Hari terakhir mekdi Kayutangan, yg sebrang PLN beroperasi. Buka sampe jam 12 malam aja hari ini.
Nanti ada baru di Balearjosari sebrang Adiputro.
Apa kenanganmu di sini?
SAYA SIAP BERCERITA TENTANG TRAGEDI DI KANJURUHAN KEMARIN.
SAYA ADA DI LOKASI DAN MELIHAT DENGAN MATA KEPALA SAYA SENDIRI.
JIKA TIDAK PAHAM DENGAN KONDISI YANG ADA DILAPANGAN,HANYA MENGANDALKAN VIDEO DI MEDSOS,MENDING KALIAN DIAM. DARIPADA MENGELUARKAN OPINI KOSONG!
kami memang belum benar2 nyemplung lagi ke muhammadiyah. sudah 10 tahun sejak terakhir kami berkecimpung langsung. tapi selama itu pula kami belajar banyak hal. masih seneng bgt liat kawan2 lama yg istiqamah sampai skrg. seneng bgt liat muhammadiyah sekarang.
esok paginya sehabis subuh, saya dan suami ngobrol ttg buya. kami nangis bareng. dan merenung lagi, lagi dan lagi tentang yg sudah kami lakukan selama ini. kami tu bisa dibilang nikah krn "sepaham" bgt ttg cara "bermuhammadiyah" saat itu.
di hari itu saya mempertanyakan diri sendiri "sudah sekian tahun keputusan itu saya ambil, saya masih belum apa-apa"
tapi ga lama kemudian saya puk puk diri sendiri. "nad, you're doing great. ga ada proses sia2. kamu lagi BELAJAR sekarang"
di hari mendengar kabar buya berpulang, kerjaan saya ambyar. ketika break, selalu liat livestreaming dari masjid gedhe. perasaan campur aduk. patah hati bgt. tapi lega dan seneeeng liat banyak orang datang ke sana mendokana buya. apalagi hari Jumat. masya Allah 😭
tentu saya hanya remahan rempeyek bgt dari ilmu dan kekhikmatan buya terhadap muhammadiyah. tapi, semua nasihat buya tadi betul-betul membuat saya yakin utk mendalami karir yg sekarang. kata kuncinya adalah "impact". dan, masih panjang cita-cita ini semua Allah ridhai. 😭
"jangan mencari hidup di muhammadiyah"
"kader muhammadiyah harus bermanfaat untuk agama dan negaranya dan bahkan dunia"
"muhammadiyah harus hadir dalam memberantas korupsi"
nasihat2 semacam itu yang kental dari buya. terjawantahkan betul dalam perilakunya.
ada dorongan perasaan ingin punya impact yg lebih. selalu ada pertanyaan2 semacam 'bukan hanya ini yg diinginkan para pendiri muhammadiyah'... dan sejenisnya. dan setiap mendengar buya bicara, rasanya kegalauan itu tervalidasi!
saya benar-benar ingat, meski belum dewasa betul, saya mempertanyakan 'apakah betul saya ini bermanfaat seperti yang diajarkan kiyai2 besar di muhammadiyah sebelumnya? apakah cukup semua pengabdian ini?'
jauh sebelumn mengenal dunia kerja dan konten, saya merasakan pergumulan hebat khas anak early 20s. saat itu sedang aktif-aktifnya di salah satu anak organisasi Muhammadiyah. sering banget bikin acara, seminar atau kajian. dan salah sayu fav saya adalah buya.
Buya Syafii selalu datang awal ke Masjid sambil dengerin Azan di Masjid dekat rumahnya.
Semoga menjadi teladan kita semua!
Foto atas karya Ust. @erik_tauvani
tapi selalu ada konsekuensi dr impact sebesar itu. TENTU SAJA DONG YA. dan.... setelah beberapa bulan terus menerus keep up, adaptasi, belajar ga berenti2... bukannya makin enteng, malah... ya begitulah. 🥹
- suami istri saling mendorong untuk kerja ❌
- suami istri salimg mendorong untuk istirahat kerja, liburan dan jalan2 ✅
sampe pas dapet tuga sekolah ada pertanyaan apa hobi mami dan papinya... anak kami menjawab "KERJA"
🙂