Menolak narasi/pemikiran LGBT itu TIDAK SAMA dengan menindas/mempersekusi LGBT.
Dokter Tirta ini masih yang pertama. Lu kalo campurin keduanya, bakal repot. Logika lu jadi berantakan.
Sama dengan halnya menolak penormalan merokok itu tidak sama dengan menindas/persekusi para perokok.
Menolak narasi LGBT itu BOLEH dan menjadi hak warga negara.
Mempersekusi LGBT itu baru TIDAK BOLEH karena ada unsur pidana dan membawa bahaya bagi keselamatan orang.
Nah, kaum lu suka nyampur-nyampurin keduanya. Ditentang narasinya dengan "stay normal" langsung ke-trigger, langsung cancel, langsung nge-block. Langsung ngerasa itu serangan ke identitas, jati diri, sehingga menolak narasi LGBT = menolak orangnya juga, alhasil dianggap jadi bagian dari diskriminasi. Padahal di kehidupan sosial masyarakat ga sesederhana itu realitanya!
Kalo ngaku progresif, harusnya budayakan dialog, bangun argumen yang kuat. Kebiasaan buruk penganut ideologi LGBT ini terlalu kuat budaya nge-block/dni nya pada orang yg sekadar berbeda pandangan, sehingga yg muncul kebenciannya aja, bukan dialog.
guys no salty yaa.. kalo misalnya ada uang dingin 200rb mending di investasiin ke bibit atau beli chikuro large royal garlic cream cheese japanese truffle powder spicy level mild sama teazzi deep roast oolong milk tea sugar 30% ice 30% topping soya bean curd aja???? bingung bangetπ
These photos are so beautiful and cool. I almost cried when I saw them ππ₯Ή
I can't imagine if the prewedding photos were real, I would cry so hard because I'm so happy ππππ
They are perfect for each other π₯Ήπ
#YooChae
Cr: sajin.ssi on Threads