion maybe it's a diversion from the arrest of nicholas maduro
Hey Elon, Gita Wirjawan here.
Your work at the frontier of energy, AI, and civilization has shifted the arc of what humanity believes is possible. I host Endgame podcast, a platform where Nobel laureates, regional leaders, and global thinkers help shape Southeast Asia’s long-term rise.
I’d be honored to have you in the conversation. Your perspective would inform and challenge millions across our region.
If you’re open, let’s set a date.
https://t.co/Sb1odXSOvt