Tiba2 kepingin melakukan sesuatu yg dibilang hal tersier, lalu tersadar bersama teman kalau kita sama-sama tidak mungkin melakukan itu saat ini. Sadar itu adalah sebuah kemewahan dan memutuskan kerja aja yang rajin walaupun g mungkin punya emas batangan sekoper & uang 1 brgkas🙃
Hari-hari makin sakit. Bayang-bayang runcing meruncing itu nyata adanya. Gimane mau maju. Tiap jalan satu langkah yang ditanya ini uangnya habis ga? Ada loh pekerjaan yg tipeny itu barangnya jadi dulu br dibayar. Susehh~
Belum selesai kasus daycare, ada duka kecelakaan KRL yang korbannya kebanyakan juga perempuan. Sebagian mungkin perempuan pekerja yang sedang mengusahakan hal-hal baik untuk keluarganya.
Pedih sekali rasanya mendengar berita buruk bertubi. Peluk jauh untuk kita semua.
Pernah ada di situasi itu. Tiap hari PP pakai KRL dan nenteng2 cooler bag isi ASIP. Tau bgt rasanya berdiri sepanjang jalan, menanti-nanti smp rumah, bisa stock ASIP, tidur meluk bayik. Gitu terus berulang, setiap hari smp 9 bulan. Sampai akhrny mulai ditinggal2 & dibantu suffor
Hari ini, Tom divonis 4,5 tahun penjara. Keputusan yang amat mengecewakan bagi siapa pun yang mengikuti jalannya persidangan dengan akal sehat, meski sayangnya tidak mengejutkan.
Selama proses berjalan, berbagai laporan jurnalistik independen dan analisis para ahli telah mengungkap kejanggalan demi kejanggalan dalam dakwaan. Fakta-fakta di ruang sidang justru memperkuat posisi Tom, tapi semua itu diabaikan. Seolah-olah 23 sidang yang telah digelar sebelumnya tak pernah ada. Seolah-olah bukti dan logika tak diberi ruang dalam proses peradilan.
Jika kasus sejelas ini saja bisa berujung pada hukuman penjara, jika seseorang seperti Tom yang dikenal dan terbukti integritasnya di pengadilan, terbuka dan disorot publik perkaranya, masih bisa dihukum semena-mena, maka bayangkan nasib berjuta lainnya yang tak punya akses, sorotan, atau kekuatan serupa.
Vonis hari ini adalah penanda bahwa keadilan di negeri ini masih jauh dari selesai. Demokrasi belum kokoh berdiri. Kita dihadapkan pada keraguan mendasar tentang kredibilitas sistem hukum, dan tentang keberanian negara menegakkan kebenaran. Ketika kepercayaan terhadap proses peradilan runtuh, maka fondasi negara ikut rapuh.
Senin lalu, Tom menyampaikan dalam dupliknya bahwa ia belajar tentang makna kata tawakkal, tentang berusaha sekuat tenaga lalu menyerahkan hasilnya pada Tuhan. Sayangnya hari ini, hasil itu belum berpihak padanya. Tapi ini bukan ujung. Ini satu babak dari perjuangan panjang untuk menghadirkan keadilan yang belum tuntas dan akan terus kita jalani bersama.
Tom dan tim pengacara masih mempertimbangkan respon terhadap putusan ini. Tapi satu hal yang jelas, kita akan terus mendukung penuh langkahnya untuk mencari keadilan sampai titik akhir. Apapun yang akan ia hadapi ke depan, kita terus pastikan bahwa Tom tidak akan pernah berjuang sendirian.
Tiap hari kerja bawaannya pingin berkata kasar melulu. Udah mah dosa uing geus loba. Ya Allah aku teh capek marah2 tiap hari, tapi aku cuman butiran debu aja dari sekelumit hal di negara ini. Capek fisik, capek hati. Tapi mengakui masih miskin, jd dikerjain aja.
banyak orang gak sadar: when you live in survival mode, your choices aren’t really choices, they’re instinct.
anak-anak buat mereka bukan soal “nambah beban”. it’s about having a reason to stay alive tomorrow. tentang ditemani, ditolong, dan diberi harapan di dunia yang udah terlalu pelit kasih peluang.
kita yang hidup lebih enak gampang ngomong, “kok gak KB aja?” padahal mereka gak hidup di dunia yang sama kayak kita. mereka gak punya safety net. mereka cuma punya satu sama lain.
dan buat yang baca itu terus langsung bilang, “jadi lo setuju orang miskin punya anak banyak?” you really missed the whole damn point.
understanding ≠ endorsing.
empathy ≠ excuse.
ini bukan glorifikasi kemiskinan, ini ajakan buat berhenti nge-judge dan mulai ngebenerin sistemnya.
lo terlalu sibuk ngehitung jumlah anaknya, sampe lupa nanya: “kenapa satu-satunya harapan mereka harus anak, bukan negara?”
pak anies ngajak mikir, bukan ngajak breeding race. so please, kalau belum siap baca dengan hati, ya jangan baca cuma buat cari bahan nyinyir.
let’s fix the system, not shame the survivors. karena di ujung hari, mereka cuma lagi berusaha hidup, sama kayak kita semua.
🧵 (1/7) Kenapa orang miskin punya banyak anak? Pertanyaan itu sering muncul, kadang dgn nada sinis. Tapi mari jeda sejenak dan coba memahami dari sudut pandang mereka. Di dunia yg keras dan tak pasti, keputusan itu sering lahir dari naluri bertahan, bukan sekadar pilihan bebas.
Indonesia Gelap
Mahasiswa tengah mempersiapkan aksi besar-besaran bertajuk “Indonesia Gelap” pada 20 Februari 2025. Konsolidasi terus dilakukan hingga kemarin malam.
Ketua BEM SI Herianto mengatakan aksi ini akan melibatkan massa yang lebih besar dari aksi yang sama pada 17 Februari lalu.
Aksi akbar akan dilakukan bertepatan dengan pelantikan kepala daerah terpilih oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara.
Menurut Herianto, hal ini dilakukan agar kepala daerah juga ikut mendengarkan tuntutan mahasiswa.
Bagaimana mereka menyiapkan aksi akbar tersebut?
#Tempoharian terbit empat kali sehari dalam bentuk digital. Baca di https://t.co/MR22quwcLm.
#TempoHarian #TempoPlus
Ternyata masalah utama di sini, @Gerindra tidak paham bahwa BELANJA PEGAWAI hanya merujuk ke Gaji dan Tunjangan dari ASN (PNS dan PPPK),
Sementara Gaji Honorer, Non ASN dan lain-lain, masuknya di Akun BELANJA BARANG
Silahkan Cek Bagan Akun Standar