Seorang istri bertanya kepada suaminya:
"Jika aku meninggal berapa engkau akan menunggu untuk menikah lagi?
Suami : "Menunggu sampai tanah kuburan mu mengering".
Istri : "Apakah engkau mau berjanji padaku?".
Suami : "Iya saya berjanji".
Sang istri meninggal dunia, dan sang suami berziarah ke kubur istrinya setiap hari selama setahun, dan kuburannya pun selalu basah. Suatu hari sang suami ziarah ke kubur istrinya pada sore hari, dan ia bertemu saudara iparnya disana, dan dia pun bertanya: "Apa yang kamu lakukan dikuburan istriku?".
Dia menjawab : "Saya memenuhi wasiat saudara perempuan saya untuk membasahi kuburannya setiap dua hari sekali".
Tiga ancaman yang berbahaya: Rupa-rupa, paru-paru, pura-pura
.
Negerinya sedang menghadapi rupa-rupa bencana. Rakyatnya berpotensi punya paru-paru yang tidak baik-baik saja. Pemerintahnya malah pura-pura baik-baik saja
Bapak diminta gantiin pampers anak. Masangnya miring. Anak bocor. Kasur basah.
Istri dateng, ganti ulang, beresin kasur, ganti sprei.
Bapak berdiri di samping, angkat bahu: "Yaudah kamu aja deh, Ma. Aku emang gak jago ginian."
Bapak merasa itu pengakuan jujur atas kelemahan Bapak. Rendah hati. Bahkan mungkin lucu.
Pak, itu BUKAN kelemahan. Itu STRATEGI. Dan strategi itu punya nama di dunia psikologi: Weaponized Incompetence. Ketidakmampuan yang dijadikan senjata.
Ada yg ngikutin k drama east palace ga?
Hahahaha
Jujur suka genre begini, bagus banget.
Semoga aja ada season 2 nya, karena nanggung banget endingnya masih banyak yg penasaran
Di perjalanan pulang gue mulai sadar sesuatu.
Gue kerja,pulang, rebahan.
Pikiran gue berhenti di pintu rumah.
Istri gue kerja,pulang, dan baru mulai "shift kedua."
Masak. Beresin rumah. Mandiin anak. Nyiapin baju sekolah.
Inget bayar listrik. Inget arisan. Inget ulang tahun mertua.
Cek PR anak. Isi air galon. Booking dokter gigi anak bulan depan.
Dan gue,di sofa, nonton bola.
in this economy
yang masih punya pekerjaan, jaga baik2 pekerjaanmu, yang penting masih bisa makan dan bisa bayar2 dulu. turunin ego kalau ada niat untuk resign sebelum nemu pekerjaan lain sebagai opsi
-rupiah udah 18rb dan keliatan masih akan melemah
-harga kebutuhan pokok naik
Apakah yg kena dampak rupiah melemah terhadap dollar hanya yang jalan2 ke luar negeri?
Kayanya ini kudu diluruskan dulu yo.
Karena pengusaha2 juga kena dampak.
Otomatis kalo pengusaha kena dampak, mreka akan naikin harga jual di lapangan secara perlahan.
Yang kena? Yg beli.
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Tiap update foto hasil masakan pasti ada aja yang komen “aku bingung makannya kalo lauknya sebanyak itu, aku makan tempe goreng sama sayur kangkung juga udah cukup”.
Mon maap, tempe goreng cuman jadi cemilan sama anakku.
Teman-teman yang punya orang tua tidak bekerja diperusahaan. Jangan lupa daftarkan BPJSTK BPU (Bukan Penerima Upah).
Buruan gih, ini membantu banget.
Ayah kakak ini petani sudah didaftarkan BPJSTK, 2 tahun lalu meninggal dunia, dapat dana dukanya cair 42juta.
Ga usah panik soal hanta virus, asalkan kamu ga KEMPROH dan JOROK.
Wong virusnya aja biasanya nongol di tikus.
Cara pencegahannya tu basic banget.
Ya higienitas alias kebersihan diri.
Paham lah ya.
“Kok bisa sampe kapal pesiar”
Ya mngkin pada kemproh kali. Wkwkwwk