Michael Carrick as Man United interim manager so far ๐จโจ
๐๏ธ 7 games in charge
โ 6 wins
๐ฐ 1 draw
๐ 0 defeats
โฝ๏ธ 14 goals scored
๐งฑ 7 goals conceded
๐ Premier League Manager of the Month in January.
We canโt wait to return to India ๐ฎ๐ณ Indonesia ๐ฎ๐ฉ Australia ๐ฆ๐บ South Korea ๐ฐ๐ท and Japan ๐ฏ๐ต as part of our 40th Anniversary Tour in 2026! ๐ค
Check out https://t.co/F0E31hwze6 for more info/ticket links!
Kenapa Pemuka Agama hanya Menjadi Pemadam Kebakaran?
Pernyataan pimpinan ormas Islam yang dipanggil Prabowo seolah tak memberi efek apa-apa. Publik sudah lama melihat ormas-ormas besar ini bukan sekadar โpilar masyarakat,โ tapi bagian dari pemerintah. Maka suara mereka terdengar lebih seperti corong kekuasaan, bukan gema keresahan rakyat. Benarkah demikian?
Pemerintah pun tampak โsalah bacaโ. Yang turun ke jalan, melakukan kekerasan, dan menjarah bukanlah mereka yang terafiliasi dengan ormas Islam. Mengapa ormas Islam yang diminta menenangkan?
Inilah getirnya. Saat ajaran agama gagal memberi inspirasi solutif, para pemuka agama hanya diposisikan seolah sebagai โpemadam kebakaran.โ
Agama semestinya menjadi energi moral untuk perubahan. Kehadiran ulama penting untuk legitimasi, tapi jarang menyentuh akar masalah. Seharusnya sampaikan juga bahwa โkami sudah ingatkan aspirasi umat pada Presiden soal rakyat yang kena PHK, biaya hidup mencekik, arogansi, korupsi merajalela, keadilan menjauh. Presiden pun mengakuinya.โ
Kalimat โNKRI Harga Matiโ pun kerap digaungkan. Namun maknanya mestinya bukan jargon kosong. NKRI harga mati berarti juga berdiri di pihak rakyat. Membela tanah air berarti membela perut, suara, dan harapan rakyat. Jika pemerintah tak lagi menjaga amanat, ulama harus berani mengingatkan akar masalah, bukan sekadar jadi alat penenang suasana.
Yang ditunggu rakyat bukan khutbah pereda luka, tapi seruan yang berani menyingkap sumber derita. Jika agama hanya hadir untuk menenangkan tanpa mengobati akar masalah, wajar bila umat merasa ditinggalkan.
Imam al-Ghazali sudah mengingatkan:
ููุจูุงููุฌูู ูููุฉูุ ุฅููููู ูุง ููุณูุฏูุชู ุงูุฑููุนููููุฉู ุจูููุณูุงุฏู ุงููู ููููููุ ููููุณูุงุฏู ุงููู ูููููู ุจูููุณูุงุฏู ุงููุนูููู ูุงุกูุ ููููููููุง ุงููููุถูุงุฉู ุงูุณูููุกู ููุงููุนูููู ูุงุกู ุงูุณูููุกู ููููููู ููุณูุงุฏู ุงููู ูููููู ุฎูููููุง ู ูููู ุฅูููููุงุฑูููู ู.
โSecara umum, kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan penguasa, dan kerusakan para penguasa disebabkan oleh kerusakan ulama. Seandainya tidak ada hakim dan ulama yang buruk, niscaya kerusakan para penguasa akan berkurang karena mereka takut terhadap penolakan (kritik) dari ulama.โ
Damai dan sejahtera negeri kita ๐๐ป
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Pemerkosan Massal 1998 dan Fadli Zon
Saya berimajinasi membayangkan Bapak Fadli Zon @fadlizon Menteri Kebudayaan RI, menyampaikan hal sebagai berikut
โSebagai Menteri Kebudayaan, saya mewarisi bukan hanya narasi kebesaran bangsa, tetapi juga fragmen sejarah yang menyayat: tragedi pemerkosaan massal pada masa transisi kekuasaan 1998. Kita boleh berdebat soal jumlah korban atau definisi โmassalโ, namun bagi para penyintas, penderitaan itu nyata. Luka mereka bukan statistik. Mereka adalah jiwa-jiwa yang dilukai oleh diam dan kelengahan kita.
Dalam upaya pemerintah menulis ulang sejarah bangsa, episode kelam ini akan kami hadirkan dengan keberpihakan yang tegas kepada perspektif korban. Menulis sejarah bukan sekadar menyusun kronik kekuasaan, tapi membaca batin bangsaโmengakui luka, menandai pelajaran, dan menciptakan ruang pulih. Sejarah tak boleh menjadi propaganda, tetapi harus menjadi cermin: agar anak-anak kita tahu, bahwa bangsa ini pernah terluka, dan memilih untuk tidak melukai lagi.
Dengan penuh kerendahan hati, saya menyampaikan permohonan maaf kepada para korban atas kegagalan negara melindungi mereka. Kita telah gagal menciptakan ruang publik yang aman bagi perempuan. Atas nama pemerintah, saya meminta maaf.
Saya dan Presiden Prabowo berkomitmen bahwa tragedi ini tidak akan terulang. Kita ingin tumbuh sebagai bangsa yang tak hanya cerdas, tapi juga berbelas kasih. Bangsa yang menjadikan empati sebagai pilar kebudayaan dan keadilan sebagai wujud nyata dari kemanusiaan.โ
**
Bisa kan Pak Menteri Fadli Zon? Anda tentu bisa lebih baik lagi dari imajinasi saya. Kami tunggu yahh
Tabik,
Nadirsyah Hosen