Dear Mas Ibam,
Saya bergabung di Bukalapak di bawah kepemimpinan Mas Ibam. Mas Ibam memberi ruang untuk orang biasa seperti saya untuk speak up my idea. Mas Ibam give me room despite I was just a mediocre engineer di Bukalapak back then.
Mas Ibam adalah satu-satunya inspiring figure yang masih reachable buat saya. Rasanya inspiring banget setiap kali ngobrol sama beliau.
During COVID, when I got an offer from Meta, Mas Ibam helped me negotiate with the recruiter so I could get the most optimal number. Despite Mas Ibam himself REJECTING an offer from Meta to choose mengabdi untuk Indonesia.
Sebaik itu beliau 🥲.
Beliau ga ambil offer Meta-nya sendiri, tapi masih mau bantu untuk nego Meta offer orang lain. Dan orang lain itu saya.
Dan ga berhenti di situ. Waktu saya mengajukan green card di US, Mas Ibam yang menulis recommendation letter untuk saya. Beliau vouch for me, sekali lagi mengangkat orang lain tanpa mengharapkan apa-apa.
That's what shaped me to not become a crab mentality person. Mas Ibam taught me by example. Angkat orang lain, bukan tarik ke bawah.
Semoga keadilan berpihak kepada kebenaran. We stand with you, Mas. 🙏
Azis, ex-Bukalapak yang sekarang di Meta
Gw mau ngomel agak panjang. Monggo dibaca.
Dalam supply-demand, ketika supply naik, harga jadi turun.
Hal yang sama terjadi pada IPK tinggi dan cum laude.
Kalau semua orang cum laude, maka cum laude berhenti jadi istimewa.
Ketika terlalu banyak lulusan berpredikat cum laude, nilai IPK sebagai sinyal kualitas jadi turun "marwah"-nya.
Gw pernah liat wisuda suatu kampus, rektornya dengan bangga mengumumkan rata-rata IPK adalah 3,65.
Peserta sidang wisuda tepuk tangan.
Gw bingung karena implikasinya jadi ada beberapa kemungkinan:
1. >50% mahasiswanya pintar sekali
2. Kurikulumnya super mudah
3. Dosen2nya mengamalkan hadits "Barangsiapa memudahkan urusan orang lain yang sedang kesulitan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat" di dunia perkuliahan alias Dosen Bonus
Fenomena ini ga langka, malah cukup aman disebut "jamak", yaitu: Fenomena "false signalling"
Semua orang tampak unggul di transkrip, tapi memble saat uji kompetensi di dunia nyata.
Sama halnya di level wajib belajar 12 Tahun. Mulai jarang gw dengar cerita anak tidak naik kelas. Tapi justru makin sering terdengar berita anak SMA tidak bisa perkalian dasar.
Balik lagi ke soal IPK.
Kalau terlalu banyak orang cum laude, predikat itu berhenti jadi istimewa. Nilai IPK sebagai sebuah indikator sinyal : disiplin, kualitas kognitif, dan pencapaian akademik, jadi turun nilainya.
Market akhirnya mencari sinyal lain yang relevan: portofolio, sertifikasi, prestasi, pengalaman, atau balik lagi dari mana kampus asalnya.
Gw gatau bagaimana cara mengakhiri omelan ini, masih panjang sebenernya. Dan gw pun enggak tau solusinya mulai dari mana. Tapi gw cuma mau bilang:
"Ketika sistem pendidikan berhenti menjadi juri yang jujur, Market menghukum dengan berhenti percaya"
[Omelan ini terinspirasi setelah baca tulisan Guru Besar UGM Eduardus Tandelilin di bawah ini]
@josswayad eh tapi bener loh kak kalo poinnya buat cari refreshment, dengan ada di rumah atau lingkungan baru biasanya bakal ngebantu ngeliat apa yg selama ini ga keliatan dan kadang jawaban dari masalah kita ada disitu, jadi kalo udah sumpek coba lakuin hal baru atau pergi ke tempat baru
lebih ke ga ngebayangin sih, sedikasihnyaa sama Allah aja karena toh jodoh itu rezeki? kematian lebih pasti jadi aku akan menyibukkan diri untuk hidup sehidup-hidupnya, kalo rezekinya nikah dapet jodoh yang baik ya alhamdulillah... kalo ngga, gamau maksain...
@bluewmist guilty as charged. The change happened when I shifted that love to self, prioritizing my own happiness, my dreams. its a process on unlearning everyday, and learning to love yourself.
@Azulaaaaaaaz Saran aku, mumpung kerjanya lagi 'diambil alih', manfaatin waktunya buat upgrading diri atau cari loker lain kak. Jangan kasih mereka kepuasan dengan resign tanpa rencana. Tetap profesional aja sampai waktunya 'cabut' dengan cara yang lebih keren.
Aku enggak bosen ngucapin afirmasi pagi untuk diriku sendiri:
"Aku sehat, Aku bahagia, Aku kuat, Aku semangat, Aku selalu beruntung, rezekiku melimpah ruah, hidupku penuh berkah, Aku selalu bisa karena ada ALLAH yang Maha Kuasa".
🌱
We are all made of the same fabric as the stars and if they’re romantic and whimsical we should also be romantic and whimsical. Because the universe said so.
stay sama lo, atau nge-treat lo dengan bener. Itu bkn tugas lo.
Tugas lo cma tetap jdi diri lo cewek yang cantik, kuat, penuh cinta, dan punya aura yang nyala.
Yg beneran tepat buat lo gak butuh diyakinin. Dia bakal sadar sendiri kalau lo itu anugerah, dan dia bakal jagain itu.