Sayangnya emang kita gabisa replicating historical success sama persis. Timing, kondisi pasar, teknologi, dan sekian banyak konteks yang gak akan pernah sama lagi.
Kalo kalian lulus kuliah tahun 2019, kalian adalah generai yg paling beruntung. Banyak ekspansi start-up gila-gilaan. Minimal intern di start-up walau gaji sebulan cuma 1/2 UMR tapi benefit luber. Mau job hopping juga gampang.
Kalo kalian lulus tahun 2021, kalian gak seberuntung lulusan 2019. Start-up masih berkembang. Tapi tech-winter mulai datang.
Kalo kalian lulus tahun 2022, cuma selisih 1 tahun dari 2021 lho padahal. Tapi kerasa banget degradasi opportunity. Banyak orang kena layoff. Tech winter bener-bener kejadian.
Lulus tahun 2023? Kena geprek bos. Saingan lu orang-orang yang masih kuliah tapi udah punya experience mentereng karena Kampus Merdeka. Meanwhile lu baru lulus tapi gak punya pengalaman apa-apa.
Lulus tahun 2025? Banyak perusahaan organisasinya makin lean. Teknologi makin murah. Daripada bikin divisinya, banyak yang memutuskan pakai vendor. Pekerja lepas / outsource tapi gaji ngepas lebih preferrable.
Aku lulus 2021 lanjut kerja sampai awal tahun 2026.
Selama hampir 5 years of experience, karirku cepet. Aku cabut di kerjaan terakhirku dengan tittle manager. Aku sempat kerja di top startup & fmcg indo. Gajiku bisa hit 50juta gross sebulan sebelum aku usia 26 tahun. Kalo kalian lulus di tahun dan punya horizon yang sama kayak aku, taktik "yang penting perusahaannya, bukan jabatan atau gajinya" itu mungkin masih make sense. Saran ikut bootcamp itu pasti masih make sense.
Tapi kalo kalian baru akan lulus atau baru lulus, i don't think the same advice would work for your generations.
At this point adek gw yang belum lulus kuliah tapi cita-citanya jadi juragan cabe (literally dia ngomong pengen jadi juragan cabe) jauh lebih visioner menurut gw daripada kerja di company mentereng. Karena competitiveness sama efficiency threats di workplaces seserius itu skrg.
Walau konteks gak lagi sama, walau misal gw kalo jadi fresh graduate tahun ini juga belum tentu bisa replicating my past success... blueprint sukses lintas generasi itu selalu sama: jadi tahan banting dan cepet.
Jangan capek upgrade diri walau requirements kerja makin gak tau diri. Meski perusahaan makin susah digapai, siapa tahu nasib lu lu semua bukan buat jadi pegawai. Never ever ever stop, walau banyak isu sistemik. You're gonna make it. Jangan capek, semangat.
ini saya dapat dari instagram riza sendiri. mungkin nama riza tidak sebesar nama cast-cast coc lainnya, tapi tentu riza tidak kalah hebat dari mereka. jujur waktu lihat postingan riza yang ini saya betulan sekagum itu sama dia.
great job riza, doa paling baik untuk kamu pokoknya!
Yaya saya setuju. Minimal banget
1. Konsisten top 3 di kelas
2. SD SMP gold IJSO tiap tahun
3. SMA gold IMO, IPhO, IBO tiap tahun
4. Kuliah wajib di harvard, GPA konsisten 4, menang minimal 3 hackathon per semester
5. Kerja wajib di Jane Street
Kl ga gitu dicambuk aja
@tanyarlfes Tp enak yang nyambung tp ngga nyambung gitu gasi, misal fisip-stem jadi hukum-kedokteran, bio-teologi, jadi bisa saling memberi insight (lebih ke temen si tp bayanganku)
Sekolah negeri gratis tapi budget ikut pemerintah. Kalo mau maju, komite iuran sendiri tapi gak boleh ada satu pun yg merasa dipaksa. Bisa? Dulu ortu yg ambis kumpul jadi satu, sekarang gabung dgn ortu2 yg baru sekolahin anak ke SD usia 10 tahun.
Indonesia is middle class hell.
Bayangken, ada banyak ortu voter 02 yang kebawa narasi buzzer perihal kampus-kampus top ini karena mahasiswanya turun ke jalan dan melakukan perlawanan pada negara.
Lalu mereka (para ortu) dengan sok bijaknya mengambil kesimpulan bahwa anaknya yang kini duduk di bangku SMA tidak akan pernah mereka support untuk melanjutkan studinya di kampus-kampus ini.
Jika kita betulan diantarkan oleh negara untuk sampai di titik seperti itu, fix, negara telah mendatangkan kiamat lebih awal.
Kiamat itu bernama kebodohan akut.
in another life gua adalah cewe cewe hits nan pintar alumni man ic atau penabur atau sekolah bagus lainnya, jadi medalist osn, ikut pelatnas, jadi perwakilan indo serta medalist icho imo ipho atau i i lainnya yang waktu difoto sambil menganukan bendera indonesia dipundak
Jadi si Nusron ditanya kenapa menggusur warga Papua, lalu mereka mengajak mahasiswa ke Merauke biar liat siapa warga yang digusur.
Ya mahasiswa bingung lah, kenapa harus kesana memangnya kita relawan. Kenapa ga dijelasin aja kebijakannya, kenapa harus menggusur dll, katanya mau dialog tapi malah ngajak jalan-jalan. Wajar mahasiswa pada emosi, bukannya menjawab malah ngeles.
Tipikal politisi bodoh gabisa menjawab kebijakan sendiri ya begini.
ini efek samping program MBG. Alokasi anggaran untuk pendidikan tinggi dikurangi buat program gjls itu akhirnya kampus kek UGM, ITB, dan UI harus cari cara nambah pundi-pundi uang. salah satunya dengan malakin maba lewat peningkatan UKT.
Nelen ego itu lebih tajam daripada nelen ratusan jarum, mengakui bahwa diri kita sebenarnya bodoh itu butuh effort mental yang besar.
Kalau kalian berargumen, "Tapi, dia belajar UTBK cuman sebulan, dapet Top 3."
Bro u r not him 😭🙏🏻
kapabilitas kalian dengan "dia" beda.