Rachel Vennya’s bilang :
selalu siapin ruang kecewa untuk siapapun, bcs people change easily. Manusia yang biasanya kamu ceritakan seluruh kisahmu itu bisa jadi manusia yang kamu gak mau kenal lagi untuk selamanya karena “people change easily”
AGREEEEE !!!!!
Ternyata skill mahal yang harus di kuasai di usia 20-30an adalah skill mengatur suasana hati dan emosi. Jangan apa-apa di baperin. pls don't expect too much, manusia bisa berubah kapan aja. Hari ini suka, besok bisa tidak. Semua bisa hilang, semua bisa pergi kapan aja.
Jarang banget aku ketemu fans Charles Leclerc asal Indonesia. Akhir-akhir ini yang sering aku temui itu fans George Russell, Max Verstappen, atau fans Ferrari secara umum yang nggak fokus ke drivernya.
Makanya disini aku mau ceritain tentang Charles Leclerc, pembalap Formula 1 yang sudah duduk di kursi Scuderia Ferrari sejak 2019.
Charles Marc Hervé Perceval Leclerc lahir pada 16 Oktober 1997 di Monte Carlo, Monako. Ayahnya, Hervé Leclerc (mantan pembalap Formula 3), dan ibunya, Pascale, memperkenalkannya pada dunia balap sejak usia dini.
Pada usia 5 tahun, Charles mulai mengendarai kart di sirkuit Brignoles yang dimiliki keluarga Jules Bianchi, yang kemudian menjadi ayah baptis dan mentor utamanya. Keluarga mereka sangat dekat.
Pada tahun 2005 hingga 2009, Charles mendominasi kejuaraan karting. Ia meraih gelar juara PACA kelas Mini, Kejuaraan Prancis Cadet, serta berbagai gelar regional lainnya.
Namun, biaya karting sangat tinggi. Keluarga Leclerc bukanlah keluarga kaya-raya. Ayahnya pernah berhenti balap karena keterbatasan dana, sementara ibunya bekerja sebagai penata rambut dengan salon kecil. Kakaknya, Lorenzo, harus mengorbankan karir balapnya agar Charles dapat melanjutkan. Adiknya, Arthur, pun harus menghentikan karir balap selama 5 tahun karena keluarga tidak mampu mendukung dua anak sekaligus.
Pada usia 12 tahun, Charles bersama ayahnya menghadap Pangeran Albert II di Istana Monako untuk memohon dukungan finansial bagi karir kartingnya. Kunjungan tersebut mencerminkan kesulitan keuangan yang dihadapi keluarganya.
Meski demikian, pada 2010–2011, Charles meraih gelar termuda Monaco Kart Cup dan juara World Cup KF3.
Krisis dana hampir memaksanya berhenti, hingga Jules Bianchi memperkenalkannya kepada manajer Nicolas Todt. Todt kemudian mengelola karirnya dan membuka jalan menuju Ferrari Driver Academy
Di masa karting, teman sekaligus rival Charles antara lain Pierre Gasly, Anthoine Hubert, serta Max Verstappen.
Mereka tumbuh bersama dalam kompetisi karting Eropa yang ketat. Insiden dengan Verstappen pada 2012 bahkan sempat menyebabkan diskualifikasi bersama.
Pada 2014, Charles melangkah ke Formula Renault 2.0 dan menjadi runner-up di seri Alps. Tahun 2015, ia finis keempat di FIA Formula 3 European Championship dengan status juara rookie. Tahun 2016, ia menjadi juara GP3 Series bersama ART Grand Prix dan bergabung dengan Ferrari Driver Academy. Tahun 2017, ia meraih gelar juara FIA Formula 2 Championship sebagai rookie dengan 7 kemenangan.
Namun, tahun itu juga penuh duka: ayahnya meninggal dunia karena kanker tepat sebelum balapan Baku. Charles sempat berbohong kepada ayahnya bahwa ia telah mendapatkan kontrak Formula 1, lalu memenangi balapan tersebut dan mendedikasikannya untuk sang ayah. Jules Bianchi telah meninggal pada 2015, dan Anthoine Hubert pada 2019.
Debut Formula 1 terjadi pada 2018 bersama Sauber. Ia finis di posisi ke-13 dan meraih gelar Rookie of the Year. Pada 2019, ia bergabung dengan Scuderia Ferrari. Ia mencatat pole position perdana di Bahrain (polesitter termuda kedua dalam sejarah), serta kemenangan perdana di Belgian Grand Prix (Spa) dan Italian Grand Prix (Monza), mengakhiri puasa kemenangan Ferrari di kandang selama 9 tahun. Ia dijuluki “Il Predestinato”.
Musim 2020–2021 penuh tantangan: mobil Ferrari kurang kompetitif dan sering mengalami masalah reliabilitas. Tahun 2022 menjadi musim terbaiknya hingga saat ini, runner-up kejuaraan dunia dengan 3 kemenangan dan 9 pole position, meski strategi tim dan masalah teknis sering menghalangi kemenangan. Pada 2024, ia meraih kemenangan emosional di Monaco Grand Prix (pertama bagi pembalap Monako setelah 93 tahun), serta di Italia dan Amerika Serikat. Pada 2025–2026, ia menjadi rekan setim Lewis Hamilton dan meraih kemenangan di British Grand Prix (kemenangan ke-250 Ferrari sebagai konstruktor).
Untuk Lecfosi yang baca ini, kalo ada info yang ga sesuai bisa dikoreksi ya. ❤️