Ternyata kesalahan berpikir ini ada di mana mana ya. Outcome itu gak bisa dituntut di level individu pegawai level pelaksana kelas umbi2an. Ketercapaian outcome itu perlu kerjasama lintas satker bahkan lintas K/L. Maka outcome itu dituntutnya di tingkat pengambil kebijakan.
Semakin ke sini, saya makin yakin KDM memang lebih pantas disebut gubernur konten daripada gubernur yang benar-benar fokus membangun organisasi birokrasi.
Ia menyindir ASN karena katanya yang dipikirkan cuma tukin, bukan cita-cita bangsa.
Padahal argumennya punya banyak sekali celah .
Pertama, argumen KDM cenderung membangun false dichotomy, seolah ASN harus memilih antara memikirkan tukin atau memikirkan bangsa. Padahal keduanya bisa berjalan bersamaan. Seorang ASN dapat memiliki idealisme sekaligus memperjuangkan kompensasi yang adil. Menginginkan kesejahteraan bukan berarti kehilangan nasionalisme.
Kedua, KDM tampak mencampuradukkan peran (role confusion). Dalam organisasi, pembentukan visi besar, arah pembangunan, dan tujuan negara adalah tanggung jawab pemimpin politik dan pejabat struktural. ASN pada dasarnya adalah pelaksana kebijakan (bureaucracy as executor), bukan aktor politik yang merumuskan cita-cita bangsa setiap hari. Wajar jika percakapan sehari-hari pegawai lebih banyak berkaitan dengan target kerja, SOP, beban administrasi, atau kesejahteraan seperti tukin.
Ketiga, argumen KDM mengabaikan insentif ekonomi. Dalam teori ekonomi kelembagaan, perilaku organisasi sangat dipengaruhi oleh sistem insentif. Jika pemerintah sendiri menjadikan tukin sebagai instrumen utama untuk mendorong kinerja, maka tidak mengherankan apabila ASN memperhatikan tukin. Sulit menyalahkan individu karena merespons insentif yang dirancang oleh organisasi.
Jika birokrasi kehilangan idealisme, pertanyaan yang lebih mendasar adalah: siapa yang mendesain sistem birokrasi, indikator kinerja, mekanisme promosi, dan budaya organisasi? Itu merupakan tanggung jawabnya sebagai pimpinan pemerintahan. Mengkritik ASN tanpa mengevaluasi desain sistem berisiko hanya menyalahkan gejala, bukan akar masalah sesungguhnya.
Lah, namanya tim teknis, ya mikirin teknis. Umbi & keset bukan khittahnya mikirin visi misi & ideologi.
Mikir tukin, ya, wajar. Namanya kerja, mikirin pendapatan halalnya. Dipikir cemara udang, bisa fotosintesis
KDM: ASN Pikirannya Cuma Tukin
***
Di pikirannya apakah outcome dan benefit, output, outcome dan benefit?
Tidak. Di pikirannya adalah tukin.
Hampir enggak ada. Saya menemukan idealisme tentang cita-cita besar.
Apalagi negara berkemakmuran, enggak ada. Sempit.
Obrolan yang dibicarakan dalam diskusi di antara mereka, enggak pernah ngomongin bangsa ke depan.
Enggak pernah bagaimana menguasai. Tidak pernah.
Yang diomongin adalah TUKIN!!!
***
LAH YANG MESTINYA NGURUS IDEALISME SAMA CITA-CITA BANGSA MAH PEMERINTAH PAKKKK.
TUGAS PEJABAT. TUGAS PEMERINTAH.
UMBI YA BENER NGOMONGIN TUKIN BJIRRRRR
TWICE kerja 10 tahun, ngadain 162 show, dan jual 3,5 juta tiket buat ngumpulin Rp6,5 triliun…. Dan ternyata angka itu setara dengan 17 hari program MBG di Indonesia.
162 show.
3,5 juta penonton.
10 tahun karier.
= 17 hari MBG
OMG the scale is actually insane wok @prabowo
Logika Umum :
Anggaran dipotong 50%, secara linear Output dipotong 50%
Logika PNS :
Jika target dipotong 50%, maka
target menjadi 120%.
Nahh, di sini ada namanya konstanta Mutlak yang bernama "ARAHAN PIMPINAN". Sehingga, anggaran dipotong berapapun, target naik.
Tidak banyak yg tahu fakta ini... Berapa lama Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, menjabat sebagai Menteri Pendidikan (saat itu Menteri Pengadjaran)?
@v_frontline_pc Eureunan alkohol jeung dados ai sakirana jadi ngarugikeun batur mah. Mun teu bisa nya jedog di imah lain ngajago di tempat umum. Dasar belegug!
Dalam agenda perjuangan rakyat di Bandung, bagi barudaks massa aksi yg turun ke jalan: Unisba-Unpas dan kawasan Tamsar bawah lebih berguna daripada ITB.
Lamine Yamal eligió incitar contra Israel y fomentar el odio mientras nuestros soldados combaten a la organización terrorista Hamas, una organización que masacró, violó, quemó y asesinó a niños, mujeres y ancianos judíos el 7 de octubre.
Quien apoya este tipo de mensajes debe preguntarse: ¿considera esto humanitario? ¿Es esto moral?
Como Ministro de Defensa del Estado de Israel, no guardaré silencio frente a la incitación contra Israel y contra el pueblo judío.
Espero que un club grande y respetado como @FCBarcelona se desmarque de estas declaraciones y deje claro, de manera inequívoca, que no hay lugar para la incitación ni para el apoyo al terrorismo.