Di banding ketemu someone gua lebih berharap bisa berdamai dengan diri sendiri, menerima hal-hal di luar kendali dan memaafkan apa-apa yg udh terjadi,
I think that's more difficult
Laki laki gak berhak buat minta anak ke perempuan btw (kalo perempuannya gak bersedia) dan jumlah anak itu hak otoritas perempuan. Kalo perempuan enggan hamil lagi, laki2 ga berhak maksa.
Menurut PBB, konsumsi air AI pada tahun 2030 akan setara dengan konsumsi air 1,3 Miliar manusia.
Hutannya dibakar rezim.
Airnya dikeringin rakyat.
Terus lu sok2an nangis liat Orang Utan? Sok2an ngeluh udara panas & cuaca makin gajelas?
Ngapain kasihanin perempuan yg “cantik tapi jomblo”, mendingan kasihanin perempuan yg “cantik tapi pasangannya tidak ganteng” (dan paket lengkap perokok+pemalas+abuser)🙂↕️
(Supaya lebih tepat sih tadinya mau pake kata “ugly” lagi tapi ntar ada yg ngamuk lagi di Replies)
angkat rahim ga sama dengan vasektomi 😭
rahim diangkat bisa berakibat ke kondisi fisik dan psikis org tsb ya namanya ORGAN TUBUHNYA yg diangkat😭
halo akal sehat? banyak² baca deh tommygun
@yourfirstpage I actually love this mindset... giving people a chance instead of just picking the most privileged on paper. Your boss gets it, such a sweetheart. 🤍
mau punya pasangan tapi organik gitu.. :] like accidentally ketemu di toko buku, or maybe supermarket…? Then turns out we have so much in common,,, terus slowburn HMMMM
yuk kita belajar bahwa orgasme saat pemerkosaan bukan karena korban menikmati. contoh hidung kena debu ==> kita bersin. apakah kita bersin karena menikmati debunya? tentu tidak, itu namanya respon reflek tubuh
Knetz ini cerita tentang kisah temannya yang calon suaminya ketahuan patriarki maksimal saat bahas pernikahan.
Pacarnya bilang, “Beli rumah dan biaya hidup harus dibagi 50:50. Zaman sekarang siapa yang masih mengharapkan laki-laki menanggung semuanya?”
Teman OP lalu bertanya,
“Kalau begitu, pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak juga 50:50?”
Pacarnya mikir bentar, lalu menjawab,
“Tapi perempuan kan lebih jago melakukan hal-hal seperti itu?”
Teman OP bertanya lagi lebih rinci.
👩🏻: “Kalau begitu, anak pakai marga siapa?”
👩🏻🦲: “Marga ayah.”
👩🏻: “Kalau hari raya atau acara keluarga?”
👩🏻🦲: “Sudah sewajarnya pergi ke keluarga pihak suami dulu.”
👩🏻: “Pekerjaan rumah?”
👩🏻🦲: “Perempuan emang udah natural melakukan lebih banyak pekerjaan rumah, kan?"
👩🏻: “Tapi kalau begitu, kenapa soal uang harus 50:50?”
👩🏻🦲: “Ya, zaman sekarang memang udah umum seperti itu.”
Biaya hidup: negara maju
Pekerjaan rumah: zaman Joseon
Mengurus anak: “insting perempuan”
Marga anak: tradisi patrilineal
Hari raya: keluarga pihak suami dulu
Menurut OP, bagi cowok ini, mungkin arti “kesetaraan gender” adalah:
Mengurangi setengah dari hal-hal yang harus dia tanggung, tetapi mempertahankan semua hal yang selama ini dilakukan perempuan.
Itu bukan adil, melainkan memodernisasi hanya bagian-bagian yang menguntungkan dirinya sendiri.
Kalau begini, ini bukan lagi sekadar pandangan tentang pernikahan, tapi seperti budaya tradisional yang hanya di-update pada bagian yang menguntungkan laki-laki.
Run ya girls kalo dapet calon suami begini 🥲