@houseconetall@newvibesxx1946 Science yang mana kocak, science dari golongan mana yang kau jadikan satu-satunya source? Dari jewish dan LGBT? Jelaslah mereka punya urgensi dan agenda tersendiri yang pada akhirnya mendukung dan memanipulasi hasil penelitian. Fck u all
@Arvinlifyy@MamatSuganTeh Ya engga lah. Ada kalanya, penghukuman fisik diperlukan dengan level tertentu guna membuat orang tersebut sadar akan kesalahan yang ia perbuat. Menjijikan boti tolol ini.
@melancholyhymn@motivatedomega@ihuganton@tanyakanrl Coba, dokter siapa aja yang bilang bahwa LGBT tidak memiliki resiko untuk mendapatkan HIV/AIDS, gonore, bool jebol, dllnya? Apakah anda tau, mengapa LGBT dianggap penyakit juga? karena otak yang mengatur rasionalitas + moral sudah rusak akibat terpapar oleh moral yg rusak.
@melancholyhymn@motivatedomega@ihuganton@tanyakanrl Siapa yang mendanai WHO selain kaum pelangi dan zionist yang terang benderang melakukan kampanye LGBT? Ya jelaslah, manipulasi data penelitian agar LGBT dapat diterima oleh masyarakat luas bahwa LGBT bukan penyakit. Kenyataannya, LGBT adalah sumber penyakit, terutama kelamin.
@sameblueabis@fahriiiq@MiamiKoltahu Baca jurnal penelitian lah, sudah banyak yang mengaitkan bahwa fatherless memiliki korelasi, pattern dan membuat kecenderungan bahwa fatherless dapat mengakibatkan anak tidak memiliki figur kuat yang dapat diandalkan. Literature ditingkatkan, bukan bacotnya.
@roussalierx@classical0810@ayamgota Buktikan dong kalo bukan penyakit. Jurnalnya mana, dan buktikan juga jika LGBT tidak memiliki resiko penyakit apapun jika dari awal tidak dianggap penyakit. Berbagai eksperimen, jurnal, dan pengalaman dari dokter/ahli mengatakan LGBT adalah penghasil penyakit.
@atmawiratna Penyepong Prabowo, pea semua. Gada etika ngerokok di rumah + ortu tidak melarang anaknya merokok+ rokok merugikan semua pihak + BPJS rugi karena rokok + perokok adalah orang egois, sok pinter, sok jago, sok kuat diajak sparing atau latihan endurance langsung mengap² dihh
@weneedsomerest@lowhighclassy@tanyakanrl Baca yang cermat wahai manusia "pintar" , saya bilang mudah bukan pasti. Metodologi penelitian pasti nilainya jelek, dih.
@weneedsomerest@lowhighclassy@tanyakanrl Emg perlu religius agar bisa berpikiran jernih dan komprehensif dek? Apakah anda tidak melihat banyak kasus Pemuka agama melakukan PS dan KS? Apakah anda buta dan tuli bahwa penyakit nular seks seperti Raja Singa, Dubur membusuk, HIV/AIDS dll-nya mudah ditemui di kalangan LGBT?
@weneedsomerest@tanyakanrl Bukankah dari tindakan kalian yang selalu sensitif, defensif dan pembenaran diri sudah cukup menjadi bukti?. Dan kenapa terus merasa terusik jika kami tidak menyukai dan membencinya? Apa mau mencoba menghalangi kami hak kami? Aneh, argumentasimu lemah.
@weneedsomerest@tanyakanrl Miris, memaksa orang lain untuk menerima LGBT, tapi kalian sendiri menolak hak mutlak orang lain untuk menyuarakan, memutuskan dan memberikan batasan. Aneh, selalu maksa orang lain, tapi gatau diri, tolol bgt.
@weneedsomerest@tanyakanrl Ah bacot bgt gapake jurnal. Kita diberi akal untuk membatasi dan memfilter mana yang buruk dan baik. Kita semua punya nafsu dan fetish masing² tapi akal (dan norma) lah yang menjaga dan mengontrol kita. Penyakit di sini ialah orang² tidak bisa menggunakan akal untuk berpikir.
@sewverus Sepakat di sini bukan berarti merendahkan pemikiran wanita dan tidak memiliki kapasitas untuk debat, kita condong meng-iyakan karena yg ngomong itu adalah ego kalian, bukan diri kalian. Komunikasi kok diskriminasi dan judge sembarangan gitu wkwk
@iknoooican Yang ku tangkap dari cerita ini ialah pick me + kurang mature si cowok ini, tetapi si cewek ini juga tidak sadar bahwa dirinya udh tau kelasnya di bawah cowok ini tapi tetap mesan di atas harga kopi si cowok ini. Sama-sama gatau diri aja