Setuju banget.
Masuk tahun ke 4 pernikahan, saya makin paham kalau "excited sendirian" itu salah satu jenis sepi yang paling melelahkan.
Di awal hubungan, jatuh cinta itu mudah karena semuanya serba baru. Tapi begitu masuk tahun-tahun penuh rutinitas, saat obrolan bergeser dari mimpi-mimpi masa depan ke urusan kebutuhan bulanan, dan kelelahan kerja, di situlah kesetaraan itu diuji.
Cinta yang setara di fase ini soal hal-hal kecil yang manusiawi.
Soal bagaimana dia tetap meletakkan ponselnya dan mendengarkan ceritamu yang itu-itu lagi dengan binar mata yang sama.
Soal bagaimana kamu tetap ingin menyeduh kopi kesukaannya tanpa perlu dia minta.
Soal perasaan lega yang muncul saat pintu rumah terbuka, karena kamu tau, kamu pulang ke seseorang yang juga menganggapmu tempat pulangnya.
Menikah itu melelahkan kalo cuma satu orang yang sibuk merawat api, sementara yang lain cuma numpang menghangatkan badan.
Hubungan bisa bertahan dewasa karena dua orang sama-sama keras kepala untuk menolak bosan, dan memilih untuk tetap jatuh cinta setiap hari, sekecil apa pun caranya.
Biar lelahnya hidup ini, setidaknya, kita tanggung berdua dengan porsi yang sama adilnya.
kita ga bisa terus terusan menyelamatkan hubungan yang kita sendiri sekarat didalamnya. selesai saja. selesai atau tidak selesai pun sama sama sakit tapi kalau diselesaikan. itu sakit yang terakhir.