Ini siapa sih yg approve 2 big events di Jakarta di hari yg sm? 😭 Tolol bgt, masa gbs baca situasi?
Kalau datengin international artist, ya jelas bakal byk WNA yg dateng, dan culture mereka suka minum sblm event / pre-party.
Gila, roadblock buat event marathon mulai jam 3 pagi, pdhl jam segitu byk org yg bubaran dari bar.
Jd nya bikin kita muter2 SCBD pake Bluebird sampe argo nya tembus 100K cuma buat cari jalan yg bisa dilewatin 🤣
Gue tuh kadang heran sama kita sendiri. Duit di rekening tinggal 50 ribu, harga beras naik udah pusing, anak butuh ini-itu mikirnya setengah mati, besok masih harus kerja buat nyambung hidup. Tapi begitu ada berita orang kaya raya punya lahan ratusan ribu hektare, kita malah sibuk ngebelain dia mati-matian.
Lah, emang dia saudara lo?
Ini yang menarik. Ada orang yang hidupnya udah susah, tapi kalau idolanya dikritik, reaksinya kayak harga diri keluarganya yang diinjak-injak. Langsung panas, langsung nyerang, langsung nuduh orang lain iri. Padahal yang dikritik itu bukan bapaknya, bukan suaminya, bukan orang yang tiap hari ngasih dia makan. Cuma tokoh yang dia dukung.
Kita ini kadang miskin bukan cuma soal duit, tapi juga terlalu gampang bikin orang lain jadi bagian dari harga diri kita.
Coba bayangin, ada angka 340 ribu hektare yang pernah disebut dalam debat Pilpres 2019. Kalau dibandingkan sama luas Jakarta, itu sekitar lima kali lipat. Memang, angka itu merujuk pada lahan yang dikuasai melalui hak atau konsesi, bukan berarti semuanya kebun sawit produktif milik pribadi. Tapi justru karena angkanya segede itu, wajar dong kalau orang bertanya?
Eh, belum juga pertanyaannya dijawab tuntas, sebagian orang udah sibuk pasang badan. Ada yang bilang iri, ada yang bilang dengki, ada yang bawa-bawa jasa, bahkan ada yang langsung nyerang balik.
Lho, emang kalau seseorang pernah berjasa, terus semua hal tentang dia otomatis nggak boleh dipertanyakan?
Kalau gue pernah nolong lo sekali, apa berarti besok gue bebas ngelakuin apa aja tanpa boleh dikritik? Ya enggak, dong. Jasa tetap jasa, kesalahan tetap kesalahan. Dua hal itu bisa ada bersamaan.
Masalahnya, kita sering kali nggak sadar kalau kita udah terlalu terikat sama sosok yang kita dukung. Akhirnya, apa pun yang dia lakuin selalu dicari pembenarannya. Kalau lawan politik punya kekayaan, kita curiga. Kalau idola sendiri punya kekayaan, kita bangga. Kalau lawan bikin kesalahan, kita tuntut tanggung jawab. Kalau idola sendiri bikin kesalahan, kita malah sibuk nyari alasan.
Standar kita berubah cuma gara-gara nama orangnya beda.
Dan yang lebih lucu, kita sampai rela berantem berjam-jam di Facebook, saling maki di kolom komentar, musuhan sama teman sendiri, cuma buat ngebela orang yang bahkan nggak tahu kita ini siapa.
Sementara orang yang kita bela? Ya hidupnya jalan terus. Punya aset, punya bisnis, punya urusan sendiri. Nggak tahu ada si A sama si B yang lagi ribut sampai keluar kata-kata kasar demi membela namanya.
Besok pagi kita tetap harus bangun kerja. Tetap mikirin harga kebutuhan pokok. Tetap ngitung uang belanja. Tetap pusing kalau ada kebutuhan mendadak.
Kita berantem gratis, orang yang kita bela tetap kaya. Kita kehilangan teman, dia bahkan nggak tahu kita habis berantem.
Gue bukan bilang orang kaya itu salah. Bukan juga berarti kita nggak boleh mendukung Prabowo atau siapa pun yang kita suka. Silakan dukung. Silakan kagum. Silakan bangga kalau memang ada hal baik yang dia lakukan.
Tapi jangan sampai rasa kagum itu bikin otak kita berhenti bekerja.
Kalau datanya salah, bantah pakai data. Kalau tuduhannya nggak benar, luruskan faktanya. Tapi kalau ada pertanyaan yang memang masuk akal, ya jawab. Nggak perlu langsung ngamuk seolah-olah orang yang bertanya itu musuh negara.
Toh, yang ditanyakan juga bukan berapa kali dia makan sehari atau warna celana dalamnya apa. Ini soal penguasaan lahan dalam skala luar biasa besar, yang memang layak dibahas secara terbuka. Apalagi kalau menyangkut sumber daya alam dan kepentingan publik.
Kita ini rakyat. Tugas kita bukan jadi tim pembela pribadi pejabat atau pengusaha. Kita punya hak buat tahu, punya hak buat bertanya, dan punya hak buat mengkritik.
Jangan sampai karena terlalu sibuk membela seseorang, kita malah lupa membela kepentingan kita sendiri.
Ingat, lo boleh jadi penggemar seseorang, tapi jangan sampai lo jadi korban fanatisme sendiri.
Tanpa minum, manusia hanya bisa hidup selama 3 hari. Tapi, tanpa mata, telinga, otak, dan hati, manusia bisa hidup sampai 75 tahun. Jika tidak percaya, lihat saja Prabowo.
Mohon maaf, tapi pemerintah sekarang itu menurut saya paling adil. Coba liat daerah mana yang pernah diperhatikan, pasti tidak ada. Semua diperlakukan sama.
lagi ngurusin servis mobil bos ku, pas keluar invoice BERGETAAAARRRRR merontaa rontaaa kemiskinann gueeee 😭😭😭😭😭
sampee mikir kok bisaa servis mobil bisa sampe segini gakuaaaaaaatt duniawi ini 😭
UPDATE: Konglomerat Hermanto Tanoko membeli lahan 600 hektar Taman Dayu di Pasuruan setelah istrinya dilarang mengambil foto dikawasan tersebut oleh satpam