Today another Japanese temple was burned down!
It is a Japanese temple with over 400 years of history, continuing from the real samurai era!
Starting next year, Japan will also begin mass Muslim immigration! Under the pretext of labor force.
Why is no one able to stop the Islamic invasion, and even the governments of the liberal camp are brainwashed?!
At this rate, the world will become Islamic.
We must stop the spread of hell!
Footage from NHK of the situation in downtown Kumamoto city: people are evacuating from buildings as the area continues to experience aftershocks. There is also the possibility of a 1-meter tsunami in some coastal areas.
Japan, is politely trying to educate Muslim visitors on basic public etiquette.
Because manners, respect for others in public spaces, and consideration for those around you are lessons that are missing.
And, in true Japanese fashion, they managed to do it in a cute and respectful way.
Kalau kamu bingung gimana cara membawa diri di tempat kerja,
nih, kenalin CHOKY SITOHANG.
TOP GLOBAL NGOLAH
Dari 1 konten videonya aja, banyak pelajaran yang bisa kita catat.
1. 00:13 "Kita kan menyesuaikan jadwal abang"
Kalau ditanya kapan mampir, atau ketemuan dengan seseorang yang "mungkin" lebih tinggi pangkat, status sosial, atau at least kamu hormati, kamu bisa pake kata-kata ini.
2. 00:21 "Bang, saya izin laporan ke yang bersangkutan"
Ini dipake ketika ingin menyudahi percakapan atau small talk tapi dengan cara yang halus.
3. 00:27 "Assalamualaikum, shallom, namo budaya, salam kebajikan"
Konteksnya karena di dalam ada bebeberapa orang dengan berbeda keyakinan, jadi sekalian sapa dengan salam sesuai kepercayaan mereka.
4. 00:45 "Akhirnya kita kenal juga, bang Asep"
Orang itu bakal lebih senang kalau kita tau nama dia, even baru pertama kali jumpa. Bisa baca name tag seandainya kamu benar-benar have no idea siapa nama dia.
5. 01:04 "Kapolres mohon izin, terima kasih Panglima, terima kasih Kapolda"
Detail kecil tapi berarti, untuk kasi respect ke orang yang kamu hormati. Misal di kantor dibeliin pizza sama bos, nah kamu bisa pake ini. "Bos, makasih ya pizzanya. Izin saya ambil, ya."
Siap buat ngolah? 😅
Guys, Benix baru sharing sesuatu langsung dari Wall Street New York yang menurut gue paling menampar muka kita sebagai bangsa dalam waktu belakangan ini.
Bukan soal rupiah.
Bukan soal IHSG.
Tapi soal sesuatu yang lebih fundamental:
Indonesia kehilangan ribuan triliun investasi bukan karena tidak ada yang mau masuk.
Tapi karena kita sendiri yang mengusir mereka.
Tiga negara yang mengadu dan ini memalukan:
Swiss:
Duta besar Swiss untuk Indonesia
Olivier Zender secara terbuka komplain.
Ada lebih dari 150 perusahaan Swiss yang beroperasi di Indonesia dan mau ekspansi.
Mau invest di sawit, pabrik pengolahan susu, keju, petrochemical, farmasi.
Sampai sekarang tidak bisa.
Gara-gara perjanjian dagang Indonesia-Uni Eropa tidak kunjung diimplementasikan.
"Ini momen yang memalukan.
Duta besar negara lain membela pengusahanya supaya bisa invest di negara kita
sementara duta besar kita tidak pernah terlihat bela pengusaha Indonesia di luar negeri."
Prancis:
Duta besar Prancis Muhammad Omar sudah 4 tahun bertugas di Indonesia.
Ada 11 perusahaan Prancis yang sudah siap invest.
Sampai sekarang masih pending semua.
Alasannya satu: tidak ada kepastian regulasi.
Hari ini bebas pajak.
Besok tidak.
Hari ini satu aturan.
Besok aturan berubah.
Tidak ada yang bisa diprediksi.
Uni Emirat Arab:
Ini yang paling brutal.
Hampir Rp800 triliun gagal masuk ke Indonesia.
Ada satu investor Arab yang sudah siap bawa Rp85 triliun 5 miliar dolar.
Di saat yang sama dia juga lihat peluang di Amerika Serikat. Karena proses izin di Indonesia tidak jelas-jelas selesai dia akhirnya buka pabrik di Amerika.
Sekarang pabriknya di Amerika sudah running.
Di Indonesia masih standby.
Dan Rp85 triliun itu pergi ke Amerika.
Dan keluhannya selalu sama dari dulu:
Benix bilang keluhan investor tidak berubah dari ribuan seminar yang sudah dibikin pemerintah.
Birokrasi berbelit-belit.
Izin tumpang tindih antara pusat dan daerah.
Tidak ada kepastian hukum.
Pungli dan premanisme merajalela.
Regulasi berubah-ubah tanpa pemberitahuan.
Pemerintah pusat bilang A.
Gubernur bilang B.
Bupati bilang C.
Walikota bilang D.
Kepala desa bilang E.
RT/RW bilang F.
Dan kalau tidak ikut semua lapisan gudangmu bisa dibakar, bisa didemo ormas.
Contoh yang paling gila:
BYD, Cherry, Wuling datang ke Indonesia.
Buka pabrik mobil listrik.
Lapangan kerja tercipta.
Impor BBM berkurang.
Semua pihak diuntungkan.
Tapi setelah pabrik berdiri insentif pajak yang dijanjikan tiba-tiba dihilangkan.
Hari ini bebas pajak.
Besok tidak bebas pajak.
Hari ini tidak bayar PPN.
Besok harus bayar.
Hari ini ada satu aturan.
Besok ada aturan baru lagi.
Siapa yang mau invest di negara seperti itu?
Itu bukan investasi. Itu perjudian.
Dan ini yang paling ironis:
Indonesia punya semua yang dibutuhkan investor:
280 juta penduduk pasar konsumen terbesar keempat di dunia.
Nikel terbesar di dunia.
Sawit terbesar di dunia.
Lokasi strategis di antara Samudra Hindia dan Pasifik. UMR yang kompetitif.
Tapi yang jadi pusat perdagangan Asia Tenggara bukan Indonesia. Singapura.
Negara kota yang luasnya tidak lebih besar dari sebagian Jakarta.
Negara yang menikmati posisi strategis Selat Malaka bukan Indonesia yang memilikinya tapi Singapura yang mengelolanya dengan benar.
Dan rupiah terus melemah ini bukan kebetulan:
Ketika investor tidak mau masuk dolar tidak mengalir masuk. Capital outflow terus terjadi. Rupiah makin tertekan.
Prabowo bilang: "Mau dolar berapa ribu kek."
Gubernur BI bilang: "Rupiah stabil volatilitasnya 5,4%."
Tapi kenyataannya: duta besar Swiss, Prancis, dan Uni Emirat Arab semua mengadu bahwa investasi mereka tidak bisa masuk.
Rp800 triliun dari UEA saja gagal masuk. Berapa total yang sudah gagal selama bertahun-tahun?
Masalah Indonesia bukan kurang sumber daya alam. Bukan kurang potensi. Bukan kurang investor yang mau masuk.
Masalah Indonesia adalah sistem yang membuat orang yang mau masuk akhirnya memilih pergi.
Dan selama birokrasi berlapis-lapis, regulasi berubah-ubah, pungli dan premanisme tidak diberantas serius, serta izin bisa berbeda antara pusat dan daerah investor terbaik yang sudah siap bawa triliunan ke Indonesia akan terus memilih Vietnam, Thailand, atau Singapura.
Dan rupiah akan terus melemah.
Bukan karena faktor global semata.
Tapi karena kita sendiri yang membangun tembok untuk mengusir uang yang seharusnya bisa menciptakan lapangan kerja bagi rakyat kita.
Repetition changes your brain.
Repetition changes your brain.
Repetition changes your brain.
Repetition changes your brain.
Repetition changes your brain.
Repetition changes your brain.
Repetition changes your brain.
That’s why it works.
Japan has one of the lowest obesity rates in the world.
But they eat ramen, drink beer, and don’t fear carbs.
I had to find out how.
The 7 reasons I found completely shattered my Western belief:
This is a photo from Bethlehem. The bones of the babies killed by Herod are still stored under the Church of the Nativity...
These are the first martyrs for Christ. 14,000 babies, killed by Herod in Bethlehem.
"When the time came for the greatest event - the Incarnation of the Son of God and His birth from the Most Holy Virgin Mary - the Eastern Magi saw a new star in the sky, heralding the birth of Christ. Immediately, they headed to Jerusalem to worship the newborn, and the star guided them on their way.
After worshipping the Child Jesus, they did not return to Jerusalem to Herod as he had ordered them, but, having received a revelation from above, they departed to their own country by a different route.
Then Herod realized that his plan to find the Child had failed, and ordered the killing of all male children in Bethlehem and its environs who were two years old or younger. He hoped that among the killed children would be the Child Jesus, whom he saw as a rival.
The perished babies became the first martyrs for Christ.
Herod's wrath also fell on Simeon the Righteous, who publicly testified in the temple about the born Messiah. When the holy elder died, Herod did not allow him to be buried with dignity.
By the king's order, the holy prophet and priest Zechariah was killed: he was killed in the Jerusalem temple between the altar and the altar for not revealing where his son, John, the future Baptist of the Lord Jesus Christ, was.
The wrath of God soon punished Herod himself: he was afflicted with a severe illness and died, eaten alive by worms. Before his death, the ungodly king completed his atrocities: he killed the chief priests and scribes of the Jews, his own brother, his sister and her husband, his wife Mariamna and three sons, as well as 70 wisest men, members of the Sanhedrin."