Daftar 12 lokasi yang digeledah Polri (Kortas Tipikor bersama Ditreskrimsus Polda Metro Jaya), Rabu, 8 Juli 2026 terkait penyidikan dugaan korupsi pasokan batu bara PLN (blackout Sumatera), Asabri, dan Krakatau Steel:
1. Kafe de’Clan Signature, Jl. Cipete Raya No.63 (Cipete Selatan, Jaksel).
Temuan:
Brankas tersembunyi 3.130.000 SGD
889.965 USD
Rp259.159.000
Total 60 MILIAR
2. Rumah di Sentul City, Kabupaten Bogor.
Temuan:
74 kg emas batangan
USD4.767.300
SGD14.083.800
Rp100.000.000 (disita dari brankas)
Total : 476 MILIAR
kedua kalinya nonton @perunggu__ tetap hangat dan berkesan🤎🥉 baru intro lagu ini abadi udah merinding dan dibikin nangis trs dpt set list walau robek dikit😔☹️
“Ironisnya, mereka menangisi korban tewas, sementara mereka menolak menyebut nama pembunuhnya yaitu para pengusaha yang mengantongi izin palsu dan pejabat yang menutup mata.”💔
Kita melihat angka itu 712 Tewas, 507 Hilang dan kita tahu, itu bukan sekadar statistik. Itu adalah ratusan jiwa yang terenggut oleh lumpur busuk, ribuan keluarga yang hancur, dikubur oleh kegagalan sistematis yang tak pernah mau belajar.
Bayangkan kesunyian yang mencekik itu: lumpur tebal menelan rumah, meninggalkan hanya sisa atap yang menyembul . Di balik angka 507, ada ratusan orang yang masih ditunggu di pinggir sungai yang kini hanya berisi puing. Mereka hilang, tapi kita tahu ke mana mereka pergi: mereka diambil oleh nafsu serakah para pembalak yang dilindungi.
Mereka yang berwenang akan mengumumkan "masa berkabung," mengeluarkan pernyataan belasungkawa resmi yang dingin. Mereka akan berbicara tentang "takdir" dan "bantuan logistik." Ironisnya, mereka menangisi korban tewas, sementara mereka menolak menyebut nama pembunuhnya yaitu para pengusaha yang mengantongi izin palsu dan pejabat yang menutup mata.
Duka ini adalah kontrak mati yang ditandatangani oleh pemangku kebijakan di balik meja mewah.
Kita, sebagai rakyat, hanya bisa berduka dan merangkul sisa-sisa yang tertinggal. Kita terpaksa menerima kenyataan pahit ini: negara hadir dalam wujud upacara pemakaman, tapi absen saat hutan dibabat. Kita sedih, tapi juga marah tak berdaya. Karena kita tahu, duka ini akan terulang lagi, selama impunitas bagi perusak hutan tetap dilestarikan.
Kami berduka atas nyawa yang hilang, dan kami mengutuk sistem yang merampas hak mereka untuk hidup.